Kamis, 14 Mei 2009

Kejar Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Tidak Realistis

Pemerintah Jaga Bisa Redam Dampak Krisis JAKARTA - Upaya mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi dinilai tidak realistis dalam dua tahun ke depan. Saat ini, yang diperlukan adalah menjaga agar dampak krisis ekonomi global bisa diredam dan tidak mengganggu momentum pertumbuhan.Hal itu diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat pidato dalam pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) di Hotel Bidakara, Jakarta, kemarin (12/5). Wapres Jusuf Kalla (JK) dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu juga hadir dalam pembahasan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2010 itu.SBY mengatakan, jika tahun ini pertumbuhan bisa dijaga sekitar 4,5 persen, itu cukup bagus. Sebab, banyak negara lain justru mengalami pertumbuhan minus. ''Kalau kita bisa bertahan 4,5 persen saja, itu sudah prestasi yang luar biasa,'' kata presiden.SBY menilai tepat jika RKP 2010 mengambil tema pemulihan ekonomi nasional. ''Kita pulihkan dulu karena kita adalah bagian dari resesi ekonomi global yang dalam,'' tuturnya.Di depan para kepala daerah seluruh Indonesia, presiden kembali menekankan pentingnya stimulus fiskal. ''Jangan sampai ada yang macet di daerah. Stimulus itu bisa menjaga daya beli, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi,'' kata SBY.Men PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, RKP 2010 akan dilaksanakan oleh pemerintahan baru. Paskah mengklaim pelaksanaan rencana pembangunan lima tahun terakhir relatif berhasil. "Setelah krisis 1998 yang melumpuhkan ekonomi, sudah ada pemulihan secara bertahap,'' katanya. Pada 2007 dan 2008, pertumbuhan ekonomi di atas enam persen. Itu pencapaian tertinggi pasca-krisis 1998. Tapi, pertumbuhan ini melambat setelah kena imbas krisis keuangan dunia. (sof/tom/dwi)

Tidak ada komentar: