Minggu, 31 Mei 2009

Jabat tangan jelang laga pilpres

Sesungguhnya, jabat tangan adalah sopan santun standar dan hal biasa. Jabat tangan menjelang pertandingan atau laga juga telah menjadi tradisi di dunia olahraga. Jabat tangan sekaligus mencerminkan sportivitas dan keikhlasan, bila yang satu lebih unggul dari yang lainnya.
Kendati begitu, jabat tangan antara Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri yang terjadi di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Sabtu lalu, tetap terasa menarik. Tak ayal peristiwa itu menyedot perhatian tersendiri.
Bukan rahasia lagi, hubungan Megawati-Yudhoyono sudah 'tak mesra' sejak akhir 2003, tatkala SBY mundur dari jabatan Menko Polkam di Kabinet Gotong Royong dan akhirnya ikut berlaga di Pilpres 2004. Saat itu Megawati adalah presiden.
Tidak terlalu jelas apa pasal hubungan atasan-bawahan itu menjadi renggang. Yang pasti, Presiden Megawati waktu itu tampak tak nyaman dengan manuver SBY, yang kemudian maju di pilpres, dan akhirnya terpilih menjadi presiden dengan menggandeng Jusuf Kalla (yang juga mengundurkan diri sebagai Menko Kesra) sebagai wapres.
Saat Yudhoyono-Kalla dilantik sebagai presiden-wapres untuk periode 2004-2009 pada 20 Okotober 2004 di Gedung MPR, Megawati tak hadir. Begitu pun di berbagai acara kenegaraan di masa kepresidenan Yudhoyono, Megawati selalu absen, misalnya upacara 17 Agustus di Istana Merdeka.
Perjumpaan fisik, face to face, antara Megawati-Yudhoyono tak pernah terjadi lagi. Meski keduanya menyangkal ada persoalan, publik tahu bahwa di antara dua anak manusia ini ada ganjalan. Selama 4 tahun lebih hubungan yang sangat dingin itu terjadi, yang membuat sebagian pihak merasa perlu menyerukan agar sesama tokoh atau elite politik mestinya menjaga silaturahmi.
Toh, aneka seruan itu tak mendapat respons. Megawati-Yudhoyono tetap 'jauh'. Bahkan ketika Megawati belakangan mulai dekat lagi dengan Kalla menjelang dan setelah pemilu legislatif lalu, SBY hanya 'berhasil' mengirim utusan khusus untuk menemui Megawati. Nama utusan khusus itu adalah Hatta Rajasa, Mensesneg yang notabene adalah Wakil Ketua Majelis Pertimbangan Partai DPP Partai Amanat Nasional (PAN).
Lewat Hatta-lah-dan bukan kader Partai Demokrat-SBY bisa menjalin 'komunikasi' dengan Megawati. Beberapa kali Hatta sempat ke kediaman Megawati di Jl. Teuku Umar, Jakarta, yang akhirnya memunculkan spekulasi kemungkinan PDI Perjuangan berkoalisi dengan Partai Demokrat. Spekulasi itu akhirnya terjawab sudah ketika Megawati memilih berpasangan dengan Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, untuk maju sebagai capres-cawapres dalam Pilpres 8 Juli mendatang.
Polemik
Meski tak pernah bertemu secara fisik, Megawati-Yudhoyono sering bertemu di tingkat wacana alias terlibat polemik. Perang kata-kata pun, entah tersurat atau tersirat, timbul-tenggelam.
Dua tahun lalu misalnya, Megawati menuding pemerintah sibuk melakukan tebar pesona. Juga ketika Megawati menyebutkan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM laksana permainan yoyo, dan sejumlah isu lainnya seperti bantuan langsung tunai, angka kemiskinan hingga masalah pengangguran.
Yudhoyono pun, entah lewat dirinya sendiri atau jubirnya, acapkali merespons kritikan tersebut. Sering kali dengan balik 'menyerang' lewat retorika yang tak kalah pedas.
Dan 'takdir' perjumpaan pun tiba. Momennya adalah pengundian nomor urut pasangan capres-cawapres yang digelar KPU, Sabtu pagi. Duet SBY-Boediono tiba lebih dulu di ruang rapat pleno, disusul pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Megawati-Prabowo datang belakangan.
Begitu Megawati memasuki ruangan, ia segera bersalaman dengan Kalla dan Wiranto. Yudhoyono kemudian melangkah mendekati Megawati. Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini lalu berjabatan tangan dengan Megawati.
Adegan, yang terjadi begitu singkat ini, menuai tepuk tangan dari pengunjung yang memadati ruangan. Karena waktu bersalaman yang begitu sempit, para jurnalis foto yang tak sempat mengabadikan peristiwa ini meminta keduanya untuk kembali bersalaman. Upaya ini tak berbalas. Yudhoyono dan Megawati tidak saling bergerak mendekat.
Momen saling berjabatan tangan terulang lagi setelah tiga pasang calon berfoto bersama seusai penetapan nomor urut.
Setelah sesi foto berakhir, Megawati menyerahkan berkas nomor urut dan berita acara penetapan kepada pasangannya, Prabowo. Megawati, yang kala itu mengenakan kebaya polos berwarna merah, lalu bergerak menuju kursinya.
Namun, sejurus kemudian dia menghentikan langkahnya, berbalik, dan menghampiri Yudhoyono. Megawati lalu menyalami Yudhoyono, setelah itu Boediono, dan kemudian Kalla dan Wiranto. Adegan Megawati menyalami Yudhoyono ini lagi-lagi juga sangat singkat dan tidak diwarnai dengan saling sapa.
Banyak orang optimistis, jabat tangan di KPU akan menjadi awal dari mencairnya ketegangan antara Yudhoyono dan Megawati, yang keduanya akan kembali berlaga di pilpres. Semoga.
oleh : Ratna Ariyanti & Tomy Sasangka

Tidak ada komentar: