Kamis, 14 Mei 2009

Deflasi dan pendalaman krisisPerforma pasar uang dan saham tidak mengurangi deindustrialisasi di dalam negeri

Pascapemilu legislatif (Pileg) 2009, sejumlah indikator ekonomi tampak membaik. Namun, faktor deflasi per April 2009 lebih menjelaskan esensi persoalan ekonomi nasional.Semua indikator yang tampak baik-baik itu ternyata belum menjanjikan apa pun. Belum ada jaminan kinerja sektor riil akan membaik, bahkan deflasi menjadi pembuktian memburuknya kesejahteraan rakyat.Tujuan utama pembangunan nasional adalah mewujudkan kesejahteraan rakyat dan ketahanan nasional yang mumpuni. Sudah barang tentu target kerja keras tidak sekadar mewujudkan indikator-indikator ekonomi yang bagus, tetapi tanpa nilai tambah apa-apa bagi kesejahteraan rakyat.Karena itu, kita tak boleh menjadi amoral dengan menunjuk indikator-indikator untuk mengklaim keberhasilan sebab kita tidak menghamba pada teori ekonomi. Kesejahteraan dan kemakmuran rakyat harus menjadi junjungan pembangunan nasional.Saat publik meributkan hasil pileg dan menonton proses koalisi partai politik menuju pemilihan presiden (Pilpres) 2009, rupiah memasuki trek penguatan nilai tukar terhadap sejumlah valuta utama dunia.Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan membuat lompatan yang spektakuler. Arus modal asing yang masuk ke pasar uang dan sistem perbankan memperlihatkan kenaikan tajam. Arus modal asing sepanjang kuartal I/2009 mencapai US$2,8 miliar.Konon, semuanya masuk dalam bentuk investasi langsung. Dari angka itu, US$800 juta berasal dari Qtel, pada saat tender offer ke Indosat. Sisanya, US$2 miliar, dalam bentuk investasi langsung di sektor nonmigas (Foreign Direct Investment/FDI).Bersamaan dengan itu, nilai kapitalisasi BEI ikut menggelembung. Pekan lalu, angka itu mencapai Rp1,453 triliun, naik dari posisi akhir 2008 yang Rp1,065 triliun. IHSG otomatis terdongkrak.Nilai tukar rupiah memang terus mengalami apresiasi sejak Maret. Pekan lalu, nilai tukar rupiah atas dolar AS mencapai level Rp10.385 per dolar. Sebelumnya, rupiah bahkan sempat menguat hingga Rp10.300 per dolar.Tak perlu dibantah kalau kecenderungan itu positif. Namun, kalau kecenderungan itu dimaknai sebagai gejala awal pemulihan ekonomi, belum sepenuhnya benar.Bobot muatan faktor eksternal dalam kecenderungan positif sangat besar alias amat dominan. Kita paham bahwa faktor eksternal itu temporer. Sekali mereka bergerak ke luar, manuver itu menjungkirbalikan keadaan dari positif menjadi negatif.Untuk memahami kecenderungan itu secara utuh, cobalah untuk menggugat penguatan nilai tukar rupiah yang tampak sangat luar biasa itu. Gunakan logika yang sama ketika dolar AS menguat saat krisis finansial memuncak.Waktu itu, kita yakin penguatan nilai tukar dolar AS semu, karena terjadi pada saat kinerja perekonomian AS jatuh ke titik terendah akibat krisis finansial. Saat itu, banyak perusahaan di Amerika Serikat bangkrut dan pengangguran meluas. Rupiah saat itu terdepresiasi cukup dalam yaitu Rp13.000-an per dolar.DeindustrialisasiSebagus apa pun perkembangan di pasar uang dan bursa saham kita, kecenderungan itu belum mampu menghilangkan kesan sedang terjadi proses deindustrialisasi di Indonesia.Jangankan perusahaan di sektor riil, krisis sekarang sudah menelan korban dua bank, Bank Century dan Bank IFI. Di luar sektor keuangan sudah dipastikan banyak perusahaan besar maupun kecil bangkrut, termasuk usaha kecil sektor informal.Kawasan industri sepi dari kegiatan produksi. Jangan heran jika jumlah pengangguran terus bertambah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran resmi 8,5% atau sembilan juta orang. Jumlah riilnya pasti jauh lebih besar. Seorang ekonom pernah membuat perkiraan bahwa jika catatan BPS itu ditambahkan dengan pengangguran terselubung, jumlahnya bisa mencapai 40 juta orang.Agar perkiraan besarnya jumlah pengangguran itu tidak dinilai spekulatif, diperlukan pemahaman tentang peran pekerja dalam struktur industri. Kita yakin, laporan jumlah pekerja yang di-PHK hanya datang dari industri atau perusahaan inti.Pengangguran yang terus meluas tentu saja memperlemah daya konsumsi rumah tangga. Konsumsi swasta dan pemerintah juga melemah. Sebagaimana diakui bahwa selama triwulan I/2009, kinerja motor pertumbuhan melemah.Bank Indonesia dalam laporan kebijakan moneter Triwulan I/2009 pada April menegaskan daya beli masyarakat melemah. Konsumsi rumah tangga selama triwulan I/2009 turun tajam.Demikian pula dengan konsumsi swasta yang diperkirakan ikut melemah seiring dengan turunnya penghasilan masyarakat dan meningkatnya PHK. Pemerintah sendiri memang berniat menjaga kekuatan konsumsi rumah tangga pada kisaran 5,6%, meski asumsi pertumbuhan ekonomi 2009 sudah diturunkan.Namun, upaya itu tidak mudah karena penurunan rasio tabungan masyarakat terhadap produk domestik bruto (PDB).Selain itu, rasio utang kredit konsumsi oleh masyarakat dilaporkan terus membesar. Masalah lain adalah upah riil yang tak kunjung meningkat.Dari kecenderungan itu, konsumsi rumah tangga diperkirakan hanya tumbuh 4,1% sepanjang 2009 ini. Penurunan konsumsi rumah diharapkan bisa sedikit tertahan oleh program bantuan langsung tunai (BLT) bagi warga miskin, kenaikan gaji PNS dan TNI/Polri serta belanja pemilu.Namun, keadaan sebenarnya makin diperparah oleh fakta bahwa likuiditas di dalam negeri masih kering akibat suku bunga yang tinggi untuk kredit konsumsi. Itu sebabnya pada April terjadi deflasi. Dalam konteks perekonomian kita terbaru, deflasi lebih menjelaskan keadaan yang cenderung memburuk.Kebalikan dari inflasi, deflasi terjadi karena berkurangnya jumlah uang yang beredar. Sepanjang periode deflasi biasanya terjadi penurunan harga barang dan jasa. Menurut teori, solusinya adalah menurunkan tingkat suku bunga.Dengan demikian, deflasi April 2009 lebih sebagai pembenaran atas berbagai asumsi yang tertuju pada satu kesimpulan, yakni pendalaman krisis masih berproses dan keadaan di Indonesia tidak bertambah baik.Deflasi terjadi lebih karena jumlah warga miskin bertambah, pengangguran meluas, konsumsi rumah tangga turun tajam, stagnasi pembiayaan akibat likuiditas kering dan suku bunga tinggi.Apakah penguatan rupiah, kenaikan IHSG BEI dan meningkatnya arus dana asing bisa memulihkan situasi yang memburuk sekarang ini? Belum tentu, sebab penguatan tiga faktor itu temporer.Transaksi di pasar uang antarbank harus dipulihkan. Keran kredit segera dibuka kembali agar ada jaminan pembiayaan usaha tidak terkendala dan tentu saja menurunkan bunga pinjaman bank.Maka, BI tak berhenti pada penurunan BI Rate. BI harus bisa memobilisasi perbankan lokal untuk mengatasi masalah likuiditas dan menurunkan suku bunga bank. Langkah-langkah inilah yang amat diperlukan untuk menghentikan proses pendalaman krisis.Oleh Bambang SoesatyoKetua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin & Ketua Umum Ardin Indonesia

Tidak ada komentar: