Selasa, 05 Mei 2009

High EQ Leader!

"The challenge of leadership is to be strong, but not rude; be kind, but not weak; be bold, but not bully; be thoughtful, but not lazy; be humble, but not timid; be proud, but not arrogant; have humor, but without folly." Jim Rohn
Dunia leadership sedang bergeser ke arah yang baru. Tekanan persaingan dan kondisi ekonomi global yang semakin sulit membuat banyak organisasi membutuhkan para pemimpin yang bukan sekadar piawai dalam strategi bisnis dan memiliki kompetensi teknis yang mumpuni di bidang usaha tertentu, tetapi lebih dari itu dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu menjaga ketangguhan emosinya menghadapi berbagai tekanan pekerjaan, baik tekanan kehidupan personal, tekanan dari klien, maupun tekanan dari orang-orang di lingkungan pekerjaan.
Pemimpin zaman sekarang juga dituntut untuk mampu menjaga motivasi tim kerjanya dan terus "memompa" semangat mereka dalam situasi- sulit. Ini bukanlah hal yang mudah, terutama pada saat krisis seperti sekarang ini.
Inilah salah satu alasan mengapa Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosi menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki seorang pemimpin.
Dalam berbagai training di berbagai perusahaan, saya sering menerima keluhan dan curhat dari para bawahan atas perilaku para pemimpin mereka yang bukannya meningkatkan motivasi kerja, melainkan malah membuat mereka demotivasi.
Padahal sang pemimpin adalah orang yang ahli di bidangnya dan termasuk cerdik dalam mengambil keputusan bisnis, tetapi sayangnya, ketidakmampuan mereka dalam mengelola emosi sering kali membuat bawahan tertekan dan kehilangan semangat untuk mendukung kebijakan sang pemimpin.
Sehebat-hebatnya sebuah kapal, sepandai-pandainya seorang nakhoda, kalau awak kapalnya tidak mau bekerja sepenuh hati, kapal itu tidak akan bisa bergerak dengan maksimal bukan?
Dalam kesempatan ini, saya akan memaparkan lima ciri-ciri pemimpin yang memiliki tingkat EQ tinggi. Sembari membaca, cobalah untuk melihat kepada diri Anda sendiri, sudahkah Anda memiliki ciri-ciri ini?
Mampu menjabarkan visi organisasi menjadi visi personal
Banyak karyawan yang tidak berkontribusi dalam mewujudkan visi perusahaannya, karena mereka tidak pernah merasa mendapat keuntungan apa pun kalau visi itu tercapai.
Malahan banyak di antara mereka yang merasa menjadi "alat" untuk mencapai kesuksesan perusahaan yang ujung-ujungnya dinikmati para owner dan top management.
Seorang pemimpin yang cerdas emosinya bisa menjadikan visi organisasi sebagai visi personal bagi bawahannya. Ia bisa "membahasakan" visi tersebut untuk kehidupan personal bawahannya, sehingga bawahan menjadi yakin bahwa visi itu juga berdampak bagi mereka.
Dalam training, hal ini kami sebut dengan istilah "Apa Manfaatnya Bagiku?" Jika bawahan tahu bahwa mereka juga menjadi bagian penting dalam visi tersebut, nasib mereka juga dilibatkan dalam visi tersebut, tentu mereka akan bergerak dengan sendirinya tanpa perlu kita suruh-suruh. Sudahkah Anda mebahasakan visi organisasi Anda menjadi visi personal bagi setiap bawahan Anda?
Memiliki state management yang baik
State management adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan netralitas emosinya dalam berbagai peristiwa. Saya akan berikan contoh untuk memudahkan Anda untuk memahami konsep ini. Misalnya, seorang pemimpin baru saja mengalami meeting yang buruk dan benar-benar membuatnya kesal, dan kemudian ia harus menghadiri sebuah meeting lain.
Jika dia memiliki state management yang baik, ketika dia hadir di meeting kedua, dia bisa membuat emosinya menjadi netral dan bisa meninggalkan semua "badmood" serta perasaan kesalnya akibat meeting pertama.
Begitu pula ketika dia pulang ke rumah, dia akan meninggalkan semua kelelahan emosinya di pekerjaan, sehingga saat dia hadir di rumah, dia sudah memiliki emosi yang netral kembali.
Bukankah yang banyak terjadi adalah sebaliknya? Banyak pemimpin yang datang ke kantor dengan "bete" gara-gara baru saja bertengkar dengan pasangannya, dan akibatnya, bawahannya banyak mendapat "semprotan" hari itu. Atau gara-gara meeting yang melelahkan, ia jadi membuat keputusan-keputusan yang terburu-buru dan meralatnya pada kemudian hari.
Bukankah situasi ini sering kita jumpai? Inilah alasan mengapa muncul istilah "Bagaimana cuaca bos hari ini?" Bagi orang yang cerdas emosinya, apa pun situasi dan peritiwa yang terjadi, "cuaca" dalam hatinya akan selalu netral.
Menyentuh hati sebelum meminta tangan
John Maxwell mengajarkan, sebelum Anda meminta bawahan Anda berkontribusi, ketahuilah dulu apa kebutuhan mereka dan sentuhlah kebutuhan itu.
Pahamilah dulu seperti apa bawahan Anda dan kenalilah mereka dengan baik. Jika Anda berhasil menyentuh hati mereka, tanpa Anda suruh, mereka akan mengulurkan tangan mereka.
Banyak pemimpin kesulitan memotivasi bawahan mereka untuk bergerak karena mereka tidak pernah peduli dengan kebutuhan bawahan mereka dan hanya melulu "memaksa" mereka untuk menuruti keinginannya.
Bukan menjadi baterai, melainkan menjadi charger
Winston Churchill pernah berkata bahwa pemimpin adalah orang yang tidak pernah kehilangan semangatnya baik saat dia berhasil maupun saat ia gagal. Kemampuan untuk memaintain antusiasme dan semangat positif inilah yang sangat dibutuhkan pada masa-masa sulit seperti sekarang ini.
Jika Anda sebagai pemimpin sudah lemas dan pesimis, bagaimana dengan bawahan Anda? Anda bukanlah baterai, Anda adalah Charger, Andalah sumber antusias bagi bawahan Anda! Pertahankanlah semangat Anda dengan berbagai cara, dan tunjukkanlah antusiasme serta aura positif Anda, supaya bawahan Anda terus termotivasi dengan semangat Anda!
Memimpin dengan teladan, bukan dengan kata-kata
Perbedaan mendasar antara pemimpin dan bos adalah pemimpin melakukan apa yang dia katakan, sedangkan bos adalah hanya mengatakan apa yang harus dilakukan.
Pemimpin menggerakkan orang dengan teladan, sedangkan bos menggerakkan orang dengan perintah. Jika Anda melihat para pemimpin besar dunia, Anda akan tahu mengapa ada banyak orang yang bersedia untuk loyal dan bahkan memberikan hidup kepada mereka.
Alasannya sederhana, karena para pemimpin hebat ini melakukan apa yang dia ajarkan. Mereka tidak hanya bisa memerintah dan "nyuruh-nyuruh" saja. Bahkan, sering kali mereka menjadi orang yang pertama kali bergerak saat orang lain tidak mau dan tidak berani melakukannya.
Pemimpin yang EQ-nya jongkok akan berkata, "Mengapa mereka tidak melakukannya?" Adapun pemimpin yang cerdas emosinya tidak akan menyalahkan keadaan, tetapi dia akan memberi teladan dan bertindak lebih dahulu untuk membuat situasi semakin baik. Dia akan berkata, "Apakah yang bisa saya lakukan agar mereka juga mau melakukannya?"
Para pemimpin, sampai di manakah tingkat kecerdasan emosi Anda?
oleh : Anthony Dio MartinTrainer, Speaker, EQ Motivator ahli psikologi/bisnis.com

Tidak ada komentar: