JAKARTA: Tim Teknis Revitalisasi Perkeretaapian Nasional merekomendasikan kebutuhan dana untuk program revitalisasi kereta api selama 2010-2020 mencapai Rp200 triliun.Rekomendasi yang dipublikasikan pada saat pembentukan Indonesia Railway Forum, kemarin, menyebutkan dana sebesar itu digunakan untuk meningkatkan kapasitas infrastruktur, sarana kereta, dan software.Tim revitalisasi itu memerinci kebutuhan investasi peningkatan prasarana perkeretaapian mencapai Rp140 triliun atau 70% dari total kebutuhan, sedangkan pengadaan sarana dan software masing-masing Rp40 triliun (20%) dan Rp20 triliun (10%).Revitalisasi kereta api diproyeksikan akan berdampak pada peningkatan pangsa penumpang KA dari rata-rata 4% menjadi 20%-25% per tahun, sedangkan pasar angkutan barang diprediksi naik ke level 5%-10% dari 0,7% saat ini.Direktur Jenderal Perkeretaapian Departemen Perhubungan Tundjung Dermawan mengatakan rekomendasi dari Tim Teknis Revitalisasi Perkeretaapian Nasional akan digunakan sebagai landasan untuk menyusun anggaran perkeretaapian di Dephub.Menurut dia, pihaknya telah memperoleh sinyal dari Menteri Keuangan Sri Mulyani yang siap menggelontorkan Rp19 triliun melalui APBN untuk program revitalisasi KA dalam 3 tahun pertama. "Menkeu sudah menyetujui Rp19 triliun," katanya.Sementara itu, Menhub Jusman Syafii Djamal mengatakan pada 2009 Dephub akan memfokuskan revitalisasi perkeretaapian untuk kereta komuter jalur pendek.Menurut Jusman, pada tahun ini akan dipacu pengembangan operasional kereta rel diesel elektrik (KRDE) untuk rute jarak pendek dengan membuka kembali jalur-jalur yang telah berhenti operasi."Keberadaan kereta komuter nantinya akan mendukung kereta jarak jauh yang operasionalnya sudah 24 jam sekaligus mengurangi beban jalan raya," katanya seusai peluncuran KA Rencang Geulis jurusan Padalarang-Cibatu di Bandung, kemarin.Dia mengatakan pengembangan kereta jarak pendek yang menggunakan KRDE sudah digunakan di beberapa rute, seperti Prambanan Ekspres (Yogyakarta-Solo), Baraya Geulis (Bandung-Cicalengka), Bumi Geulis (Bogor-Sukabumi), dan Rencang Geulis.Sebelumnya, Dephub memperkirakan kebutuhan investasi program revitalisasi KA mencapai Rp121 triliun, sedangkan Lembaga Afiliasi Penelitian Indonesia Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB) memprediksi Rp115 triliun selama 2006-2030.Anggota Tim Teknis Revitalisasi Perkeretaapian Nasional Suyono Dikun mengatakan program revitalisasi KA harus dilakukan secara menyeluruh.Kontribusi swastaDeputi Menko Perekonomian Bidang Infrastruktur Bambang Susantono mengatakan kontribusi swasta pada program revitalisasi perkeretaapian nasional dapat digenjot dengan menciptakan kompetisi antaroperator yang sehat dan dinamis."Caranya, pengelolaan prasarana dengan sarana harus dipisahkan. Prasarana dikelola oleh pemerintah karena terkait dengan safety, sedangkan operator dibuka bagi swasta," katanya.Tundjung mengakui pemisahan pengelolaan sarana dan prasarana perkeretaapian akan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada swasta untuk berinvestasi di sektor itu.Namun, menurut anggota Tim Teknis Revitalisasi Perkeretaapian Nasional Farid Harianto, dana revitalisasi tidak bisa diharapkan dari investasi swasta karena minat untuk menanamkan modal di sektor itu masih minim.Dia mengungkapkan investasi swasta dalam industri perkeretaapian akan terfokus pada angkutan penumpang dan barang yang memenuhi syarat perlu di antaranya permintaan pasar yang kuat dan peraturan pemerintah yang jelas.Berdasarkan kajian tim itu, kontribusi swasta untuk program revitalisasi KA diperkirakan hanya berkisar 10%-20%. "Artinya, negara [APBN] harus menanggung 80%-90% dari total dana revitalisasi yang dibutuhkan," tutur Farid. (22/k37) (tularji@bisnis.co.id)Oleh TularjiBisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar