Tahun ini disebut-sebut sebagai tahun suram bagi sebagian besar industri, baik secara global maupun nasional.Begitu keras dan kencangnya terpaan krisis keuangan global, membuat pelaku pasar kelimpungan menghadapinya, termasuk industri tambang.Akibatnya, fenomena perilaku yang terjadi adalah investor menarik uang ke negara asalnya. Implikasi lainnya, perusahaan secara otomatis juga mengurangi pembelian raw material.Dari sisi fundamental makroekonomi seperti itu juga tidak didukung dengan pasar yang bersahabat.Sejumlah harga komoditas pertambangan melorot, terutama mineral seperti nikel, bijih besi, dan bauksit yang menukik tajam dibandingkan dengan komoditas lainnya.Yang lebih mengkhawatirkan lagi, karut-marut situasi politik dalam negeri semakin menimbulkan ketidakjelasan berusaha.Teka-teki siapa yang akan menjadi orang nomor satu dan langkah apa yang akan dilakukan untuk membawa negeri ini membuat pengusaha wait and see.Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA) Priyo Pribadi Sumarno menilai dari sisi produksi tak banyak yang bisa dilakukan pelaku tambang saat ini.Pengusaha tambang harus realistis dengan terjadinya evaluasi program kegiatan produksi akibat penurunan volume penjualan seiring dengan melemahnya permintaan."Tahun ini merupakan masa konsolidasi terhadap perubahan yang terjadi. Turunnya permintaan, anjloknya harga komoditas, pemerintahan baru, dan regulasi baru di sektor tambang membuat pengusaha harus menyesuaikan dulu," ujarnya.Bila ditamsilkan, kondisi pertambangan saat ini laksana orang sakit yang membutuhkan dukungan orang sehat, apakah akan dipulihkan dari sakit atau malah semakin diperburuk.Inilah realitas yang dihadapi industri pertambangan. Khusus industri tambang batu bara, nasibnya masih lebih baik.Industri itu kini masih bisa bertahan karena kebutuhan dunia masih ada.Hanya saja harganya memang harus dikoreksi. Bila dahulu, harga batu bara berkalori 6.500 bisa sampai US$100 per ton, sekarang harganya turun menjadi US$50-an per ton sehingga menyebabkan sejumlah tambang kecil, seperti di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur mulai berhenti beroperasi."Sektor pertambangan batu bara masih bisa bertahan sepanjang tahun ini meskipun tidak tumbuh lebih kuat seperti tahun sebelumnya. Hanya saja untuk peningkatan kapasitas produksi memang akan sangat berat," tutur Direktur Indonesian Coal Society Singgih Widagdo.Mirip 2007Menurut dia, kondisi pertambangan saat ini sebenarnya hampir sama dengan periode 2007 dan sebelumnya.Namun, lanjutnya, yang paling berat menimpa perusahaan menengah ke bawah, sedangkan perusahaan besar hanya melakukan konsolidasi.Sebuah lembaga survei, PricewaterhouseCooper Indonesia (PwC) belum lama ini melaporkan kondisi perekonomian dunia telah mendorong jatuhnya harga komoditas pertambangan. Tidak itu saja, laba perusahaan pada 2008, terutama yang tercatat di lantai bursa, harus menerima takdir tergerus.Lembaga itu juga menilai UU UU Minerba No.4/2009 yang baru saja dikeluarkan awal tahun ini diharapkan bisa mendongkrak kelesuan di sektor itu."UU itu cukup memadai bagi investor."Pemerintah juga mengamini kondisi itu. Menurut Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral dan Batu Bara Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariono, industri pertambangan memang mengalami perlambatan. "Kami akan melihat lagi bagaimana perkembangannya. Namun, bila terjadi koreksi, tidak akan banyak," ujarnya.Berdasarkan laporan IMA, sebagian besar perusahaan tambang saat ini sudah mulai melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah mining operation sehingga bisa menekan production cost. Selain itu, juga dengan meminimalisasi kontrak-kontrak dengan para kontraktor.Bila itu memang benar terjadi, arti lainnya adalah ekspansi pada sektor pertambangan pada tahun ini sudah dipastikan tertunda, meskipun langkah-langkah perundingan masih tetap jalan. Hanya saja, real money tidak akan turun tahun ini.Harapannya, kondisi makro dan mikro di sektor tambang itu bisa pulih kembali pada kuartal ketiga seiring dengan munculnya pemimpin baru negeri ini. (redaksi@bisnis.co.id)Oleh NurbaitiKontributor Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar