Sore tadi merupakan saat yang tak biasa bagi Iyam, 55. Di halaman Pasar Induk Caringin, Bandung, perempuan itu rela berdiri, berhimpitan, bersama pengunjung pasar yang lain. Iyam tak hendak membeli kebutuhan dapur. Ia bersama-sama sejumlah tetangga berjalan dari rumah, yang letaknya tak jauh dari pasar, untuk keperluan yang lain. Dan sekitar pukul 16.30, sosok yang dinanti Iyam tiba. Turun dari mobil dinas dengan plat nomor Indonesia 2, laki-laki berkacamata itu segera menarik perhatian massa. "Saya memang sering melihatnya di televisi, tapi rasanya pengen juga lihat dari dekat. Langsung gitu," ujar Iyam. Tiga perempuan separuh baya di samping Iyam mengiyakan ucapannya. Magnet yang mampu menarik Iyam dan puluhan ribu orang lain di Pasar Induk Caringin petang tadi tak lain adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla.Kunjungan kerja sehari ke Kota Kembang dimanfaatkan Kalla untuk melihat aktivitas jual beli di pasar yang terletak di Kelurahan Babakan Ciparay, Kecamatan Babakan Ciparay, Kotamadya Bandung. Pasar ini menempati wilayah seluas 11 hektar dan ditempati oleh sedikitnya 7.200 pedagang. Seperti gayanya selama ini, langkah Kalla juga terbilang cepat. Dengan sigap, ia berjalan dari satu kios ke kios lain, melewati kios buah-buahan dan sayur mayur. Di beberapa kios ia menyempatkan diri untuk berhenti dan menyapa para pedagang. Kalla bahkan sempat membeli kacang kulit dari pedagang asongan. Ia membayar sendiri belanjaannya. Sorak sorai dan lambaian tangan terus menemaninya sepanjang perjalanan. Sebelum menyusuri pasar, Kalla juga berdialog dengan Badan Pengelola Pasar Caringin. Pria kelahiran Watampone pada 15 Mei 1942, yang merupakan calon presiden dari Partai Golkar dan Hanura ini menegaskan komitmennya membangun ekonomi kerakyatan dan tekadnya untuk terus mempertahankan pasar tradisional. Pekan ini, Kalla menjadi lebih rajin keluar masuk pasar. Pada Selasa lalu ia singgah ke Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Kemarin, Kalla juga mengunjungi Pasar Johar, Semarang. Dalam tiap kunjungan tersebut, Kalla menjanjikan untuk mempertahankan pasar tradisional. Selain itu, Kalla juga menyebutkan akan berupaya untuk mempermudah pemberian kredit modal kepada pedagang tradisional. Menjelang musim kampanye pemilihan presiden, mengumbar janji bukan pemandangan yang asing. Kalla jelas-jelas membantah bahwa apa yang dilakukannya adalah upaya mencuri start sebelum kampanye. "Pasar adalah denyut ekonomi suatu bangsa. Tanpa ada kampanye pun saya datang. Masak Wakil Presiden tidak boleh ke mana-mana. Boleh pergi kemana saja," ujarnya. Kalla boleh saja menampik. Tapi saat ini bukan janji yang rakyat perlukan, tapi perwujudan dari apa yang telah ditabalkan. Data menunjukkan sejak 8 tahun terakhir, tercatat 93 pasar atau lebih dari 61% dari total 151 pasar tradisional di Jakarta saja masih rusak berat. Sembilan pasar ditutup karena bangunannya dianggap tidak layak lagi. Dengan kondisi rusak itu, pasar dinilai sudah tidak aman untuk pedagang dan pembeli. Jadi, kita tunggu saja langkah Kalla, yang selalu mengedepankan slogan "lebih cepat, lebih baik" dalam upayanya membenahi pasar tradisional. (tw)
Sumber : Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar