Selasa, 27 Oktober 2009

Selamatkan Bumi dengan ganggang Solusi murah dengan hasil bahan baker

JAKARTA: Para ahli dari berbagai disiplin ilmu bersatu mengembangkan teknologi pengembangbiakan ganggang laut sebagai penyerap gas rumah kaca sekaligus penghasil bahan bakar.


Upaya ini dilakukan karena untuk masa mendatang, dunia harus berhadapan dengan naik turunnya harga minyak. Ganggang dipilih karena terbukti, tanaman kecil penuh lemak ini mampu tumbuh dengan cepat.

Para ahli mengatakan, sungguh menggugah minat saat mengetahui bahwa tanaman itu memiliki kemampuan luar biasa melahap karbon dioksida, gas rumah kaca, dan pada saat yang sama hidup dengan bahagia di bermacam tempat yang tak diperlukan tanaman pangan.

Ganggang menyukai rawa yang dipenuhi nyamuk, misalnya, kolam kotor, dan bahkan air limbah. Meski tak seorang pun pernah menemukan cara untuk menghasilkan secara massal bahan bakar murah dari ganggang, kegiatan tersebut mulai berjalan, demikian laporan kantor berita Prancis, AFP.

Banyak laboratoriun universitas dan perusahaan di seluruh Amerika Serikat terlibat. Selama musim panas, mega-perusahaan pertama bergabung, ketika ExxonMobil menyatakan perusahaan tersebut akan menenggelamkan US$600 juta di dalam penelitian mengenai ganggang melalui kemitraan dengan satu perusahaan bioteknologi California.

Jika penelitian itu berjalan baik, para ilmuwan mengatakan mereka akhirnya menemukan cara dengan biaya murah untuk mengubah minyak organik dari kolam ganggang jadi bahan bakar untuk mobil, truk, dan jet.

"Saya kira itu sangat realistis. Saya kira itu takkan memerlukan waktu sampai 20 tahun. Itu akan memakan waktu beberapa tahun," kata insinyur kimia George Philippidis, Direktur Penelitian Terapan di Florida International University di Miami.

Salah satu faktor yang memicu antusiasme ialah nafsu besar ganggang akan karbon dioksida -produk sampingan pembakaran bahan bakar fosil.

Menurut dia, pihaknya dapat membuat hubungan dengan saluran pembuangan industri pembuat pencemaran untuk menangkapnya dan membuatnya jadi makanan ganggang dan mencegah CO2 memberi sumbangan bagi perubahan iklim lebih lanjut.

Perusahaan California Sapphire Energy sudah melakukan perjalanan lintas-alam dengan menggunakan bahan bakar dari ganggang.

Perjalanan tersebut, yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran, menyulut berita besar bertajuk Coast to Coast on Slime.

Satu perusahaan lain California sedang meneliti upaya penggemukan ikan dengan menggunakan ganggang dan kemudian memproses ikan itu jadi minyak.

"Di mana ganggang sangat berlimpah di situ lah terdapat lahan subur untuk pengembangbiakan. Itu ada di mana saja dan Anda tak perlu repot. Bumi telah merencanakannya," kata Roy Swiger, ahli genetika molekular dan direktur divisi lembaga nirlaba Midwest Research Institute (MRI) di Florida.

MRI mulai mempelajari ganggang sebagai sumber energi 3 tahun lalu. Swiger memperingatkan bahwa bahan bakar ganggang belum siap dimanfaatkan. Sekalipun ganggang tumbuh tak terkendali, saat ini dibutuhkan US$100 untuk membuat satu galon bahan bakar ganggang -bukan penghematan.

Kesulitan

Kesulitannya ialah membuat biaya turun, dan produksi naik. Untuk melakukan itu, para ilmuwan harus menemukan cara mengeringkan ganggang dan menyuling minyak organik, sehingga memungkinkan energi disimpan.

Swiger mengatakan tak masuk akal mengeluarkan US$5 untuk listrik guna mengoperasikan satu sentrifugal untuk mengeringkan ganggang, yang pada gilirannya hanya akan menghasilkan bahan bakar bernilai US$1.

Jika penelitian berjalan lancar, Swiger berpendapat akan diperlukan waktu 5 tahun untuk menurunkan biaya produksi jadi US$40 per galon.

Namun, membawa sekalipun hanya sedikit minyak ke pasar energi -ethanol telah menambah saham 4,0%, misalnya - dapat mengalihkan campuran energi.

"4% Tidak banyak, tetapi tetap saja ke mana pun anda memandang di sana ada pemompaan. Jadi 4% dari jumlah yang luar biasa besarnya sangat banyak," ujar Swiger.

Sebagian kelompok yang memulai lebih optimistis. Paul Woods, pemimpin pelaksana Algenol Biofuels, yang berpusat di Florida, mengatakan perusahaannya akan mengalahkan yang lain di pasar.

Dia telah mematenkan satu teknologi bagi ethanol "berkeringat" dari ganggang, tetapi mengeringkannya lebih dulu.

"Kita melihat diri sebagai cara yang sangat murah untuk menambah [pasokan energi], dan makin murah ethanol yang kita miliki, makin banyak kita menang dalam upaya memiliki kemandirian dari bahan bakar asing," kata Woods.

Woods mengumumkan, kemitraan dengan Dow Chemical pada Juli untuk membangun pabrik demonstrasi dan berharap dapat melancarkan produksi komersial paling lambat pada 2011.

Banyak ahli tak memandang bahan bakar ganggang untuk sepenuhnya menggantikan bahan bakar fosil dan sebagian ahli telah menjadi curiga.

Gagasan untuk memanen ganggang buat bahan bakar telah beredar selama beberapa dasawarsa, kata mereka. Namun, tak seorang pun mampu membuatnya layak secara finansial.

ANTARA

Tidak ada komentar: