Bagi yang cermat berbahasa Indonesia, tentu rumusan judul di atas itu terasa aneh dan lucu. Betapa tidak? Bukankah maknanya adalah, bukan 'anaknya' yang diberi 'susu formula', melainkan 'anaknya' yang diberikan (kepada) 'susu formula'.
Asal tahu saja, makna [-kan] pada verba 'berikan' di atas itu identik dengan makna 'memindahkan anak ke pihak lain'. Dalam bentuk yang disampaikan di atas itu, pihak lain itu adalah 'susu formula'. Wow..., aneh sekali bukan?
Di sejumlah media juga sesungguhnya masih sering banyak muncul hal yang ganjil berkenaan dengan akhiran [-kan] dan imbuhan gabungan [me-kan] itu. Ambil saja contoh judul tulisan yang berbunyi, 'Mengajarkan TKI...'. Demikian pula bentuk seperti, 'Amien dikenakan denda...', atau 'Buyung dihadiahkan uang...'
Wow..., sepertinya bentuk-bentuk kebahasaan seperti itu akan semakin melengkapi problema 'memenangi' dan 'memenangkan', yang beberapa waktu lalu telah banyak mencuat, dan juga dimunculan di bisnis.com ini.
Berkenaan dengan 'memenangi' dan 'memenangkan', saya justru pernah mengusulkan agar digunakan saja bentuk 'menang' yang saya katakan tidak bakal merepotkan itu. Bentuk 'memenangi' memang terkesan dipaksakan untuk menggantikan bentuk 'memenangkan' dalam pemakaian selama ini.
Lalu, apa sesungguhnya makna yang dikandung dalam bentuk 'Ibu memberikan anaknya susu'? Makna akhiran [-kan] pada 'memberikan' adalah bahwa objek yang letaknya di belakang verba berakhiran [-kan] itu harus berpindah dari sosok yang memberikan kepada sosok penerimanya.
Demikian pula yang terjadi pada bentuk 'berikan anak Anda susu formula' atau bentuk 'berikan bayi Ibu susu dengan kandungan...', akhiran [-kan] pada verba itu mengimplikasikan bahwa sang 'anak' atau sang 'bayi' itu harus berpindah tangan kepada orang lain.
Nah, sekarang coba dibandingkan dengan bentuk yang berikut ini. Tentu tidak akan ada yang bisa protes dengan bentuk benar ini, 'berikan anak Anda kepada saya' atau 'berikan bayi Anda kepada saya'.
Lalu, bagaimana dengan 'mengajarkan TKI...', seperti yang beberapa waktu lalu muncul juga di media ini? Implikasi makna dari bentuk kebahasaan itu, tentu saja, adalah 'bukan TKI' itu yang diajari. Artinya pula, 'bukan TKI' itulah yang dibuat belajar.
Adapun pada faktanya, 'TKI itulah yang diajari' atau 'TKI itulah yang dibuat belajar'. Maka, bentuk yang benar adalah 'mengajari TKI...', bukan bentuk 'mengajarkan TKI...'.
Mari kita lihat bentuk yang lain lagi, 'Amien dikenakan denda...'. Demikian pula, 'Amien diberikan uang...'. Tentu bentuk yang benar adalah, 'Amien dikenai denda...'dan 'Amien diberi uang...'.
Jadi, sosok yang 'dikenai' denda dan sosok yang 'diberi' uang itu adalah Amien. Adapun yang 'dikenakan' kepada Amien adalah 'denda' atau 'uang', bukan Amien sendiri.
Bentuk di atas tentu saja identik dengan, 'barangsiapa melanggar dikenakan hukuman...'. Sosok yang 'dikenai' hukuman tentu saja adalah 'barangsiapa' atau 'siapa pun'. Jadi, yang 'dikenakan' kepada 'barangsiapa' atau kepada 'siapa pun' itu adalah 'hukuman'.
Lalu, bagaimana dengan 'membawahi' dan 'membawahkan' seperti pada, 'Direktur membawahi para manajer.' Mohon dicatat bahwa makna [-i] yang dikandung dalam 'membawahi' adalah 'ada di bawah' atau 'berada di bawah'.
Jadi bentuk 'direktur membawahi para manajer' berarti 'direktur itu berada di bawahnya para manajer'. Adapun dalam kenyataannya, pastilah 'direktur' itu tidak berada di bawah manajer, tetapi sebaliknya justru di atas para manajer.
Maka, bentuk yang benar untuk bentuk di atas itu adalah 'direktur membawahkan para manajer, bukan 'direktur membawahi para manajer'. Sama juga dengan bentuk 'pemimpin redaksi membawahkan para jurnalis redaksi', bukannya 'pemimpin redaksi membawahi para jurnalis redaksi'.
Memang, ihwal [me-kan] dan [me-i] dalam bahasa Indonesia itu sangat rumit. Maknanya juga terbukti sangat variatif.
Nah, semoga ihwal [me-kan] dan [me-i], ke depan tidak akan lagi menjadi persoalan. Artinya pula, semoga catatan kebahasaan ini bisa menjadi peranti pencerahan pada siapa pun yang memerlukan.
Asal tahu saja, makna [-kan] pada verba 'berikan' di atas itu identik dengan makna 'memindahkan anak ke pihak lain'. Dalam bentuk yang disampaikan di atas itu, pihak lain itu adalah 'susu formula'. Wow..., aneh sekali bukan?
Di sejumlah media juga sesungguhnya masih sering banyak muncul hal yang ganjil berkenaan dengan akhiran [-kan] dan imbuhan gabungan [me-kan] itu. Ambil saja contoh judul tulisan yang berbunyi, 'Mengajarkan TKI...'. Demikian pula bentuk seperti, 'Amien dikenakan denda...', atau 'Buyung dihadiahkan uang...'
Wow..., sepertinya bentuk-bentuk kebahasaan seperti itu akan semakin melengkapi problema 'memenangi' dan 'memenangkan', yang beberapa waktu lalu telah banyak mencuat, dan juga dimunculan di bisnis.com ini.
Berkenaan dengan 'memenangi' dan 'memenangkan', saya justru pernah mengusulkan agar digunakan saja bentuk 'menang' yang saya katakan tidak bakal merepotkan itu. Bentuk 'memenangi' memang terkesan dipaksakan untuk menggantikan bentuk 'memenangkan' dalam pemakaian selama ini.
Lalu, apa sesungguhnya makna yang dikandung dalam bentuk 'Ibu memberikan anaknya susu'? Makna akhiran [-kan] pada 'memberikan' adalah bahwa objek yang letaknya di belakang verba berakhiran [-kan] itu harus berpindah dari sosok yang memberikan kepada sosok penerimanya.
Demikian pula yang terjadi pada bentuk 'berikan anak Anda susu formula' atau bentuk 'berikan bayi Ibu susu dengan kandungan...', akhiran [-kan] pada verba itu mengimplikasikan bahwa sang 'anak' atau sang 'bayi' itu harus berpindah tangan kepada orang lain.
Nah, sekarang coba dibandingkan dengan bentuk yang berikut ini. Tentu tidak akan ada yang bisa protes dengan bentuk benar ini, 'berikan anak Anda kepada saya' atau 'berikan bayi Anda kepada saya'.
Lalu, bagaimana dengan 'mengajarkan TKI...', seperti yang beberapa waktu lalu muncul juga di media ini? Implikasi makna dari bentuk kebahasaan itu, tentu saja, adalah 'bukan TKI' itu yang diajari. Artinya pula, 'bukan TKI' itulah yang dibuat belajar.
Adapun pada faktanya, 'TKI itulah yang diajari' atau 'TKI itulah yang dibuat belajar'. Maka, bentuk yang benar adalah 'mengajari TKI...', bukan bentuk 'mengajarkan TKI...'.
Mari kita lihat bentuk yang lain lagi, 'Amien dikenakan denda...'. Demikian pula, 'Amien diberikan uang...'. Tentu bentuk yang benar adalah, 'Amien dikenai denda...'dan 'Amien diberi uang...'.
Jadi, sosok yang 'dikenai' denda dan sosok yang 'diberi' uang itu adalah Amien. Adapun yang 'dikenakan' kepada Amien adalah 'denda' atau 'uang', bukan Amien sendiri.
Bentuk di atas tentu saja identik dengan, 'barangsiapa melanggar dikenakan hukuman...'. Sosok yang 'dikenai' hukuman tentu saja adalah 'barangsiapa' atau 'siapa pun'. Jadi, yang 'dikenakan' kepada 'barangsiapa' atau kepada 'siapa pun' itu adalah 'hukuman'.
Lalu, bagaimana dengan 'membawahi' dan 'membawahkan' seperti pada, 'Direktur membawahi para manajer.' Mohon dicatat bahwa makna [-i] yang dikandung dalam 'membawahi' adalah 'ada di bawah' atau 'berada di bawah'.
Jadi bentuk 'direktur membawahi para manajer' berarti 'direktur itu berada di bawahnya para manajer'. Adapun dalam kenyataannya, pastilah 'direktur' itu tidak berada di bawah manajer, tetapi sebaliknya justru di atas para manajer.
Maka, bentuk yang benar untuk bentuk di atas itu adalah 'direktur membawahkan para manajer, bukan 'direktur membawahi para manajer'. Sama juga dengan bentuk 'pemimpin redaksi membawahkan para jurnalis redaksi', bukannya 'pemimpin redaksi membawahi para jurnalis redaksi'.
Memang, ihwal [me-kan] dan [me-i] dalam bahasa Indonesia itu sangat rumit. Maknanya juga terbukti sangat variatif.
Nah, semoga ihwal [me-kan] dan [me-i], ke depan tidak akan lagi menjadi persoalan. Artinya pula, semoga catatan kebahasaan ini bisa menjadi peranti pencerahan pada siapa pun yang memerlukan.
Dr. R. Kunjana Rahardi Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta, linguis, peneliti bahasa, dan konsultan bahasa di Jakarta.
Sumber : Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar