Jumat, 08 Mei 2009

Sinyal Pemulihan Ekonomi

KUARTAL pertama tahun ini, kinerja sejumlah sektor ekonomi masih negatif. Namun, memasuki kuartal kedua, ekonomi bergerak ke arah positif. Sejumlah indikator bisa dipaparkan di sini. Misalnya, laju inflasi nasional yang negatif (deflasi), apresiasi nilai tukar rupiah, dan kenaikan indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Meskipun dunia dikejutkan oleh persebaran virus flu babi, belum ada pengaruh signifikan terhadap gerak pasar global. Di dalam negeri, stabilitas situasi sosial dan politik pada saat pemilu legislatif lalu mampu membangkitkan optimisme pelaku pasar. Itulah modal dasar yang bisa dipakai oleh pengambil kebijakan di bidang ekonomi, baik fiskal maupun moneter, untuk menetapkan langkah strategis menghadapi tantangan ekonomi 2009.Sejarah selalu berulang: pemilu selalu diikuti pergerakan positif di pasar saham dan pasar uang kembali terbukti. Pelaksanaan pemilu legislatif yang relatif lancar, meskipun ada persoalan terkait DPT (daftar pemilih tetap), mampu mengerek indeks saham hingga saat ini berada di kisaran 1.700. Padahal, Februari tahun ini, indeks masih bertengger di level 1.200-an. Momentum pemulihan ini akan berlanjut dengan sejumlah catatan. Kondisi ekonomi global terus membaik, meluasnya virus flu babi dapat diatasi, dan pemilu presiden Juli mendatang berjalan lancar. Krisis finansial global memang telah memberikan pukulan telak bagi ekonomi domestik. Pasar tradisional ekspor seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang turun drastis. Upaya switching ke pasar-pasar baru seperti Eropa Timur dan Timur Tengah juga tidak mudah direalisasikan. Selain membutuhkan proses pengenalan, belum tentu pasar ekspor alternatif tersebut membutuhkan produk seperti yang dijual di pasar ekspor tradisional. Sementara itu, daya serap pasar domestik sendiri juga tidak tinggi. Bisa bertahan dengan posisi yang sama seperti tahun lalu saja sudah cukup bagus. Karena itu, stimulus fiskal yang dikucurkan pemerintah, selain diharapkan bisa memperbaiki sisi produksi, idealnya juga bisa menjadi stimulan di sisi konsumsi.Momentum pemulihan ekonomi yang sudah mulai terlihat pada kuartal kedua tahun ini diharapkan terus berlanjut. Meskipun saat ini pasar uang dan bursa saham sudah bergairah, sebetulnya pelaku pasar masih menunggu pelaksanaan pilpres Juli nanti. Jika pemilihan presiden berjalan lancar, stabil, dan tanpa gejolak yang berarti, pelaku pasar akan menggerojokkan lebih banyak dana. Termasuk investor asing yang saat ini masih menempatkan sebagian portofolionya di pasar uang dan bursa saham. Jadi, momen pilpres, siapa pun yang terpilih nanti, menjadi penentu arah ekonomi ke depan.Kasus yang menimpa Antasari Azhar juga menjadi perhatian pelaku pasar. Namun, jika kasus ini tidak mengurangi semangat pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK, pasar tetap akan memberikan respons positif. Di sisi lain, pada saat yang sama, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah harus bekerja lebih keras dan erat dalam merumuskan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih sinergis. Hanya dengan kondisi-kondisi seperti itulah, momentum pemulihan ekonomi yang mulai terlihat saat ini bisa terjaga. (*)

Tidak ada komentar: