oleh : Djony Edward
BANDUNG (bisnis.com): Pakar Politik Universitas Pajajaran dan Universitas Katolik Parahyangan menilai bercerainya Partai Demokrat dan Partai Golkar masih bersifat sementara, karena Susilo Bambang Yudhoyono tetap membutuhkan Partai Golkar.Pakar Politik Universitas Katolik Parahyangan, Asep Warlan di Bandung, menuturkan Yudhoyono masih membutuhkan dukungan Partai Golkar untuk jangka panjang dalam mengamankan seluruh kebijakannya di parlemen sehingga cerainya kedua partai ini masih belum final."Untuk jangka panjang kebutuhan akan Partai Golkar sangat kuat sedangkan menghadapi Pemilu Presiden tentu saja Yudhoyono akan sangat percaya diri melenggang dengan PKS dan PKB meski tanpa Partai Golkar," ujarnya.Namun demikian keputusannya saat ini sangat berpengaruh pada program jangka panjangnya tersebut dimana menggandeng Partai Golkar harus dilakukan."Pertimbangan tersulit Yudhoyono dalam memilih calon wakil presiden dari Partai Golkar adalah akibat gonjang-ganjingnya konflik yang terjadi sehingga muncul keharusan menyebutkan tiga nama,"katanya.Tentu saja, lanjut Asep, hal ini dikarenakan Yudhoyono tidak ingin mengambil alih konflik di tubuh Partai Golkar. "Ia menginginkan siapapun nama yang akan dipilih dari tiga nama yang ada Partai Golkar akan tetap solid dalam pemenangannya," ujarnya.Pendapat ini juga dibenarkan Indera Perwira dari Universitas Pajajaran dimana kemenangan Partai Demokrat hanya semata-mata mendapat respon positif atas sosok Yudhoyono."Kemenangan Demokrat bukan karena mesin partai namun lebih pada sosok Yudhoyono yang telah dinilai berhasil dalam perubahan di masyarakat," katanya.Menurutnya wacana untuk menjadi oposisi bagi Partai Golkar menurutnya adalah tindakan yang lucu karena didasari kepanikan atas kekalahan yang dialaminya."Jika Golkar oposisi, dia belum siap karena telah terbiasa berperan sebagai penguasa sedangkan untuk bergabung dengan PDI Perjuangan-pun tidak ada sejarahnya dapat bersatu," katanya.Karena itu, Partai Golkar tetap harus realistis dan yakin bahwa Demokrat masih membutuhkan. "Siapapun calon wapres dari Golkar, itulah yang harus didukung oleh seluruh kader pohon beringin," katanya.Indera menilai sosok Akbar Tanjung yang mendapat dukungan penuh dari kader di daerah harus dicoba dimunculkan. "Jika Yudhoyono cerdik maka menggaet Akbar adalah cara termurah karena dukungannya lebih banyak ketimbang memilih JK," katanya.Sementara itu Pakar Pemerintahan Universitas Pajajaran, Dede Mariana menilai wacana Partai Golkar untuk menjadi oposisi akan menorehkan sejarah baru di perpolitikan Indonesia."Jika memilih untuk mengusung capres sendiri dan kalah lalu menjadi oposisi, saya meyakini Partai Golkar yang diisi politikus berpengalaman akan mampu memberikan warna dalam melakukan kritisi untuk pemerintahan mendatang ," katanya.Meskipun saat ini tergambar keretakan hubungan Yudhoyono dan Jusuf Kalla pasca-Pemilu Legislatif, ketiga pakar meyakini jalannya pemerintahan tidak akan terganggu."Yang terjadi saat ini hanyalah hambatan komunikasi dan bukan hambatan kinerja sehingga meski ada konflik tidak akan mengubah kebijakan kenegaraannya," kata Dede.Sedangkan Indera menilai faktor kedewasaan keduanya sangat dituntut karena sebagai negarawan, pemerintahan Yudhoyono dan JK hingga saat masih dinilai baik masyarakat berdasarkan tingginya perolehan suara Partai Demokrat."Cerainya kedua partai ini masih belum jelas apakah talak satu atau tiga, kalaupun talak tiga masih ada kemungkinan rujuk," kata Indera. (dj)
BANDUNG (bisnis.com): Pakar Politik Universitas Pajajaran dan Universitas Katolik Parahyangan menilai bercerainya Partai Demokrat dan Partai Golkar masih bersifat sementara, karena Susilo Bambang Yudhoyono tetap membutuhkan Partai Golkar.Pakar Politik Universitas Katolik Parahyangan, Asep Warlan di Bandung, menuturkan Yudhoyono masih membutuhkan dukungan Partai Golkar untuk jangka panjang dalam mengamankan seluruh kebijakannya di parlemen sehingga cerainya kedua partai ini masih belum final."Untuk jangka panjang kebutuhan akan Partai Golkar sangat kuat sedangkan menghadapi Pemilu Presiden tentu saja Yudhoyono akan sangat percaya diri melenggang dengan PKS dan PKB meski tanpa Partai Golkar," ujarnya.Namun demikian keputusannya saat ini sangat berpengaruh pada program jangka panjangnya tersebut dimana menggandeng Partai Golkar harus dilakukan."Pertimbangan tersulit Yudhoyono dalam memilih calon wakil presiden dari Partai Golkar adalah akibat gonjang-ganjingnya konflik yang terjadi sehingga muncul keharusan menyebutkan tiga nama,"katanya.Tentu saja, lanjut Asep, hal ini dikarenakan Yudhoyono tidak ingin mengambil alih konflik di tubuh Partai Golkar. "Ia menginginkan siapapun nama yang akan dipilih dari tiga nama yang ada Partai Golkar akan tetap solid dalam pemenangannya," ujarnya.Pendapat ini juga dibenarkan Indera Perwira dari Universitas Pajajaran dimana kemenangan Partai Demokrat hanya semata-mata mendapat respon positif atas sosok Yudhoyono."Kemenangan Demokrat bukan karena mesin partai namun lebih pada sosok Yudhoyono yang telah dinilai berhasil dalam perubahan di masyarakat," katanya.Menurutnya wacana untuk menjadi oposisi bagi Partai Golkar menurutnya adalah tindakan yang lucu karena didasari kepanikan atas kekalahan yang dialaminya."Jika Golkar oposisi, dia belum siap karena telah terbiasa berperan sebagai penguasa sedangkan untuk bergabung dengan PDI Perjuangan-pun tidak ada sejarahnya dapat bersatu," katanya.Karena itu, Partai Golkar tetap harus realistis dan yakin bahwa Demokrat masih membutuhkan. "Siapapun calon wapres dari Golkar, itulah yang harus didukung oleh seluruh kader pohon beringin," katanya.Indera menilai sosok Akbar Tanjung yang mendapat dukungan penuh dari kader di daerah harus dicoba dimunculkan. "Jika Yudhoyono cerdik maka menggaet Akbar adalah cara termurah karena dukungannya lebih banyak ketimbang memilih JK," katanya.Sementara itu Pakar Pemerintahan Universitas Pajajaran, Dede Mariana menilai wacana Partai Golkar untuk menjadi oposisi akan menorehkan sejarah baru di perpolitikan Indonesia."Jika memilih untuk mengusung capres sendiri dan kalah lalu menjadi oposisi, saya meyakini Partai Golkar yang diisi politikus berpengalaman akan mampu memberikan warna dalam melakukan kritisi untuk pemerintahan mendatang ," katanya.Meskipun saat ini tergambar keretakan hubungan Yudhoyono dan Jusuf Kalla pasca-Pemilu Legislatif, ketiga pakar meyakini jalannya pemerintahan tidak akan terganggu."Yang terjadi saat ini hanyalah hambatan komunikasi dan bukan hambatan kinerja sehingga meski ada konflik tidak akan mengubah kebijakan kenegaraannya," kata Dede.Sedangkan Indera menilai faktor kedewasaan keduanya sangat dituntut karena sebagai negarawan, pemerintahan Yudhoyono dan JK hingga saat masih dinilai baik masyarakat berdasarkan tingginya perolehan suara Partai Demokrat."Cerainya kedua partai ini masih belum jelas apakah talak satu atau tiga, kalaupun talak tiga masih ada kemungkinan rujuk," kata Indera. (dj)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar