Jumat, 08 Mei 2009

Peritel daerah berupaya adang hipermarketPerbesar gerai bisa jadi bumerang

JAKARTA: Sejumlah peritel di daerah berupaya menahan serangan peritel raksasa dengan memperbesar gerainya, tetapi strategi tersebut dinilai justru akan menjadi bumerang karena tidak diimbangi kemampuan menawarkan harga yang lebih bersaing.Menurut Christian F. Guswai, Managing Partner G&P Retail Consulting, peritel daerah baru dalam tahap membuat toko menjadi lebih besar tanpa sokongan manajemen yang lebih mumpuni dan tetap tidak mampu menjual barang dengan harga lebih murah."Kami khawatir peritel daerah itu malah merugi. Oleh karena itu, seharusnya pemerintah peduli atas kelangsungan bisnis di daerah tersebut," kata Guswai, kemarin.Apalagi, menurutnya, investasi pendirian satu gerai hipermarket semakin besar, yakni mencapai Rp60 miliar. Adapun pembangunan gerai supermarket bisa menelan dana Rp10 miliar.Pada saat yang sama, peritel daerah tersebut juga belum mapan betul dalam bisnis supermarketnya, sehingga proses transformasi ke format hipermarket terkesan dipaksakan.Saat ini, peritel daerah tersebut umumnya harus berbagi pasar, setelah hipermarket skala nasional dan multinasional itu hadir di dekat mereka. "Saya khawatir bisnis mereka justru menjadi goyah," katanya.Dua tantanganMenurut Guswai, ada dua tantangan berat yang kini dihadapi peritel daerah terkait dengan kehadiran hipermarket skala nasional.Pertama, peritel daerah umumnya hanya memiliki satu gerai besar sehingga tidak memperoleh pendapatan syarat perdagangan dari pemasok. Kondisi ini berbeda dengan hipermarket nasional dan asing sehingga mendapatkan harga lebih murah.Kedua, peritel daerah juga tidak cukup kepiawaian menjalankan strategi untuk menguasai pasar dengan cepat, mengingat penguasaan ini penting untuk meraih sukses berbisnis hipermarket.Menurut dia, pemerintah perlu menunjukkan kepeduliannya pada keberlangsungan usaha peritel di daerah, mengingat kecenderungan melawan persaingan dengan hipermarket skala nasional dan multinasional yang masuk ke wilayah yang sama ditanggapi mereka dengan membuat format hipermarket juga.Dia mencontohkan keberadaan peritel lokal yang tumbuh pesat di Manado, Sulawesi Utara, terutama di sepanjang J. Boulevard.Di Jalan tersebut, juga terdapat Hypermart yang beroperasi sejak 2006, adapun Giant memastikan diri segera masuk wilayah ini."Supermarket Multimart [milik peritel daerah] yang buka pada 2005, dan pada tahun lalu membuat format hipermarket," ujar Guswai.Menghadapi kondisi tersebut, Guswai berpendapat pemerintah perlu tegas membedakan lokasi hipermarket dan format lebih kecil lainnya, demi menyelamatkan peritel yang selama ini bertumbuh di daerah."Negeri yang membuat paham persaingan bebas juga membuat aturan, yaitu format ritel yang lebih kecil boleh tetap di tengah kota, sementara itu superstore dan hipermarket harus di luar kota," kata Guswai.Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), dalam catatan akhir tahunnya, menyatakan persaingan antara hipermarket (peritel besar) dengan peritel kecil, dan pasar tradisional sebagai pertarungan pada tingkatan yang berbeda.Dalam hal itu, peran kebijakan persaingan, kebijakan sektoral, kebijakan pemerintah daerah amat penting untuk mengatasi hal tersebut.KPPU menyatakan mendukung sepenuhnya kebijakan pemerintah untuk memberi perlindungan terhadap usaha kecil ritel dan tradisional, serta pemasok. (linda.silitonga@bisnis.co.id)Oleh Linda T. SilitongaBisnis Indonesia

Tidak ada komentar: