Jumat, 08 Mei 2009

Memperkuat fondasi bank

Bank Indonesia pekan ini kembali menurunkan suku bunga BI Rate sebesar 25 basis poins menjadi 7,25%-merupakan level terendah selama 4 tahun terakhir-, tetapi nyatanya perbankan masih enggan menurunkan suku bunga kredit. Alasan yang mengemuka adalah karena bank-bank masih terkendala oleh tingginya biaya dana.Apa memang demikian adanya? Lantas, apakah penurunan BI Rate itu menjadi percuma, karena masyarakat dan dunia usaha tidak mendapatkan manfaat lebih dari kebijakan tersebut karena bunga kredit tidak juga turun.Tentu saja tidak. Penurunan suku bunga acuan BI setidaknya mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi di dalam negeri relatif lebih bagus, dan memberikan persepsi positif bagi pelaku pasar. Setidaknya kinerja rupiah dan indeks harga saham gabungan belakangan ini membaik. Rupiah berada di level 10.400 per dolar AS, dan indeks 1.800 pada perdagangan kemarin.Krisis finansial global memang telah mengoreksi kinerja perbankan nasional. Kondisi likuiditas di dalam negeri menjadi mengetat, dan ekspansi kredit selama triwulan I/2009 mengalami stagnasi. Penurunan likuiditas juga akan menekan investasi di dalam negeri, sehingga secara keseluruhan akan berdampak terhadap melemahnya laju pertumbuhan ekonomi.Apalagi di tengah berlangsungnya pesta demokrasi di dalam negeri, yaitu pemilu legislatif yang baru saja berlangsung dan akan dilaksanakannya pemilu presiden pada Juli, dipastikan akan membuat kalangan perbankan menahan diri untuk menyalurkan kredit.Perbankan akan semakin selektif dalam menyalurkan dananya, yaitu hanya mau membiayai usaha kecil menengah (UKM) dan melanjutkan pembiayaan proyek infrastruktur. Kondisi ini akan berlangsung hingga triwulan ketiga yaitu setelah pemilu presiden berakhir.Setelah mengetahui siapa yang menjadi presiden terpilih, tim kabinetnya, serta program-program yang akan dijalankan, barulah perbankan dan kalangan dunia usaha kembali bergerak. Itu artinya ekonomi baru akan kembali menggeliat pada triwulan keempat tahun ini.Selama masa itu, hanya investasi portofolio yang diperkirakan bergairah sehingga dapat menopang kinerja pasar uang dan pasar modal di dalam negeri. Oleh sebab itu, penerbitan surat-surat utang, reksa dana, ataupun jenis investasi keuangan lainnya diperkirakan marak.Ketika perbankan tidak melakukan ekspansi kredit, lembaga keuangan ini harus menggunakan waktu tersebut untuk melakukan konsolidasi guna memperkuat fondasi. Apalagi BI menilai manajemen pengendalian likuiditas perbankan nasional masih perlu diperkuat.Bank wajib menyempurnakan pengendalian internal dalam mengelola likuiditas dan harus dapat memitigasi risikonya. Hal tersebut harus dijalankan secara berkesinambungan oleh setiap bank dan berkoordinasi dengan BI, sehingga bila ada risiko, setiap bank dan otoritas moneter lebih mudah mengatasinya.Fundamental yang kuat akan menghasilkan kinerja yang positif. Dalam beberapa waktu ke depan, kemungkinan perbankan memiliki kinerja yang kurang memuaskan, tetapi justru bisa memiliki fundamental yang lebih kuat.

Tidak ada komentar: