Di tengah maraknya belanja kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009, pasar uang Indonesia kebanjiran dana asing. Kecenderungan ini menarik disimak karena memunculkan beberapa pertanyaan.Apakah semua dana asing itu memang masuk ke sejumlah instrumen investasi portofolio di dalam negeri atau diselonongkan ke pos dana kampanye para calon presiden (capres)?Untuk isu yang terakhir ini, sudah ada tim sukses salah satu capres yang segera mengeluarkan bantahan.Arus masuk dana asing ke pasar uang yang tinggi dalam beberapa bulan terakhir ini membangkitkan euforia. Otoritas moneter mengumumkan miliaran dolar AS yang masuk ke berbagai instrumen investasi itu merefleksikan pulihnya kepercayaan pemodal asing terhadap Indonesia.Esensi pernyataan seperti ini sulit dibantah meskipun apa saja yang menjadi dasar pulihnya kepercayaan pemodal asing pada perekonomian bisa membuat kita miris.Euforia ini jangan berlebihan sebab bukan hanya kita yang kebanjiran dana asing, tetapi sejumlah negara berkembang lainnya pun mengalami kecenderungan serupa.Kalau sekarang dana asing berjangka pendek mulai masuk lagi ke pasar uang, pasti karena tempat lain menjanjikan untung kecil. Apa lagi, sudah muncul sinyalemen tentang terjadinya kenaikan volume utang di negara industri maju. Para pemodal pasti mencari tempat baru yang lebih menguntungkan di negara berkembang. Indonesia adalah salah satunya.Suku bunga kita masih terbilang sangat tinggi. Bandingkan BI Rate yang 7% dengan Fed Fund Rate atau LIBOR yang di bawah 1%. Surat utang negara (SUN) pun menjanjikan bunga yang tinggi.Kenaikan harga minyak belakangan ini menyebabkan saham sektor energi di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi target perburuan modal asing. Inilah titik picu masuknya dana asing ke Indonesia, akhir-akhir ini.Pada pertengahan 2009 ini total dana asing yang mengalir ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sebesar US$12 miliar atau ekuvalen Rp123 triliun. Credit Suisse melaporkan dari jumlah itu yang masuk ke pasar uang Indonesia per Mei 2009 hanya US$4,145 juta.Secara jumlah, angka itu tidak luar biasa sehingga tak cukup alasan untuk euforia berlebihan. Ada kenaikan dibanding April 2009, yakni US$1,301 juta. Namun, dana asing itu mobile sehingga dengan jumlah yang masuk sekarang dibanding dengan jumlah yang keluar, tren ini menjadi biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa.Ini terbukti dalam tenggang waktu 4 hari, dana asing pada surat utang negara (SUN) berkurang Rp2,12 triliun. Jika per 12 Juni 2009 dana asing di SUN mencapai Rp88,52 triliun, per16 Juni 2009 sudah menjadi Rp86,4 triliun.Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Depkeu pada Kamis (18 Juni) menerbitkan catatan yang memperlihatkan bahwa pada 5 Juni 2009, jumlah dana asing di SUN mencapai level tertinggi sejak November 2008, yaitu Rp89,04 triliun.Lebih beruntungDi tengah ketidakpastian ini, semestinya kita boleh merasa beruntung karena dana asing yang masuk relatif tidak terlalu besar. Bukankah pengalaman mengajarkan kita gerak keluar dana asing yang serentak secara berulang kali telah menghadirkan masalah serius bagi perekonomian kita?Kejatuhan nilai tukar rupiah dan keringnya likuiditas di pasar uang sejak puncak krisis finansial hingga kini sedikit banyak disebabkan kegagalan kita mengelola dana asing di pasar uang kita.Dana-dana tersebut justru ditarik kembali ke negeri asal selama periode krisis finansial tahun lalu. Akibatnya, sektor keuangan nasional limbung dan acak-acakan.Aliran dana asing ke Indonesia umumnya masuk ke instrumen portofolio seperti saham, reksa dana, obligasi, dan pasar uang. Jujur saja, kita selalu cemas ketika dana asing diberi keleluasaan masuk ke sertifikat Bank Indonesia (SBI).Karena tidak ada manfaatnya, publik heran dan bertanya mengapa BI tidak menghambatnya dengan ketentuan yang ekstra ekstrem? Sebab, dana asing yang masuk SBI hanya bertujuan mengais bunga yang besar. Perannya menambah likuiditas valas di pasar uang hanya seumur usianya di SBI.Otoritas moneter harus berani mengatur dana asing di SBI. Sekali lagi, belajarlah dari pengalaman. Selain itu, beralasan bagi kita untuk khawatir jika pemodal asing terlalu leluasa masuk SBI. Jika dibiarkan dominan, mereka bisa saja mendikte.Klaim dana asing mulai masuk karena pulihnya kepercayaan pemodal asing terlalu berlebihan. Mungkin, yang benar adalah keyakinan pemodal asing bahwa pasar uang Indonesia bisa memberikan untung besar dalam waktu singkat sebab, kalau jujur, tak satu pun indikator di dalam negeri yang bisa memulihkan kepercayaan investor asing.Kita harus jujur dulu pada diri sendiri sebelum meraih kepercayaan dari orang lain. Kita akui dulu masih ada 17,1 juta rumah tangga miskin.Konsumsi rumah tangga turun menjadi hanya 4,1%. Sektor riil hancur karena pasar dalam negeri sarat produk selundupan.Suku bunga pinjaman yang tinggi menyebabkan unit-unit ekonomi rakyat (UMKM) tak bisa tumbuh. Indeks Tendensi Bisnis pada Triwulan Idan II/2009 masih di bawah 100, pertanda pesimisme masih menyelimuti komunitas pengusaha.Efektivitas APBN rendah karena beban pembayaran cicilan pokok dan bunga utang luar negeri. Tahun ini, utang luar negeri yang jatuh tempo US$6,485.07 juta, hampir 3 kali lipat jumlah utang jatuh tempo per 2008.Pemerintah sama sekali tak pernah berupaya menurunkan beban pembayaran utang dengan inisiatif renegosiasi kepada para kreditur.Tidak masuk akal jika kepercayaan pemodal asing kepada kita mulai pulih. Jadi, dalam konteks dana asing yang mulai masuk lagi ke pasar uang, lebih karena kita berani menjanjikan dan memberi untung besar buat mereka, bukan karena membaiknya kinerja perekonomian kita.Kita harus mendewasakan diri dan bersikap bijak tegas menghadapi pemodal asing sebab sudah puluhan tahun kita berhadapan dengan mereka. Pada era globalisasi sekarang, perilaku kampungan menghadapi asing harus dihilangkan.Kuburkan mental ndeso yang mudah terbuai oleh puja-puji orang atau lembaga multilateral asing. Sama seperti Jepang, Korsel, China, India bahkan Malaysia yang penuh curiga, kita pun harus punya sikap reserve menghadapi pemodal asing.Mereka boleh mencari untung di negara ini, tetapi rakyat Indonesia dapat apa? Harus saling memberi dan menerima. Kalau mereka hanya mau ambil untung, kita harus berani katakan tidak.
Oleh Bambang SoesatyoKetua Komite Tetap Perdagangan Dalam Negeri Kadin/ Ketua Umum Ardin Indonesia
sumber : bisnis indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar