Senin, 01 Juni 2009

Private label impor dikeluhkanProduk merek toko impor menipu konsumen

Selasa, 02/06/2009
JAKARTA: Aliansi pemasok mengeluhkan toko modern yang mendapatkan produk merek toko (private label) dari produsen luar negeri untuk mendapat keuntungan besar meski barang sejenis mampu dibuat di Indonesia.Menurut juru bicara Aliansi 9 Asosiasi Haniwar Syarif pihaknya juga mengkhawatirkan produk merek toko yang dibuat di luar negeri tersebut bisa menyesatkan semangat mencintai produk dalam negeri yang dicanangkan pemerintah. Konsumen berpikir barang yang dibeli produk dalam negeri karena bermerek toko, ternyata produk impor."Kami mensinyalir ada peritel membuat private label dari produsen luar negeri, padahal produk itu sudah bisa dibuat atau tersedia di Indonesia. Ini merupakan penjelmaan sikap yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat Indonesia, khususnya produk dalam negeri," katanya kepada Bisnis, kemarin.Dia mengatakan saat ini peritel modern cenderung untuk mencari pasokan produk yang diberi merek milik toko sendiri dari berbagai negara, demi mendapatkan harga paling murah yang bisa memberi keuntungan bahkan mencapai 45%.Tender internasionalSelain itu, tambahnya, ada juga sekelompok peritel modern yang membentuk kantor pembelian yang melakukan tender internasional, sehingga pemasok dari berbagai negara saling bersaing menawarkan harga termurah. Hal ini mengingat private label adalah produk paling murah di jenisnya yang dijual di satu merek toko modern."Akibat dilakukannya tender internasional tersebut, menyebabkan yang kalah bersaing adalah negara dari dunia ketiga akibat produsennya menghadapi ekonomi biaya tinggi," kata Haniwar.Dalam kesempatan terpisah Ketua Umum Forum Kemitraan Usaha Pangan Indonesia (Fokus Pangan) Deden Arfianto mengungkapkan saat ini pemasok tidak hanya bersaing dengan rivalnya di dalam negeri, tetapi juga dari negara lain, terutama untuk jenis produk laris seperti makanan.Upaya peritel mendapatkan harga barang berkualitas dengan produk pang murah dari berbagai negara, memaksa pemasok dalam negeri harus berkompetisi dengan produsen dari Vietnam dan China."Contoh ada peritel yang menjual buah impor meski jenisnya bisa diperoleh di sini. Alasannya karena buah impor lebih murah sekalipun pemerintah menetapkan tarif bea masuk dibandingkan dengan membelinya dari Indonesia," kata Deden.Sementara itu Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi Lukman mengakui memang saat ini bermunculan agen pembelian (buying agent) di dunia, untuk mencari pasokan bagi produk merek toko ritel modern.Adhi mengatakan umumnya yang saat ini dicari pasokannya dari berbagai negara di dunia oleh untuk merek toko modern adalah buah-buahan segar, dan produk dalam kemasan seperti makanan ringan."Karena itu, kami minta pemerintah memantau dan mengatur berapa persen maksimal produk private label di satu toko modern. Semua ini untuk menciptakan persaingan yang kondusif bagi pabrikan dalam negeri termasuk industri kecil dan menengah," kata Adhi. (linda.silitonga@bisnis. co.id)Oleh Linda T. SilitongaBisnis Indonesia

Tidak ada komentar: