Senin, 01 Juni 2009 ]
Ferry Siapkan ''Buku Perpisahan'' tentang Aceh Prestasi sebagai ketua Pansus RUU Pemilu Legislatif tak menjadi jaminan bisa terus bertahan sebagai wakil rakyat di DPR. Contohnya adalah Ferry Mursydan Baldan. PRIYO HANDOKO, Jakarta ---Ringan tanpa beban, bicaranya tetap ceplas-ceplos. Ekspresi wajahnya masih ceria, persis seperti biasa. Dengan enteng, Ferry Mursydan Baldan, anggota DPR dari Partai Golkar itu, menyalami sejumlah koleganya. Sejurus kemudian, dia menemui dan sudah terlihat asyik ngobrol bersama para wartawan.Tak ada yang mengira, wakil rakyat yang sangat vokal dan menghuni parlemen sejak 1997 itu harus kalah dalam Pemilu 2009 yang menerapkan sistem suara terbanyak. Padahal, politikus gaek kelahiran 16 Juni 1961 tersebut adalah ketua Pansus RUU Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Undang-undang yang setelah disahkan menjadi panduan pelaksanaan pemilu legislatif 9 April lalu. Bahkan, dia sempat menjadi ketua Pansus RUU Penyelenggara Pemilu yang nanti melandasi pembentukan KPU dan Bawaslu. ''Wajarlah ada perasaan kecewa karena kalah. Tapi, biasa-biasa saja, tidak berlebihan,'' kata Ferry kepada Jawa Pos di sela-sela sidang paripurna DPR, Selasa (27/5). Dalam Pemilu 2009, Ferry maju di dapil Jabar II dan mendapat nomor urut 5. Di dapil tersebut, Golkar ternyata memenangi dua kursi yang diberikan kepada Agus Gumiwang Kartasasmita (63.834 suara) dan Lili Asjudiredja (42.152 suara), sedangkan Ferry mendapat 29.721 suara.Suara yang diperoleh Ferry sebenarnya jauh lebih besar daripada Rachel Mariyam Sayidina (25.540 suara) yang maju dari Gerindra. Begitu pula dengan Theresia E.E. Pardede (21.672) yang maju dari Demokrat. Meski begitu, kedua pendatang baru dari kalangan artis tersebut bisa lolos sebagai wakil rakyat ke DPR.''Sistemnya memang begitu. Dihitung dulu kursi yang dimenangi parpol, terus diberikan kepada calegnya sesuai urutan suara terbanyak. Masak saya memprotes sistem yang saya buat sendiri,'' canda Ferry lantas tersenyum.Dia tidak mendendam kepada elite partai yang telah meletakkan dirinya di nomor tanggung, yakni nomor 5 di antara total 12 caleg yang dipasang Golkar di Jabar II. Meski, dia mengakui psikologis pemilih memang masih memandang lebih caleg di nomor urut 1 dan 2. ''Tidak perlu menyalahkan siapa pun. Mengapa suara Golkar turun, itu yang lebih penting untuk dievaluasi bersama,'' ungkapnya.Dia menuturkan, rahasia di balik ketenangan dirinya adalah kemampuan mengontrol diri selama pemilu. Terutama menyangkut dana kampanye. Karena itu, tak ada alasan untuk stres. ''Saya optimal, tapi tidak jor-joran. Sebatas yang bisa saya lakukan saja,'' ujar alumnus FISIP Unpad yang pernah menjadi ketua umum PB HMI periode 1990-1992 tersebut.Kunci lain adalah keluarga. Ferry menceritakan, keluarganya terus memberi support. Di lain sisi, dia tidak pernah berkeluh kesah secara berlebihan kepada ubah diri. Yang jelas, saya tetap di politik,'' tegasnya. Dia menyatakan saat ini dirinya memperkuat tim sukses JK-Wiranto. Setelah itu, ungkap dia, dirinya akan membangun partai agar bisa tampil dengan lebih baik pada Pemilu 2014. Dia memastikan tidak akan meninggalkan Golkar. ''Kalau trennya lagi turun begini, terus tidak ada langkah-langkah untuk menaikkan, itu berbahaya bagi parpol. Kalau sampai Golkar turun lagi pada 2014, ya habis,'' ujarnya.Ferry sudah menjadi wakil rakyat periode 1992-1997 sebagai anggota MPR dari unsur pemuda dan mahasiswa. Karir yang moncer membuat dirinya terpilih sebagai anggota DPR dalam Pemilu 1997. Saat Pemilu 1999, dia kembali terpilih dan terus bertahan pada Pemilu 2004.Ferry berharap pada sisa jatah waktunya di DPR bisa merampungkan pembahasan RUU Keistimewaan Jogjakarta. Sebab, sebelumnya dia menuntaskan pembahasan UU Otonomi Khusus untuk Papua, UU DKI Jakarta, dan UU Pemerintahan Aceh. ''Biar lengkap untuk semua daerah yang spesial di Indonesia,'' kata anggota komisi II itu.Diam-diam, dia juga sudah menyiapkan sebuah buku mengenai pembahasan RUU Pemerintahan Aceh dalam konteks proses perdvamaian Aceh. ''Banyak cerita di balik layar yang belum terungkap ke media dan publik. Tinggal di-launching,'' ujarnya. Salah satu ceritanya mengenai politikus senior PDIP, almarhum Sutradara Gintings. Ferry menyatakan sangat kehilangan sahabat yang sering berdebat keras dengan dirinya saat pembahasan RUU Pemerintahan Aceh itu. Misalnya, menyangkut parpol lokal yang sangat ditentang Gintings. Sebab, Gintings khawatir parpol lokal di Aceh justru akan menjadi instrumen politik yang mengembangkan sentimen ras dan etnis. Padahal, NKRI adalah negara yang dibentuk dari kemajemukan. (agm)
Ferry Siapkan ''Buku Perpisahan'' tentang Aceh Prestasi sebagai ketua Pansus RUU Pemilu Legislatif tak menjadi jaminan bisa terus bertahan sebagai wakil rakyat di DPR. Contohnya adalah Ferry Mursydan Baldan. PRIYO HANDOKO, Jakarta ---Ringan tanpa beban, bicaranya tetap ceplas-ceplos. Ekspresi wajahnya masih ceria, persis seperti biasa. Dengan enteng, Ferry Mursydan Baldan, anggota DPR dari Partai Golkar itu, menyalami sejumlah koleganya. Sejurus kemudian, dia menemui dan sudah terlihat asyik ngobrol bersama para wartawan.Tak ada yang mengira, wakil rakyat yang sangat vokal dan menghuni parlemen sejak 1997 itu harus kalah dalam Pemilu 2009 yang menerapkan sistem suara terbanyak. Padahal, politikus gaek kelahiran 16 Juni 1961 tersebut adalah ketua Pansus RUU Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Undang-undang yang setelah disahkan menjadi panduan pelaksanaan pemilu legislatif 9 April lalu. Bahkan, dia sempat menjadi ketua Pansus RUU Penyelenggara Pemilu yang nanti melandasi pembentukan KPU dan Bawaslu. ''Wajarlah ada perasaan kecewa karena kalah. Tapi, biasa-biasa saja, tidak berlebihan,'' kata Ferry kepada Jawa Pos di sela-sela sidang paripurna DPR, Selasa (27/5). Dalam Pemilu 2009, Ferry maju di dapil Jabar II dan mendapat nomor urut 5. Di dapil tersebut, Golkar ternyata memenangi dua kursi yang diberikan kepada Agus Gumiwang Kartasasmita (63.834 suara) dan Lili Asjudiredja (42.152 suara), sedangkan Ferry mendapat 29.721 suara.Suara yang diperoleh Ferry sebenarnya jauh lebih besar daripada Rachel Mariyam Sayidina (25.540 suara) yang maju dari Gerindra. Begitu pula dengan Theresia E.E. Pardede (21.672) yang maju dari Demokrat. Meski begitu, kedua pendatang baru dari kalangan artis tersebut bisa lolos sebagai wakil rakyat ke DPR.''Sistemnya memang begitu. Dihitung dulu kursi yang dimenangi parpol, terus diberikan kepada calegnya sesuai urutan suara terbanyak. Masak saya memprotes sistem yang saya buat sendiri,'' canda Ferry lantas tersenyum.Dia tidak mendendam kepada elite partai yang telah meletakkan dirinya di nomor tanggung, yakni nomor 5 di antara total 12 caleg yang dipasang Golkar di Jabar II. Meski, dia mengakui psikologis pemilih memang masih memandang lebih caleg di nomor urut 1 dan 2. ''Tidak perlu menyalahkan siapa pun. Mengapa suara Golkar turun, itu yang lebih penting untuk dievaluasi bersama,'' ungkapnya.Dia menuturkan, rahasia di balik ketenangan dirinya adalah kemampuan mengontrol diri selama pemilu. Terutama menyangkut dana kampanye. Karena itu, tak ada alasan untuk stres. ''Saya optimal, tapi tidak jor-joran. Sebatas yang bisa saya lakukan saja,'' ujar alumnus FISIP Unpad yang pernah menjadi ketua umum PB HMI periode 1990-1992 tersebut.Kunci lain adalah keluarga. Ferry menceritakan, keluarganya terus memberi support. Di lain sisi, dia tidak pernah berkeluh kesah secara berlebihan kepada ubah diri. Yang jelas, saya tetap di politik,'' tegasnya. Dia menyatakan saat ini dirinya memperkuat tim sukses JK-Wiranto. Setelah itu, ungkap dia, dirinya akan membangun partai agar bisa tampil dengan lebih baik pada Pemilu 2014. Dia memastikan tidak akan meninggalkan Golkar. ''Kalau trennya lagi turun begini, terus tidak ada langkah-langkah untuk menaikkan, itu berbahaya bagi parpol. Kalau sampai Golkar turun lagi pada 2014, ya habis,'' ujarnya.Ferry sudah menjadi wakil rakyat periode 1992-1997 sebagai anggota MPR dari unsur pemuda dan mahasiswa. Karir yang moncer membuat dirinya terpilih sebagai anggota DPR dalam Pemilu 1997. Saat Pemilu 1999, dia kembali terpilih dan terus bertahan pada Pemilu 2004.Ferry berharap pada sisa jatah waktunya di DPR bisa merampungkan pembahasan RUU Keistimewaan Jogjakarta. Sebab, sebelumnya dia menuntaskan pembahasan UU Otonomi Khusus untuk Papua, UU DKI Jakarta, dan UU Pemerintahan Aceh. ''Biar lengkap untuk semua daerah yang spesial di Indonesia,'' kata anggota komisi II itu.Diam-diam, dia juga sudah menyiapkan sebuah buku mengenai pembahasan RUU Pemerintahan Aceh dalam konteks proses perdvamaian Aceh. ''Banyak cerita di balik layar yang belum terungkap ke media dan publik. Tinggal di-launching,'' ujarnya. Salah satu ceritanya mengenai politikus senior PDIP, almarhum Sutradara Gintings. Ferry menyatakan sangat kehilangan sahabat yang sering berdebat keras dengan dirinya saat pembahasan RUU Pemerintahan Aceh itu. Misalnya, menyangkut parpol lokal yang sangat ditentang Gintings. Sebab, Gintings khawatir parpol lokal di Aceh justru akan menjadi instrumen politik yang mengembangkan sentimen ras dan etnis. Padahal, NKRI adalah negara yang dibentuk dari kemajemukan. (agm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar