Selasa, 05 Mei 2009

Membesarkan kategori dan merapikan citra

Bank Bukopin ikut dalam gerbong kereta pemasaran kategori produk yang relatif baru. Pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh manajemen PT Bank Syariah Bukopin masih tergolong banyak, misalnya menarik nasabah baru.
Pertanyaan berikutnya masih sederet. Mengapa harus syariah? Mengapa harus syariah dari Bukopin?
Ada dua hal di sini. Pertama, konsep syariah. Kedua, kekuatan brand Bukopin itu sendiri. Mengatasi permasalahan seputar syariah tidak mungkin dilakukan sendiri oleh Bank Syariah Bukopin sebagai pemain baru. Ini adalah tugas kolektif kategori, tugas bersama pemain-pemain lainnya.
Bagaimana dengan pertanyaan "Mengapa harus di Bukopin?". Ini adalah tugas murni manajemen Bukopin. Tugas yang harus dipikul bersama antara manajemen dua unit usaha Bank Bukopin, baik di bank konvensional maupun bank syariah.
Apa saja asosiasi publik terhadap Bank Bukopin? Apakah asosiasi ini semuanya positif mendukung atau masih ada yang perlu dirapikan lagi? Sebagian orang masih beranggapan ini bank koperasi (dari asal namanya) yang berarti berkaitan dengan pemerintah. Unsur pemerintah masih memberikan konotasi tradisional, lambat, penuh birokrasi, dan sebagainya.
Padahal dilihat dari sepak terjang divisi pemasaran Bank Bukopin beberapa tahun terakhir, tampak bank ini cukup agresif dan progresif. Sampai di mana sebenarnya pembangunan citra yang sudah dilakukan untuk membersihkan Bukopin dari kumpulan asosiasi yang tidak diiinginkannya?
Manajemen Bank Syariah Bukopin tidak bisa bergerak sendiri. Ini sudah pasti. Untuk menjawab "Mengapa harus Syariah?," ia membutuhkan dukungan pemain lainnya.
Sementara itu, menjawab "Mengapa harus Bukopin?," bank ini membutuhkan rekan-rekannya di manajemen bank Bukopin induk. Semangat kolaborasi harus dimiliki oleh tim BSB untuk mendapatkan hasil maksimal dalam waktu singkat.
Tugas bersama
Peranan dan kesadaran dari sang pemimpin pasar harus tinggi untuk membesarkan kategori, memiliki daya juang dan motor edukasi dibandingkan dengan pemain-pemain lainnya. Sayangnya, pemimpin pasar ada kalanya cenderung untuk terpancing bertanding melawan pemain-pemain baru yang bermunculan.
Bagi Bank Muamalat dan Bank Syariah Mandiri, kehadiran BSB ini bukan sebagai ancaman melainkan sebagai peluang. Pasar bertambah ramai. Tingkat penetrasi dan eksposure bank syariah menjadi makin tinggi.
Dengan tantangan yang masih banyak, pemain baru di dalam pasar syariah harus disyukuri, bukan dihindari dan dikecilkan peranannya. Ungkapan "Bersama kita bisa" mungkin tepat menjadi moto bagi para pemain bank syariah.
Pemasaran bank syariah sangat kompleks. Untuk membedah mencari kutu permasalahan yang dihadapi oleh pemasaran bank syariah, kita harus melebarkan perspektif, tidak hanya fokus menggali consumer insights di tingkat pengguna saja. Ada sekian banyak mitra lain yang juga berperan dalam mendukung dan menghambat.
Dari membaca literatur dan berbincang-bincang dengan konsultan perbankan syariah, saya menyimpulkan bahwa sudah banyak studi yang dilakukan, baik yang dipublikasikan karena studi akademik maupun studi yang bersifat tertutup secara komersial. Namun, rasanya belum ada studi yang dilakukan dengan metode etnografi yang bersifat holistik dan komprehensif.
Etnografi menggali insights secara mendalam langsung dari beragam pihak-pihak yang punya kepentingan, baik di tingkat konsumen, influencer atau opinion leaders, pengambil keputusan di bank syariah dan bank konvensional, para front liners yang melayani konsumen di dalam bank syariah, tim pemasaran bahkan pada pengambil kebijakan (Bank Indonesia) dan badan pengawas (Dewan Pengawas Syariah).
Banyaknya pihak yang berkepentingan memerlukan studi semacam ini disarankan untuk dipecah menjadi beberapa tahap, dimulai dari key stakeholders terlebih dahulu.
Untuk meningkatkan tingkat kepercayaan studi, digunakan beberapa macam teknik riset atau triangulasi data. Kombinasi dari observasi langsung mengamati proses interaksi perbankan dilakukan dengan berbagai metode.
Studi kualitatif seperti diatas diyakini bisa lebih baik dalam menangkap hal-hal yang tidak terungkap di permukaan, menyelami insights yang tidak tergali dengan metode riset yang konvensional seperti focus group discussion dan survei.
Membesarkan sebuah kategori baru perlu strategi yang lebih solid dan jelas. Tidak bisa dilakukan sambil lalu dan sporadis. Dengan pemetaan hasil studi ethnography akan tergambar letak prioritasnya untuk diuraikan terlebih dahulu, seperti ungkapan yang populer "First thing first."
oleh : Amalia E. MaulanaDirector Etnomark Consulting/bisnis.com

Tidak ada komentar: