JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai kondisi perbankan di tanah air saat ini cukup kuat meredam tekanan krisis keuangan dunia. Ini diharapkan bisa menjadi modal penting bagi pemulihan ekonomi nasional.''Ada hasil assessment yang nyata, transparan, dan dikonfirmasi tim asistensi IMF yang menunjukkan bahwa sistem perbankan kita masih sehat, profitable, dan sedikit overliquid,'' kata Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom dalam Kongres Perbanas XVII dan Pembukaan Apconex di Jakarta kemarin (13/5).Menurut dia, salah satu faktor yang menambah daya tahan ekonomi nasional adalah kesehatan sektor keuangan. ''Sektor keuangan mampu menjaga agar badai tidak menghancurkan ekonomi negara secara keseluruhan,'' ujar Miranda. Karakteristik produk perbankan yang cukup konvensional bisa membuat Indonesia terlindung dari badai keuangan dunia.Dia menambahkan, perbankan harus menambah kapasitas dari berbagai segi. ''Ini penting. Untuk menjaga kondisi perbankan, bukan hanya diperlukan penguatan modal, tapi ketahanan infrastrukturnya,'' kata perempuan yang bakal mengakhiri jabatannya di BI bulan depan itu. Untuk ketahanan modal, ke depan bank sentral akan membuat aturan agar modal inti (Tier 1) lebih besar dibandingkan modal tambahan (Tier 2). Sebab, modal Tier 2 tidak bisa langsung digunakan jika dalam posisi mendesak. Modal Tier 2 juga berisiko tinggi sehingga porsinya harus makin dikurangi.Miranda menambah, kondisi ekonomi Indonesia masih relatif baik di tengah tren pertumbuhan minus negara-negara lain. BI juga meramal pertumbuhan ekonomi pada triwulan II masih akan cukup baik meski secara tahunan tidak akan beranjak dari level 3,5-4,5 persen. ''Mungkin memang tak setinggi yang diharapkan. Tapi, masih tinggi,'' katanya.Ketua Umum Perbanas Sigit Pramono mengakui, sejauh ini industri perbankan nasional masih tetap tumbuh. Dia menyebutkan, pertumbuhan kredit per Maret lalu masih mencapai 26,6 persen atau Rp 1,3 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) rata-rata juga masih 8 persen. ''Kita tetap optimistis karena tahan dari krisis,'' kata Sigit. (sof/dwi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar