Kamis, 04 Juni 2009

Gaya Komunikasi Kandidat Pilpres pada Masa Awal Kampanye

Tonjolkan Bandara, Cucu, hingga Pulau yang Tenggelam PERKIRAAN bahwa begitu kampanye dimulai para capres langsung berlomba beriklan di media massa ternyata tidak terjadi. Pada hari pertama masa kampanye tanggal 2 Juni 2009, misalnya, hanya JK-Wiranto yang pasang iklan satu halaman di surat kabar-surat kabar. Temanya ''mohon doa restu" dengan menampilkan gambar JK dan Wiranto masing-masing dengan istri yang berjilbab.Maksud iklan itu pun gampang dimafhumi. Bertahan sekaligus menyerang. Di sisi bertahan, iklan itu untuk mengimbangi SBY-Boediono yang mengesankan memiliki keluarga yang harmonis. Keluarga JK-Wiranto pun harmonis. Dari segi kepentingan untuk "menyerang", iklan JK-Wiranto itu pun bisa disebut ofensif. Yakni, dengan cara menonjolkan bahwa istri-istri mereka adalah wanita muslimah-salehah. Itu berbeda dengan istri SBY dan Boediono.Di media televisi, pasangan JK-Wiranto memang memasang dua macam iklan, tapi frekuensinya tidak banyak. Yang satu, iklan mengenai ke­peloporan JK dalam mendorong pemakaian se­patu buatan dalam negeri. Satunya lagi, iklan yang menunjukkan kejengkelan JK mengenai pembangunan bandara-bandara di Jakarta, Surabaya, Padang, Palembang, dan lain-lain yang semuanya sangat mahal dan dikerjakan orang asing.''Untuk pembangunan Bandara Makassar, Medan, dan Lombok, saya larang ada tangan-tangan asing di situ," katanya dalam iklan itu. JK lalu menunjukkan Bandara Makassar yang sudah jadi, yang bentuknya lebih megah, modern, dan biayanya hanya separonya. ***Dari kubu SBY-Boediono, iklan di koran baru muncul sehari kemudian. Itu pun tidak di semua surat kabar. Temanya juga sekadar memperkenalkan diri pasangan SBY-Boediono dengan gambar pasangan ini setengah badan. Dua-duanya mengenakan peci dengan latar belakang montase massa yang membawa berbagai slogan seperti SBY Yes atau Indonesia vote SBY.Jika dibandingkan dengan iklan-iklan semasa pemilu legislatif lalu, iklan pertama SBY-Boediono itu kurang mengesankan. Baik desain maupun misi yang dibawa.Di layar televisi, SBY-Boediono juga memasang dua jenis iklan. Frekuensinya juga tidak sering. Yang satu, hanya ditayangkan beberapa kali, adalah iklan yang lagunya diambilkan dari iklan Indomie itu. Satunya lagi adalah iklan yang menampilkan seluruh keluarga besar SBY. Iklan ini tentu ingin mengesankan bahwa keluarga SBY adalah keluarga yang harmonis, rukun, dan indah. Iklan ini secara visual sangat menarik untuk dilihat dan secara manusiawi sangat mengesankan justru karena menampilkan cucunya yang belum berumur satu tahun dan sedang lucu-lucunya. Inilah iklan yang tentu saja pembuatannya sangat murah karena semua bintangnya keluarga sendiri.***Bagaimana dengan iklan pasangan Mega-Pro? Sampai hari ketiga masa kampanye, belum ada iklan yang muncul di surat kabar. Yang ada baru di televisi yang frekuensinya juga masih jarang.Tema iklan televisinya sangat luas. Mulai utang luar negeri, ekonomi kerakyatan, sampai pendidikan. Akibatnya, iklan itu kurang mengesankan. Bahkan, iklan tersebut jauh kurang mengesankan jika dibandingkan dengan iklan-iklan Prabowo menjelang pemilu legislatif lalu.Tema iklan pasangan ini juga terlalu luas sehingga kurang fokus. Dari seluruh tampilan iklan yang sampai satu menit itu, hanya bagian yang menyangkut utang luar negeri yang sangat mengesankan. Yakni ketika menampilkan peta Asia Tenggara di mana pulau-pulau Indoensia tenggelam pelan-pelan dan akhirnya hilang sama sekali. Bagian ini agak membuat merinding, tapi maksudnya sekadar mengingatkan bahwa Indonesia sudah tenggelam oleh utang.***Perjalanan masa kampanye yang baru tiga hari ini terkesan bahwa para calon masih belum mau mengobral peluru. Terasa masih mengatur irama yang barangkali baru akan habis-habisan di akhir masa kampanye. Bisa juga karena masing-masing masih saling mengintai, tema apa dan tampilan seperti apa yang diluncurkan masing-masing kandidat sehingga cukup waktu untuk menyiapkan jurus tandingannya. (*/agm)
sumber : jawapos.com

Tidak ada komentar: