“Luar biasa… Baru kali ini bangsa Indonesia melakukan terobosan yang tampaknya dapat menjadi landasan gerak 5 tahun ke depan. Ini hebat, Bang… Belum pernah terjadi yang seperti ini,” kata Subarry Manilauw dengan agak tergopoh-gopoh.”Apaan sih kamu ini, Bar… datang-datang kok nyerocos, kayak abis kesambar petir saja… Apa sebenarnya maksudmu itu, apa yang terjadi…” sergah David Sutorro dalam sebuah perbincangan di kafe langganan tiga sekawan tersebut.
“Itu tuh… Tiga hari terakhir ini sedang diselenggarakan hajatan nasional-National Summit-yang melibatkan pucuk pimpinan organisasi bisnis, organisasi masyarakat, maupun berbagai tokoh dengan pejabat tinggi pemerintahan. Itu memang baru sekali ini sih, tapi saya kira kok biasa-biasa saja ya…” kata Kresno Noyorono sambil tetap mengamati tampilan pada layar perangkat seluler di tangannya.
“Enggak lah, Bang Noy… Gini-gini, saya kan hadir di acara tersebut, mewakili asosiasi usaha saya. Pertemuan itu dinamis sekali dan benar-benar berkualitas. Banyak petinggi perusahaan yang hadir,” Subarry mencoba menjelaskan.
“Bahkan, para menteri terkait ngejogrok di berbagai ruang sidang itu lho, mengikuti langsung diskusi dengan para peserta dialog.”
“Oo gitu… Lah apa hebatnya kalau diskusi dihadiri pejabat tinggi dan menteri… itu kan biasa… Yang penting tuh, materi yang dibahas benar-benar hebat nggak… Dapat menemukan solusi untuk persoalan yang diperbincangkan nggak…” ungkap David masih dengan nada skeptis.
“Wow, tentu saja Bang Suto… Yang mereka bahas ini persoalan bangsa… maju mundurnya bangsa kita lho…” ujar Subarry menegaskan.
“Tumben… Biasanya, menteri-menteri itu kalau sudah membuka seminar ataupun diskusi ini dan itu kan langsung ngacir… Mana pernah mereka mau mendengarkan materi yang dibahas di seminar. Makanya, seminar hebat-hebat di negeri ini jarang menghasilkan manfaat, karena rekomendasinya cuma tersimpan di map peserta, gak sampai ke telinga penguasa,” Kresno menanggapi kekaguman Subarry masih dengan nada datar.
“Saya kira kali ini nggak lho Bang… Para menteri dan pejabat tinggi itu hampir seharian lho di berbagai ruang sidang. Kayaknya sih, mereka ini dipaksa sama Pak Esbeye untuk ngikuti berbagai pembahasan atas masalah-masalah yang sering dihadapi bangsa kita itu,” jawab Subarry sambil mengaduk-aduk gelas minuman favoritnya, Kopi Gayo.
“Ooh, pantesan mereka kerasan nungguin diskusi, wong disuruh bosnya. Kan menteri-menteri sekarang ini akan dievaluasi secara ketat oleh presiden… kalau tidak patuh atau lalai menjalankan tugas dalam 100 hari pertama atau setiap tahun, status mereka akan langsung berubah menjadi mantan menteri, he he he…” kata Kresno.
“Tapi, peserta diskusi pun semangat lho membahas berbagai persoalan bangsa itu dong, Bar… Jadi, ada harapan negeri kita akan dapat mencapai kemajuan dalam waktu dekat ya,” David bertanya sambil penasaran.
“Enggak juga sih, Bang… Karena, banyak juga peserta yang kayaknya kurang serius dan konsentrasi… Mungkin nggak ngeh dengan topik yang dibicarakan… Malah, kelihatannya sih, beberapa peserta yang tampaknya dari daerah lebih milih turun dan belanja. Kebetulan, lokasi acara di sebuah mal mewah di kawasan pusat bisnis…” jawab Subarry.
“Lha, yang gitu itu penyebab nggak kunjung majunya pembangunan di daerah. Seharusnya, gubernur dan bupati atau walikota yang dapet perjalanan dinas ke Jakarta memprioritaskan tugasnya dulu, baru kalau acara udah kelar, bisa belanja. Kalau selama ini kan enggak, dapet tugas ke Jakarta yang di-sempet-sempetin malah belanja, urusan dinas menjadi yang ke sekian…” tutur Kresno bernada mencibir.
“Masalahnya, Barry, jangan-jangan sebagian menteri dan para pejabat daerah itu gak paham dengan persoalan yang dihadapi bangsa ini… Kan banyak di antara mereka itu dapat mencapai posisinya sekarang karena beruntung aja… yang semula, misalnya, cuma tukang ojek, lalu aktif di partai politik, eh… kepilih jadi anggota DPR atau DPRD dan kemudian bisa jadi menteri atau bupati dan sebagainya. Nasib baik dah…” ungkap David.
“Lagian, kalaupun seharian penuh ikut memelototi diskusi tersebut, belum tentu dapat mengatasi persoalan bangsa yang telanjur menggunung… Godaan terlalu banyak bagi para pejabat kita… Apalagi, setiap departemen jalan sendiri-sendiri, susah deh…” Kresno menambahkan.
“Mohon maaf, bapak-bapak… Sekarang sudah last order, karena kitchen kami segera tutup. Apakah masih mau nambah minuman atau makanan… Kalau tidak, kami persiapkan bill-nya deh ya…” ujar Diana, pramusaji yang paling akrab dengan tiga sekawan itu, memotong pembicaraan mereka yang sedang seru itu.
“Diana… sudah berapa kali kubilang, nggak usah ngomong keinggris-inggrisan kenape… Pakai last order, kitchen, bill segala, emang gak ada bahasa Indonesia-nya…” sergah Kresno.
“Maaf, Pak… Udah kebiasaan… Jadi, nggak ada order eh pesanan lagi nih,” kata Diana dengan nada manja.
“Buatkan tagihannya saja deh. Kali ini saya yang nraktir, Bang…” ucap Subarry seakan minta persetujuan. “Lumayan, abis dapet bonus…”
“Ngomong-ngomong, sekarang kok orang-orang pada demen ngomong dicampur bahasa Inggris ya… Kayaknya kurang bangga menggunakan bahasa Indonesia lho. Contohnya itu tadi, si Diana dan banyak temen seprofesinya, yang cenderung keinggris-inggrisan. Padahal, kalau diajak ngobrol lebih lanjut dengan bahasa Inggris juga kagak bisa…” cetus David.
“Betul tuh, Bang… Seharusnya, Oktober ini kan bulan Bahasa ya, seluruh rakyat Indonesia harus merasa bangga dong ngomong dalam bahasa Indonesia… Dari acara berjudul National Summit saja, itu juga keinggris-inggrisan. Udah gitu, ketika menyampaikan sambutan selama 72 menit, Pak Esbeye ngomong di mimbar, setidaknya ada 75 kata sambutannya dalam bahasa Inggris.
“Oh ya… Mungkin ada baiknya mencontoh sikap Bung Hatta, Adam Malik, dan Ali Alatas itu ya… Meskipun pergaulan mereka sangat Barat, mereka itu kalau di dalam negeri tidak pernah bicara kecuali berbahasa Indonesia. Bagi mereka, itulah salah satu kehormatan bangsa yang berdaulat, dan sebagai bangsa kita beruntung lho dapat memiliki bahasa sendiri,” tutur David.
“Iya ya… Seharusnya, siapa pun pejabat kita, hendaknya memelopori penggunaan bahasa Indonesia secara yang baik dan benar ya… Agar masyarakat juga ikut bangga kepada bahasa sendiri, bahasa Indonesia… Lha kalau bukan kita sendiri yang mau menghargainya, siapa lageee…. Apa kita perlu surati Pak Esbeye, supaya mewajibkan juga para pejabat berbahasa yang baik dan benar serta jangan banyak mengutip bahasa asing…” Subarry menambahkan.
“Ah, jangan… jangan… jangan melaporkan kelemahan pejabat kepada Presiden… Entar kita malah dianggap melanggar Undang-Undang Rahasia Negara… ha ha ha…” kata Kresno. “Mau, diciduk seperti pejabat KPK itu…” (sumber : pojok cafe/bisnis.com).
“Itu tuh… Tiga hari terakhir ini sedang diselenggarakan hajatan nasional-National Summit-yang melibatkan pucuk pimpinan organisasi bisnis, organisasi masyarakat, maupun berbagai tokoh dengan pejabat tinggi pemerintahan. Itu memang baru sekali ini sih, tapi saya kira kok biasa-biasa saja ya…” kata Kresno Noyorono sambil tetap mengamati tampilan pada layar perangkat seluler di tangannya.
“Enggak lah, Bang Noy… Gini-gini, saya kan hadir di acara tersebut, mewakili asosiasi usaha saya. Pertemuan itu dinamis sekali dan benar-benar berkualitas. Banyak petinggi perusahaan yang hadir,” Subarry mencoba menjelaskan.
“Bahkan, para menteri terkait ngejogrok di berbagai ruang sidang itu lho, mengikuti langsung diskusi dengan para peserta dialog.”
“Oo gitu… Lah apa hebatnya kalau diskusi dihadiri pejabat tinggi dan menteri… itu kan biasa… Yang penting tuh, materi yang dibahas benar-benar hebat nggak… Dapat menemukan solusi untuk persoalan yang diperbincangkan nggak…” ungkap David masih dengan nada skeptis.
“Wow, tentu saja Bang Suto… Yang mereka bahas ini persoalan bangsa… maju mundurnya bangsa kita lho…” ujar Subarry menegaskan.
“Tumben… Biasanya, menteri-menteri itu kalau sudah membuka seminar ataupun diskusi ini dan itu kan langsung ngacir… Mana pernah mereka mau mendengarkan materi yang dibahas di seminar. Makanya, seminar hebat-hebat di negeri ini jarang menghasilkan manfaat, karena rekomendasinya cuma tersimpan di map peserta, gak sampai ke telinga penguasa,” Kresno menanggapi kekaguman Subarry masih dengan nada datar.
“Saya kira kali ini nggak lho Bang… Para menteri dan pejabat tinggi itu hampir seharian lho di berbagai ruang sidang. Kayaknya sih, mereka ini dipaksa sama Pak Esbeye untuk ngikuti berbagai pembahasan atas masalah-masalah yang sering dihadapi bangsa kita itu,” jawab Subarry sambil mengaduk-aduk gelas minuman favoritnya, Kopi Gayo.
“Ooh, pantesan mereka kerasan nungguin diskusi, wong disuruh bosnya. Kan menteri-menteri sekarang ini akan dievaluasi secara ketat oleh presiden… kalau tidak patuh atau lalai menjalankan tugas dalam 100 hari pertama atau setiap tahun, status mereka akan langsung berubah menjadi mantan menteri, he he he…” kata Kresno.
“Tapi, peserta diskusi pun semangat lho membahas berbagai persoalan bangsa itu dong, Bar… Jadi, ada harapan negeri kita akan dapat mencapai kemajuan dalam waktu dekat ya,” David bertanya sambil penasaran.
“Enggak juga sih, Bang… Karena, banyak juga peserta yang kayaknya kurang serius dan konsentrasi… Mungkin nggak ngeh dengan topik yang dibicarakan… Malah, kelihatannya sih, beberapa peserta yang tampaknya dari daerah lebih milih turun dan belanja. Kebetulan, lokasi acara di sebuah mal mewah di kawasan pusat bisnis…” jawab Subarry.
“Lha, yang gitu itu penyebab nggak kunjung majunya pembangunan di daerah. Seharusnya, gubernur dan bupati atau walikota yang dapet perjalanan dinas ke Jakarta memprioritaskan tugasnya dulu, baru kalau acara udah kelar, bisa belanja. Kalau selama ini kan enggak, dapet tugas ke Jakarta yang di-sempet-sempetin malah belanja, urusan dinas menjadi yang ke sekian…” tutur Kresno bernada mencibir.
“Masalahnya, Barry, jangan-jangan sebagian menteri dan para pejabat daerah itu gak paham dengan persoalan yang dihadapi bangsa ini… Kan banyak di antara mereka itu dapat mencapai posisinya sekarang karena beruntung aja… yang semula, misalnya, cuma tukang ojek, lalu aktif di partai politik, eh… kepilih jadi anggota DPR atau DPRD dan kemudian bisa jadi menteri atau bupati dan sebagainya. Nasib baik dah…” ungkap David.
“Lagian, kalaupun seharian penuh ikut memelototi diskusi tersebut, belum tentu dapat mengatasi persoalan bangsa yang telanjur menggunung… Godaan terlalu banyak bagi para pejabat kita… Apalagi, setiap departemen jalan sendiri-sendiri, susah deh…” Kresno menambahkan.
“Mohon maaf, bapak-bapak… Sekarang sudah last order, karena kitchen kami segera tutup. Apakah masih mau nambah minuman atau makanan… Kalau tidak, kami persiapkan bill-nya deh ya…” ujar Diana, pramusaji yang paling akrab dengan tiga sekawan itu, memotong pembicaraan mereka yang sedang seru itu.
“Diana… sudah berapa kali kubilang, nggak usah ngomong keinggris-inggrisan kenape… Pakai last order, kitchen, bill segala, emang gak ada bahasa Indonesia-nya…” sergah Kresno.
“Maaf, Pak… Udah kebiasaan… Jadi, nggak ada order eh pesanan lagi nih,” kata Diana dengan nada manja.
“Buatkan tagihannya saja deh. Kali ini saya yang nraktir, Bang…” ucap Subarry seakan minta persetujuan. “Lumayan, abis dapet bonus…”
“Ngomong-ngomong, sekarang kok orang-orang pada demen ngomong dicampur bahasa Inggris ya… Kayaknya kurang bangga menggunakan bahasa Indonesia lho. Contohnya itu tadi, si Diana dan banyak temen seprofesinya, yang cenderung keinggris-inggrisan. Padahal, kalau diajak ngobrol lebih lanjut dengan bahasa Inggris juga kagak bisa…” cetus David.
“Betul tuh, Bang… Seharusnya, Oktober ini kan bulan Bahasa ya, seluruh rakyat Indonesia harus merasa bangga dong ngomong dalam bahasa Indonesia… Dari acara berjudul National Summit saja, itu juga keinggris-inggrisan. Udah gitu, ketika menyampaikan sambutan selama 72 menit, Pak Esbeye ngomong di mimbar, setidaknya ada 75 kata sambutannya dalam bahasa Inggris.
“Oh ya… Mungkin ada baiknya mencontoh sikap Bung Hatta, Adam Malik, dan Ali Alatas itu ya… Meskipun pergaulan mereka sangat Barat, mereka itu kalau di dalam negeri tidak pernah bicara kecuali berbahasa Indonesia. Bagi mereka, itulah salah satu kehormatan bangsa yang berdaulat, dan sebagai bangsa kita beruntung lho dapat memiliki bahasa sendiri,” tutur David.
“Iya ya… Seharusnya, siapa pun pejabat kita, hendaknya memelopori penggunaan bahasa Indonesia secara yang baik dan benar ya… Agar masyarakat juga ikut bangga kepada bahasa sendiri, bahasa Indonesia… Lha kalau bukan kita sendiri yang mau menghargainya, siapa lageee…. Apa kita perlu surati Pak Esbeye, supaya mewajibkan juga para pejabat berbahasa yang baik dan benar serta jangan banyak mengutip bahasa asing…” Subarry menambahkan.
“Ah, jangan… jangan… jangan melaporkan kelemahan pejabat kepada Presiden… Entar kita malah dianggap melanggar Undang-Undang Rahasia Negara… ha ha ha…” kata Kresno. “Mau, diciduk seperti pejabat KPK itu…” (sumber : pojok cafe/bisnis.com).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar