Senin, 25 Mei 2009

Capres 4 L (Lo Lagi, Lo Lagi)

KETIKA Barrack Husein Obama memenangi pemilihan presiden AS beberapa bulan lalu, Indonesia termasuk yang ikut bangga. Selain ucapan selamat, pemimpin negara ini (ketika itu) tampak bernafsu sekali untuk bertemu langsung dengan Obama -tentu saja dengan embel-embel menyampaikan salam kemenangan dari rakyat Indonesia. Sayang, kebanggaan itu hanya karena romantisme terhadap Obama yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta. Selebihnya tidak. Bahwa Obama merupakan contoh figur pemimpin yang berkarakter, cerdas, bijaksana, gemar membaca, memahami musik dan sastra, serta punya sense of humor yang tinggi sehingga mampu mencairkan suasana, belum cukup menarik untuk diteladani. Bahwa Obama yang berusia 47 tahun adalah contoh sukses pemimpin muda, tidak cukup menarik dijadikan pertimbangan dalam menentukan calon pemimpin alternatif negeri ini.Kalau sosok Obama dijadikan sebagai acuan pemimpin alternatif, tiga pasang capres-cawapres yang sudah disahkan KPU pantas disebut kurang memenuhi syarat. Seperti diketahui, pasangan capres-cawapres yang akan bertarung dalam pemilihan presiden (pilpres) 8 Juli adalah JK-Win, SBY-Berboedi (belakangan diubah menjadi SBY-Boediono), dan Mega-Pro. Umur mereka terbilang sudah senja. Pasangan pertama JK-Win; umur Jusuf Kalla 67 tahun (kelahiran 15 Mei 1947) dan Wiranto 62 tahun (kelahiran 4 April 1947). Pasangan kedua SBY-Berboedi; Susilo Bambang Yudhoyono berusia 60 tahun (kelahiran 9 September 1949) dan Boediono 66 tahun (kelahiran 25 Februari 1943). Pasangan ketiga Mega-Pro; Megawati Soekarnoputri 62 tahun (kelahiran 23 Januari 1947) dan Prabowo Subianto 58 tahun (kelahiran 17 Oktober 1951).Selain usianya sudah uzur, mereka merupakan stok lama yang semua orang sudah tahu track record-nya. Kekhawatiran banyak orang menjelang pemilu silam bahwa bakal muncul figur 4L (lo lagi, lo lagi) sekarang menjadi kenyataan. Enam tokoh yang maju sebagai capres-cawapres adalah wajah-wajah lama yang tampil dalam kemasan baru. SBY yang sebelumnya berpasangan dengan JK kini ganti pasangan bersama Boediono yang juga stok lama (mantan gubernur BI). JK yang saat ini masih Wapres-nya SBY memilih pisah dan maju sendiri menggandeng Wiranto (mantan petinggi TNI, capres Golkar di Pemilu 2004). Megawati yang mantan presiden kali ini maju kembali merangkul Prabowo yang semua orang sudah tahu sepak terjangnya selama meniti karir di TNI.*** Kenapa bisa begitu? Inilah yang membedakan proses pemilihan presiden-wakil presiden di Indonesia dan AS. Di AS, seorang bakal capres harus merangkak berjuang dari bawah. Dia harus bersaing dengan kolega di partainya mencari dukungan langsung dari konstituen lewat ajang konvensi. Pemenang konvensilah yang berhak maju sebagai capres. Jadilah, capres tersebut merupakan yang terbaik di antara yang baik. Di Indonesia, konstituen tidak dilibatkan sejak awal proses penentuan bakal capres-cawapres. Rakyat langsung disodori beberapa pilihan yang belum tentu sesuai dengan seleranya saat pemilihan. Penentuan bakal capres-cawapres diputuskan dalam rakernas atau mukernas yang hanya melibatkan pengurus pusat dan daerah partai. Padahal, sering terjadi aspirasi konstituen dan kader partai di akar rumput tidak sama, bahkan bertolak belakang. Contohnya yang terjadi sekarang. Harapan banyak kader partai dan konstituen yang menghendaki tokoh muda tampil menjadi bakal capres-cawapres kandas di forum rakernas atau mukernas. Bahkan, tiga capres yang baru saja terpilih di forum tertinggi partai masing-masing sama sekali tidak melirik tokoh muda sebagai cawapres. JK memilih Wiranto, SBY memilih Boediono, dan Mega memilih Prabowo. Mereka sama sekali tidak memandang perlunya regenerasi kepemimpinan nasional pada Pemilu 2009. Maka, jadilah Pemilu 2009 merupakan momentum kekalahan pemimpin balita (di bawah lima puluh tahun). Bahkan, mereka kalah sebelum bertanding. Padahal, perjuangan untuk mengusung pemimpin balita ke puncak kekuasaan sudah dimulai dua tahun lalu. Tepatnya, saat peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2007. Saat itu, ratusan tokoh pemuda dari sejumlah organisasi berkumpul di Gedung Arsip Nasional menggelar ikrar Kaum Muda Indonesia. Dalam ikrar tersebut dinyatakan, saatnya kaum muda memimpin Indonesia. Beberapa tokoh hadir di acara itu. Di antaranya, Mudji Sutrisno, Din Syamsuddin, Rizal Ramli, Denny J.A., Sys N.S. , Hanif Dhakiri, Jacobus Eko Kurniawan (aktivis 98), Budiman Sudjatmiko (PDIP), Indira Damayanti (politikus perempuan), Indah Dahlan (Paramadina), Sabri Saiman (politikus PAN), Hamdan Zoelva (politikus PBB), Anis Baswedan (rektor Universitas Paramadina), Isra Ramli (peneliti LSI), Beathor Suryadi (aktivis PDIP), Rama Pratama (PKS), Pius Lustrilanang, Ferry Juliantono (Prodem), dan Farid Faqih (Gowa).Gagasan itu kian nyaring gaungnya menjelang Pemilu 2009. Penabuhnya Tifatul Sembiring. Dalam pidato politiknya pada Mukernas Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Makassar, 21 Juli 2008, presiden PKS tersebut memberikan warning bahwa 2009 adalah waktunya bagi yang muda untuk tampil. Alasannya, saat itu, para tokoh tua dianggap telah gagal. Mereka tidak layak maju ke Pilpres 2009. "Sudah waktunya para politisi gaek untuk pensiun. Pemimpin 2009 adalah pemimpin muda dan energik serta berani mengambil risiko," tegas Tifatul saat itu, seperti lansir media online detikcom. Tapi, sangat disesalkan, pada detik-detik terakhir menjelang penetapan calon wakil presiden, Tifatul dan partainya, PKS, ngeper dan memilih tetap berkoalisi dengan Partai Demokrat yang jelas-jelas mencalonkan tokoh gaek Boediono (66 tahun) untuk mendampingi capres SBY yang juga sudah senja dengan usia 60 tahun.
Oleh : Samsudin Adlawi, penyair dan wartawan Jawa Pos (udi@jawapos.co.id)
Sumber : Jawa Pos

Tidak ada komentar: