Penghargaan bergengsi Indonesian Costumer Satisfaction Award (ICSA) untuk kategori rokok kretek mampir di Dji Sam Soe pada 2006. Menjaga kepercayaan itu tetap bersanding dengan nama besar merek dagang ciptaan Liem Seeng Tee jelas tidak mudah.
Merek produk ini dikenal luas sejak 1913. Eksistensi atas merek yang diterima semua lapisan masyarakat bukan hasil dari pekerjaan sederhana. Setidaknya itu beban yang diemban Brand Manager Dji Sam Soe (DSS) PT HM Sampoerna Tbk Stephanus Laurens Kurniadi.
Sebagai salah satu merek andalan Indonesia, produk ini telah menembus berbagai kalangan dari bawah hingga atas.
Persoalan kualitas dan rasa produk tetap menjadi kunci utama. Namun, keandalan merek juga menjadi ujung tombak menggenjot penjualan. Inovasi terus dikembangkan untuk tetap mempertahankan jumlah konsumen atau perokok dewasa.
Salah satu inovasi terbaru yang sempat digawanginya adalah varian DSS Super Premium Masterpiece, rokok dengan kemasan eksklusif dalam jumlah terbatas pada November 2008-Maret 2009.
Kendati hanya disebarkan dalam jumlah terbatas, dia optimistis strategi tersebut mampu memperkuat kedekatan pasar yang dibidik dengan produknya.
Pria modis yang hobi mengumpulkan replika mobil Ferrari ini menilai inovasi merupakan bagian terpenting dalam membesarkan suatu merek.
Peran inovasi, menurut dia, sangat luar biasa untuk membesarkan dan menjaga merek tetap eksis. Stephanus tidak membayangkan bagaimana jadinya merek yang dia besarkan saat ini meredup pada masa mendatang.
"Saya melihat banyak hal umum dari merek yang lama dibesarkan kemudian hilang di tengah perjalanan. Itu tantangan paling besar untuk menjaga suatu merek akan tetap ada."
Sebelum menjadi pejabat kunci untuk urusan merek, ayah dari Tiara L. Kurniadi dan Ryan Kurniadi ini sempat mencicipi bekerja di perusahaan periklanan McCann Erickson. Baginya berkecimpung di dunia periklanan dan marketing begitu menarik.
Stephanus sempat merasakan greget yang timbul pada saat ambil bagian dalam mengatur strategi dan siasat agar merek yang dilemparkan ke pasaran dapat diterima masyarakat dan menopang penjualan agar tidak jeblok di pasaran.
Kerja kerasnya di McCann Erickson menjadi bekal mengabdi di perusahaan rokok besar di dalam negeri. Sudah 7 tahun belakangan Stephanus mecurahkan pikiran dan tenaga di PT HM Sampoerna Tbk.
"Pada saat HM Sampoerna menawari pekerjaan di bidang marketing, saya tertantang dan penasaran mencoba mengembangkan produk dari sisi klien. Jadi, saya harus lebih tahu masalah pengembangan bisnis sebenarnya di mana dan strategi pemasaran apa yang harus dipakai."
Manfaatkan jejaring
Sebagai marketer, anak pasangan Titus Kurniadi dan Wiliarti Budhiardjo ini semaksimal mungkin menjaga jaringan pertemanan dengan banyak orang.
Menurut dia, seorang marketer yang andal adalah orang yang tahu bagaimana menjaga jaringan, selain tetap bekerja fokus, detail, dan tepat sasaran.
Selain memanfaatkan jejaring pertemanan untuk mengoptimalkan teknik marketing, dia juga kerap mengajak sang istri, Milana, berdiskusi cukup dalam.
Karena itu, dia mengaku tidak alergi menceritakan masalah kantor yang dihadapi untuk sekadar mendapatkan cara pandang dan ide segar dari perempuan yang dinikahinya pada 1999.
"Istri saya sering kali memberikan sumbangan pikiran dari sudut pandang lain. Menjadi brand manager itu seru. Hidup saya semakin dinamis. Ternyata begitu banyak orang unik yang saya bisa temui."
Kini, kolektor action figures ini berkomitmen terus mengawal kerja tim melakukan promosi agar nama besar DSS yang pernah mendapat penghargaan itu tetap besar a.l. dengan kegiatan yang melibatkan musik ataupun olahraga, seperti gelaran populer DSS Urban Jazz Crosover.
Acara tahunan yang sudah dua kali diselenggarakan tersebut kali ini akan mengolaborasikan jazz dan seriosa. Uniknya, acara ini juga akan menampilkan beberapa sinden.
Dia menuturkan rangkaian pertunjukannya dimulai awal Mei 2009 di Medan, dilanjutkan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Denpasar dengan melibatkan penggiat seni seperti Glen Fredly dan Eq Puradiredja, pentolan grup musik Humania.
"Salah satu inspirasi mengadakan acara ini adalah saat saya menyaksikan acara jazz di Yogyakarta. Sebanyak 2.000 penonton cuma manggut-manggut. Makanya kali ini acara jazz kami buat lebih unik agar semua orang bisa menikmati lebih dan tidak sekadar manggut-manggut," timpal Stephanus mengakhiri perbincangan. (noerma.sari@bisnis.co.id)
Merek produk ini dikenal luas sejak 1913. Eksistensi atas merek yang diterima semua lapisan masyarakat bukan hasil dari pekerjaan sederhana. Setidaknya itu beban yang diemban Brand Manager Dji Sam Soe (DSS) PT HM Sampoerna Tbk Stephanus Laurens Kurniadi.
Sebagai salah satu merek andalan Indonesia, produk ini telah menembus berbagai kalangan dari bawah hingga atas.
Persoalan kualitas dan rasa produk tetap menjadi kunci utama. Namun, keandalan merek juga menjadi ujung tombak menggenjot penjualan. Inovasi terus dikembangkan untuk tetap mempertahankan jumlah konsumen atau perokok dewasa.
Salah satu inovasi terbaru yang sempat digawanginya adalah varian DSS Super Premium Masterpiece, rokok dengan kemasan eksklusif dalam jumlah terbatas pada November 2008-Maret 2009.
Kendati hanya disebarkan dalam jumlah terbatas, dia optimistis strategi tersebut mampu memperkuat kedekatan pasar yang dibidik dengan produknya.
Pria modis yang hobi mengumpulkan replika mobil Ferrari ini menilai inovasi merupakan bagian terpenting dalam membesarkan suatu merek.
Peran inovasi, menurut dia, sangat luar biasa untuk membesarkan dan menjaga merek tetap eksis. Stephanus tidak membayangkan bagaimana jadinya merek yang dia besarkan saat ini meredup pada masa mendatang.
"Saya melihat banyak hal umum dari merek yang lama dibesarkan kemudian hilang di tengah perjalanan. Itu tantangan paling besar untuk menjaga suatu merek akan tetap ada."
Sebelum menjadi pejabat kunci untuk urusan merek, ayah dari Tiara L. Kurniadi dan Ryan Kurniadi ini sempat mencicipi bekerja di perusahaan periklanan McCann Erickson. Baginya berkecimpung di dunia periklanan dan marketing begitu menarik.
Stephanus sempat merasakan greget yang timbul pada saat ambil bagian dalam mengatur strategi dan siasat agar merek yang dilemparkan ke pasaran dapat diterima masyarakat dan menopang penjualan agar tidak jeblok di pasaran.
Kerja kerasnya di McCann Erickson menjadi bekal mengabdi di perusahaan rokok besar di dalam negeri. Sudah 7 tahun belakangan Stephanus mecurahkan pikiran dan tenaga di PT HM Sampoerna Tbk.
"Pada saat HM Sampoerna menawari pekerjaan di bidang marketing, saya tertantang dan penasaran mencoba mengembangkan produk dari sisi klien. Jadi, saya harus lebih tahu masalah pengembangan bisnis sebenarnya di mana dan strategi pemasaran apa yang harus dipakai."
Manfaatkan jejaring
Sebagai marketer, anak pasangan Titus Kurniadi dan Wiliarti Budhiardjo ini semaksimal mungkin menjaga jaringan pertemanan dengan banyak orang.
Menurut dia, seorang marketer yang andal adalah orang yang tahu bagaimana menjaga jaringan, selain tetap bekerja fokus, detail, dan tepat sasaran.
Selain memanfaatkan jejaring pertemanan untuk mengoptimalkan teknik marketing, dia juga kerap mengajak sang istri, Milana, berdiskusi cukup dalam.
Karena itu, dia mengaku tidak alergi menceritakan masalah kantor yang dihadapi untuk sekadar mendapatkan cara pandang dan ide segar dari perempuan yang dinikahinya pada 1999.
"Istri saya sering kali memberikan sumbangan pikiran dari sudut pandang lain. Menjadi brand manager itu seru. Hidup saya semakin dinamis. Ternyata begitu banyak orang unik yang saya bisa temui."
Kini, kolektor action figures ini berkomitmen terus mengawal kerja tim melakukan promosi agar nama besar DSS yang pernah mendapat penghargaan itu tetap besar a.l. dengan kegiatan yang melibatkan musik ataupun olahraga, seperti gelaran populer DSS Urban Jazz Crosover.
Acara tahunan yang sudah dua kali diselenggarakan tersebut kali ini akan mengolaborasikan jazz dan seriosa. Uniknya, acara ini juga akan menampilkan beberapa sinden.
Dia menuturkan rangkaian pertunjukannya dimulai awal Mei 2009 di Medan, dilanjutkan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Denpasar dengan melibatkan penggiat seni seperti Glen Fredly dan Eq Puradiredja, pentolan grup musik Humania.
"Salah satu inspirasi mengadakan acara ini adalah saat saya menyaksikan acara jazz di Yogyakarta. Sebanyak 2.000 penonton cuma manggut-manggut. Makanya kali ini acara jazz kami buat lebih unik agar semua orang bisa menikmati lebih dan tidak sekadar manggut-manggut," timpal Stephanus mengakhiri perbincangan. (noerma.sari@bisnis.co.id)
oleh : Noerma Komalasari/bisnis.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar