Senin, 01/06/2009
JAKARTA: Tim peneliti ritel Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menilai pemerintah pusat dan daerah harus mengerem pertumbuhan hipermarket untuk menekan kanibalisasi pasar, menyusul tingginya ekspansi toko modern terbesar tersebut.Menurut Rizal Halim, peneliti ritel FE UI, relatif tidak adanya perbedaan jenis barang di toko modern serta toko tradisional, menyebabkan telah terjadinya penggerogotan pangsa pasar ritel oleh hipermarket."Pemerintah daerah kebablasan memberi izin beroperasinya hipermarket, sehingga jumlahnya kelebihan dan menyebabkan terjadi kanibalisasi pasar karena jenis barang yang dijual sama," kata Rizal kepada Bisnis, pekan lalu.Longgarnya izin yang diberikan pemerintah daerah, katanya, mendukung strategi peritel hipermarket yang berupaya melakukan strategi menambah toko sebanyak-banyaknya dalam waktu singkatEkspansi yang tinggi itu juga terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan FE UI . Hasil penelitian menunjukkan pertambahan penduduk paling direspons oleh hipermaket. Hal itu ditunjukkan dengan penambahan gerai ritel besar itu terbanyak dibandingkan dengan minimarket, supermarket, department store, apalagi pasar tradisional yang malah jumlahnya terus menyusut.Dengan metoda regresi logaritma penelitian FE UI menunjukkan setiap ada pertumbuhan penduduk 1% menyebabkan bertumbuhnya hipermarket 14,6%, minimarket 12,4%, supermarket 7,3%, dan toko tradisional 2,3%."Hipermarket sangat gencar memasuki pasar, sehingga jumlahnya menjadi padat di satu wilayah. Misalnya, di wilayah Lebak Bulus. Sebenarnya dengan satu hipermarket Carrefour sudah mampu melayani penduduk di Jakarta Selatan, tetapi kemudian ada hipermarket Giant di seberangnya," kata Rizal.Harga murahKarena berlebihnya jumlah toko di satu wilayah, jelasnya, menyebabkan terjadi kanibalisasi pasar antartoko modern. Strategi yang dinilai paling efisien adalah dengan berkompetisi memberikan harga lebih murah.Akibatnya yang bermodal lebih kecil terutama toko tradisional tidak mampu untuk bersaing. Hal ini disebabkan untuk mampu menjual dengan harga lebih murah, peritel harus melakukan aksi beli barang lebih banyak dari pemasok sehingga mempunyai kekuatan untuk mendapatkan diskon atau biaya syarat perdagangan yang lebih besar dari kalangan industri.Untuk menekan terjadinya kanibalisasi pasar yang menyebabkan makin terpuruknya usaha toko tradisional, Rizal mengatakan pemerintah dan pemerintah daerah harus satu suara untuk mengerem penambahan toko yang terlalu ekspansif dari hipermarket."Tim planologi harus menghitung berapa jumlah maksimal hipermarket di satu wilayah dalam rencana umum tata ruang [RUTR] dalam jangka 20 tahun ke depan, sehingga tidak ada lagi pemberian izin yang kebablasan jumlahnya," kata Rizal.Tim peneliti ritel FE UI juga melihat akan lebih banyak tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan jika satu pasar tradisional tutup, dibandingkan dengan jika harus kehilangan satu gerai modern. Karena itu mesti ada keberpihakan pemerintah terhadap pasar tradisional.
JAKARTA: Tim peneliti ritel Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menilai pemerintah pusat dan daerah harus mengerem pertumbuhan hipermarket untuk menekan kanibalisasi pasar, menyusul tingginya ekspansi toko modern terbesar tersebut.Menurut Rizal Halim, peneliti ritel FE UI, relatif tidak adanya perbedaan jenis barang di toko modern serta toko tradisional, menyebabkan telah terjadinya penggerogotan pangsa pasar ritel oleh hipermarket."Pemerintah daerah kebablasan memberi izin beroperasinya hipermarket, sehingga jumlahnya kelebihan dan menyebabkan terjadi kanibalisasi pasar karena jenis barang yang dijual sama," kata Rizal kepada Bisnis, pekan lalu.Longgarnya izin yang diberikan pemerintah daerah, katanya, mendukung strategi peritel hipermarket yang berupaya melakukan strategi menambah toko sebanyak-banyaknya dalam waktu singkatEkspansi yang tinggi itu juga terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan FE UI . Hasil penelitian menunjukkan pertambahan penduduk paling direspons oleh hipermaket. Hal itu ditunjukkan dengan penambahan gerai ritel besar itu terbanyak dibandingkan dengan minimarket, supermarket, department store, apalagi pasar tradisional yang malah jumlahnya terus menyusut.Dengan metoda regresi logaritma penelitian FE UI menunjukkan setiap ada pertumbuhan penduduk 1% menyebabkan bertumbuhnya hipermarket 14,6%, minimarket 12,4%, supermarket 7,3%, dan toko tradisional 2,3%."Hipermarket sangat gencar memasuki pasar, sehingga jumlahnya menjadi padat di satu wilayah. Misalnya, di wilayah Lebak Bulus. Sebenarnya dengan satu hipermarket Carrefour sudah mampu melayani penduduk di Jakarta Selatan, tetapi kemudian ada hipermarket Giant di seberangnya," kata Rizal.Harga murahKarena berlebihnya jumlah toko di satu wilayah, jelasnya, menyebabkan terjadi kanibalisasi pasar antartoko modern. Strategi yang dinilai paling efisien adalah dengan berkompetisi memberikan harga lebih murah.Akibatnya yang bermodal lebih kecil terutama toko tradisional tidak mampu untuk bersaing. Hal ini disebabkan untuk mampu menjual dengan harga lebih murah, peritel harus melakukan aksi beli barang lebih banyak dari pemasok sehingga mempunyai kekuatan untuk mendapatkan diskon atau biaya syarat perdagangan yang lebih besar dari kalangan industri.Untuk menekan terjadinya kanibalisasi pasar yang menyebabkan makin terpuruknya usaha toko tradisional, Rizal mengatakan pemerintah dan pemerintah daerah harus satu suara untuk mengerem penambahan toko yang terlalu ekspansif dari hipermarket."Tim planologi harus menghitung berapa jumlah maksimal hipermarket di satu wilayah dalam rencana umum tata ruang [RUTR] dalam jangka 20 tahun ke depan, sehingga tidak ada lagi pemberian izin yang kebablasan jumlahnya," kata Rizal.Tim peneliti ritel FE UI juga melihat akan lebih banyak tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan jika satu pasar tradisional tutup, dibandingkan dengan jika harus kehilangan satu gerai modern. Karena itu mesti ada keberpihakan pemerintah terhadap pasar tradisional.
Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar