JAKARTA: Neraca perdagangan Indonesia pada April 2009 mencatatkan surplus US$2,08 miliar, atau lebih baik dari kinerja bulan yang sama tahun lalu yang justru mengalami defisit US$520 juta.Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan terjadinya surplus dalam neraca perdagangan April tahun ini disebabkan oleh penurunan nilai impor yang lebih tajam dibandingkan dengan penurunan nilai ekspor.Bahkan, surplus perdagangan selama 4 bulan pertama tahun ini menembus angka US$6,01 miliar yang dihasilkan dari selisih catatan ekspor Januari-April US$31,49 miliar dengan nilai impor US$25,48 miliar.“Surplus terjadi karena penurunan impor jauh lebih tajam dibandingkan dengan ekspor. Ini berarti memberi sinyal dalam neraca pembayaran Indonesia akan ada kenaikan pada cadangan devisa,” tuturnya kemarin.Rusman menyebutkan nilai ekspor Indonesia pada April memang turun, yaitu sebesar 1,81% dibandingkan dengan Maret menjadi US$8,46 miliar. Bila dibandingkan dengan April 2008, juga turun 22,5%.Penurunan ekspor April disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas 1,74% yaitu dari US$7,33 miliar menjadi US$7,21 miliar. Ekspor migas juga mengalami penurunan 2,21% dari US$1,281 miliar menjadi US$1,253 miliar.Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-April 2009 yang mencapai US$31,49 miliar menunjukkan penurunan 29,51% dibandingkan dengan periode sama 2008, sedangkan ekspor nonmigas US$26,90 miliar atau turun 22,68%.“Selama 4 bulan pertama 2009, penurunan ekspor nonmigas lebih rendah dibandingkan dengan penurunan ekspor secara umum. Artinya, penurunan ekspor migas lebih tajam dibandingkan dengan nonmigas karena harga minyak mentah dunia dari Januari hingga April juga rendah.”Mulai pulihDi tempat terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan posisi cadangan devisi per akhir Mei 2009 telah menunjukkan pemulihan terutama sejak Oktober 2008 yang mengalami tekanan tinggi akibat adanya persepsi risiko krisis ekonomi global.“Penurunan paling tinggi Juli 2008 yang turun sekitar US$50-an miliar. Sekarang sudah mulai naik lagi yaitu pada kisaran US$57,9 miliar,” katanya dalam rapat dengan Panitia Anggaran DPR, kemarin.Menurutnya, dalam 5 bulan terakhir kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional sudah mulai pulih terutama adanya tanda-tanda pemulihan perekonomian global.“Kalau kita lihat dua indikator, harga saham maupun nilai tukar rupiah 5 bulan terakhir mengalami perbaikan dan cukup konsisten,” jelasnya.Arus modal luar negeri, lanjutnya, pada Maret dan April 2009 juga sudah mulai kembali masuk, setelah 2 bulan pertama tahun ini mengalami situasi yang tidak baik.BPS mencatat selama 4 bulan pertama tahun ini ekspor ke kawasan menurun secara merata. Penurunan terdalam terjadi ke Asean, untuk nonmigas turun 28,3%, Jepang 28,9%, AS 22,8%, dan UE 20,4%, China 21,3%. (16)
Oleh Achmad Aris & Dewi Astuti
Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar