Selasa, 27 Oktober 2009

Falsafah pemimpin

Jumat, 23/10/2009 09:26 WIB A. M. Lilik Agung

Falsafah pemimpin

oleh : A. M. Lilik Agung
Trainer dan Pembicara Publik. Mitra Pengelola High Leap Consulting


Ada empat hukum tidak tertulis manakala pemilik perusahaan bermaksud menyerahkan tampuk kepemimpinannya kepada orang lain. Terlebih lagi apabila perusahaan bersangkutan disebut perusahaan keluarga.

Hukum pertama, tampuk kepemimpinan diserahkan kepada anggota keluarga paling dekat. Bisa kepada anaknya, saudara sekandung atau saudara sekandung dari pasangannya. Bila hukum pertama tidak bisa terpenuhi, hukum kedua berlaku, yaitu kepada orang-orang kepercayaan yang masih dalam ikatan keluarga.

Jika hukum kedua ini dilanggar, maka hukum ketiga menjadi alternatif. Pemimpin perusahaan akan dicari dari orang-orang yang satu suku atau satu almamater atau satu golongan dengan pemilik.

Manakala hukum ketiga juga tak terpenuhi, senjata pamungkas paling akhir biasanya hukum keempat, yaitu orang yang satu agama (kepercayaan) dengannya. Karena berkawan akrab dalam satu kelompok agama (kepercayaan), sang pemilik merasa aman, nyaman, dan percaya dengan orang bersangkutan.

Namun, dalam bisnis sering muncul paradoks yang sering tidak dapat ditemukan dalam referensi-referensi ilmiah. Paradoks ini yang terjadi antara Hermes Thamrin dan Djatmiko Wardoyo.

Khalayak tahu bahwa Hermes Thamrin merupakan wirausaha yang dibesarkan dari lapangan (street smart) dan kemudian mengembangkan jaringan ritel telekomunikasi bernama Global Teleshop. Ketika gerai Global Teleshop masih berjumlah puluhan dan hanya tersebar di kota-kota besar, Hermes Thamrin membuat keputusan yang mungkin paling dramatis dalam hidupnya; mengangkat CEO baru.

Tidak tanggung-tanggung CEO baru tersebut orang muda berumur tiga puluhan tahun dan memiliki kriteria yang berseberangan dengan empat hukum suksesi kepemimpinan perusahaan keluarga. CEO itu bernama Djatmiko Wardoyo.

Sebagai CEO, Djatmiko Wardoyo sama sekali tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Hermes Thamrin. Pun dilihat dari sudut suku dan agama, Djatmiko Wardoyo berbeda dengan Hermes Thamrin.

Djatmiko Wardoyo terlahir sebagai suku Jawa, dibesarkan di Yogyakarta, dan seorang muslim yang taat. Sementara Hermes Thamrin bersuku China kelahiran Sumatra dan penganut Katolik nan khusyuk. Hampir semua gerai Global Teleshop ketika pembukaan perdana selalu diawali dengan Misa yang dipersembahkan oleh Pastor Katolik.

Nilai tambah

Dengan segala latar belakang berbeda ini justru memberi nilai tambah bagi kedua orang ini untuk membesarkan Global Teleshop. Sekarang, belum genap 10 tahun Djatmiko Wardoyo memimpin Global Teleshop, terjadi pertumbuhan signifikan perusahaan.

Jumlah gerai Global Teleshop sudah mencari ratusan dan tersebar pada hampir semua kota dan kabupaten di seluruh Indonesia. Bisnisnya pun berbiak merambah sektor media cetak, jaringan perhotelan, dan agrobisnis.

Menelisik kesuksesan Djatmiko Wardoyo dalam menjawab tantangan sang pemilik sekaligus membesarkan Global Teleshop Group, ternyata beliau memiliki tiga falsafah yang justru diperoleh dari renungan seorang rahib Buddha.

Kata sang rahib, orang bisa mencapai kesuksesan paripurna manakala mampu menjawab tiga pertanyaan sederhana. Pertanyaan pertama, "Kapan waktu terbaik bagi Anda?"

Bagi mayoritas orang, jawaban menyoal waktu terbaik biasanya saat pagi atau malam hari. Waktu ketika terjadi keheningan sehingga orang bisa berefleksi. Namun, tidak menutup jawaban pada siang, sore atau petang hari dengan berbagai alasannya. Ternyata jawaban sang rahib sesederhana pertanyaannya: waktu terbaik adalah saat ini juga.

Hal ini yang juga dipercayai oleh Djatmiko Wardoyo. Karena waktu sekarang adalah waktu terbaik, maka seluruh potensi yang ada pada dirinya akan dikerahkan untuk bekerja optimal. Djatmiko Wardoyo berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan, karyawan, pelanggan, dan seluruh pemangku kepentingan yang berhubungan dengan Global Teleshop Group.

Idiom bernama 'buang-buang waktu,' tidak ada dalam kamusnya. Justru yang ada adalah mengoptimalkan pemakaian waktu untuk hasil yang juga optimal.

Pertanyaan kedua, "Siapa orang yang paling penting bagi Anda?" Bisa dimaklumi apabila jawabannya adalah kedua orangtua, pemimpin besar negara, pemimpin bisnis dunia, atau orang-orang terkenal lainnya.

Justru sang rahib memberikan jawaban nan sederhana: orang paling penting adalah orang yang sekarang bersama dengan Anda. Tak peduli orang itu atasan Anda, bawahan Anda, kolega Anda, konsumen Anda, pasangan Anda, sopir Anda, pembantu Anda. Ketika dia sedang bersama dengan Anda, dialah orang yang paling penting bagi Anda.

Memaknai filosofi ini, Djatmiko Wardoyo berusaha selalu respek terhadap orang yang sedang berhadapan dengannya, tidak peduli jabatan dan kedudukannya. Hukum sebab akibat akan berlaku dalam konteks ini.

Ketika kita respek terhadap orang lain, dapat dipastikan orang tersebut akan respek terhadap kita. Akibat lebih jauh karena saling menghormati, orang bersangkutan akan memberikan diri terbaiknya bagi kita. Inilah budaya yang dilakukan Djatmiko Wardoyo terhadap orang yang sedang berada dengannya; orang paling penting.

Pertanyaan ketiga, "Pekerjaan apa yang paling baik bagi Anda?" Tak salah apabila pekerjaan yang sesuai dengan aturan serta tidak melanggar norma dan etika, pekerjaan tersebut baik adanya. Namun, menurut sang rahib, melayani merupakan pekerjaan paling baik.

Pada Global Teleshop, pelayanan terbaik kepada konsumen tidak sekadar retorika nan miskin tindakan. Bisa dikatakan dibandingkan dengan jaringan toko pesaing, Global Teleshop mematok harga lebih mahal.

Namun, mengapa tetap saja banyak konsumen datang ke Global Teleshop dan jaringannya saban waktu bertambah? Tak salah, pelayanan terbaik merupakan kredo yang ditawarkan kepada konsumen.

Pelayanan terbaik tidak datang dari petugas front liner semata. Namun, merupakan rangkaian panjang yang dimulai dari pucuk pemimpinnya. Djatmiko Wardoyo telah memulai dengan brilian.

Akibatnya orang-orang yang berada di bawahnya dari level direktur hingga pada petugas toko yang berhadapan langsung dengan konsumen, tetap memberi pelayanan terbaik. Apa pun kejadiannya.

Sekarang, pada usia kurang dari 40 tahun, tampak kemampuan kepemimpinan Djatmiko Wardoyo semakin matang. Jika pepatah menyebut langkah besar dimulai pada usia 40 tahun, ke depan kita akan menyaksikan langkah raksasa Djatmiko Wardoyo dalam memimpin Global Teleshop Group.

Atau tidak menutup kemungkinan kiprah Djatmiko Wardoyo menjadi salah satu pemimpin pada sebuah organisasi pemerintah sebagai bentuk pengabdian untuk negeri yang dia cintai: Indonesia.

Tidak ada komentar: