JAKARTA: Pemerintah mencatat penerimaan negara dari laba BUMN 2008 yang disisihkan (dividen) masih terbilang rendah, yakni baru Rp465,9 miliar dari target APBN 2009 sebesar Rp30,8 triliun."Setoran ini kan… melalui dividen atas laba BUMN 2008. Per 15 April baru Rp465,9 miliar," ungkap Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Heri Purnomo di lingkungan Departemen Keuangan, kemarin.Berdasarkan siklusnya, jelas Heri, setoran dividen BUMN baru menyumbang signifikan terhadap penerimaan setelah pertengahan tahun. Setoran baru aktif dilakukan seusai BUMN menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS).Total aset BUMN hingga akhir 2008 mencapai Rp1.964 triliun. Sementara itu total utang yang dicatat oleh perusahaan milik pemerintah hingga periode tersebut mencapai Rp1.412 triliun.Sekretaris Kementerian BUMN M. Said Didu menuturkan pendapatan total seluruh BUMN selama tahun lalu mencapai Rp1.200 triliun. Selain itu, tambahnya, pemerintah berupaya untuk mempertahankan kepemilikan saham di perusahaan pelat merah.“Total modal saham pemerintah di BUMN hingga akhir 2008 mencapai Rp521,3 triliun. Dengan total modal itu, BUMN selama tahun lalu menyetorkan uang ke negara sebesar Rp240 triliun, baik melalui dividen maupun pajak,” katanya di tempat terpisah.Hingga saat ini terdapat 139 BUMN, dan dari jumlah itu perusahaan yang menyumbang pendapatan besar di antaranya PT Perusahaan Listrik Negara, PT Pertamina (Persero), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk serta PT Aneka Tambang TbkUntuk tahun ini, Kementerian BUMN akan mengkaji kembali target kinerja BUMN lantaran pertimbangan kondisi pasar yang belum pulih. Hal itu terkait dengan besaran belanja modal (capital expenditure) selama tahun ini yang banyak dipangkas.“Pada pertengahan tahun ini akan ada RKAP perubahan terkait perubahan investasi BUMN yang belum maksimal,” ujar Said.Sejumlah agenda yang akan dijalankan oleh Kementerian BUMN tahun ini adalah privatisasi empat BUMN melalui penawaran publik perdana. Agenda lainnya adalah melepas saham green shoe yang ada di Bank Negara Indonesia.Penerimaan APBNPada bagian lain, total penerimaan negara per 15 April tercatat sebesar Rp264,84 triliun atau 26,84% dari target APBN 2009.Sementara itu, dari sisi penerimaan dalam negeri sudah mencapai Rp264,48 triliun (26,85%) yang salah satunya disumbang dari penerimaan perpajakan sebesar Rp224,77 triliun (30,97%) dan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) telah mencapai 15,32% atau Rp39,66 triliun."Penerimaan pajak terdiri dari pajak dalam negeri 31,26%atau Rp218,02 triliun dan pajak perdagangan internasional 3,69% atau Rp6,75 triliun," ungkap Heri.Heri mengatakan pendapatan selama kuartal pertama tahun ini relatif lebih kecil dari periode yang sama tahun sebelumnya karena faktor perlambatan ekonomi. Hal ini tergambar dari realisasi penerimaan negara dari bea masuk dan bea keluar yang masih rendah, rata-rata baru 4% dari target.Sebaliknya, dari sisi pembiayaan melalui penerbitan obligasi negara justru sudah jauh melampaui target neto sebesar Rp54,7 triliun. Heri mengungkapkan total penerbitan surat utang negara (SUN) hingga 15 April telah mencapai Rp74 triliun atau 135% dari target SUN neto di APBN 2009.Kendati demikian, lanjutnya, pemerintah masih memerlukan tambahan pembiayaan melalui penerbitan obligasi untuk membayar utang-utang dan menghindari penarikan pinjaman siaga (deffered draw down/ DDO)."SUN sudah Rp74 triliun atau 135% dari target APBN. Ini untuk SUN neto yang targetnya Rp54 triliun. Ini untuk menutup supaya DDO tidak ditarik," katanya. (16)
Bambang P. Jatmiko
Bisnis Indonesia
Sabtu, 23/05/2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar