Senin, 15/06/2009 13:09 WIB
JAKARTA (bisnis.com): Penajaman tren saling klaim terhadap kinerja positif yang diraih pemerintahan antara Capres Susilo Bambang Yudhoyono dan Capres Jusuf Kalla dianggap tidak melanggar etika karena yang membuktikannya fakta di lapangan.Pakar Komunikasi dan Strategi Politik Effendi Gazali mengatakan konsekuensi dari sistem politik langsung sehingga sah-sah saja antara SBY dan JK saling klaim, tapi tergantung faktanya di lapangan atau dokumen yang membenarkannya."Politik pencitraan memang harus saling menyerang, itu resmi pernyataan ilmu komunikasi politik loh. Tujuannya utk membedakan program dan rekam jejak kompetitor. Jadi sah-sah saja antara SBY dan JK saling klaim," ungkapnya menjawab Bisnis siang ini. Dia mengungkapkan sudah menjadi lazim pula capres baru (challenger) akan menyerang dan capres incumbent bersikap bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik."Kalau tidak mau attacking campaign, jangan ambil politik pemilihan langsung dengan pencitraan. Ambil saja pemilu gaya orde baru yang memilih partai, lalu partai memilih anggota DPR, DPR pilih presiden". Menurut dia, publik jangan mudah terkecoh dengan jargon politik santun karena sudah mahfum kalau incumbent berteriak harus santun karena memang mereka diuntungkan dengan mengajak model kampanye tersebut. "Coba kalau bukan incumbent, dia pasti tidak teriak-teriak begitu," katanya lagi. Kecenderungan saling klaim terhadap kinerja positif yang dicapai pemerintahan mulai menguat belakangan ini. Hal itu diawali oleh klaim kinerja positif yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera terhadap sejumlah departemen dan kementarian yang dipimpin oleh kader yang ditempatkan dalam Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Klaim terbaru disampaikan capres Jusuf Kalla atas proses perdamaian di Aceh. Menurut Kalla, dia mengambil risiko perjanjian damai tersebut serta kebijakan pembentukan partai lokal Aceh. Hal itu dilakukannya karena Kepala Negara enggan menandatangani dokumen dan surat penunjukan untuk tim diplomasi yang akan melakukan kesepakatan damai dengan Gerakan Aceh Merdeka. (tw)
JAKARTA (bisnis.com): Penajaman tren saling klaim terhadap kinerja positif yang diraih pemerintahan antara Capres Susilo Bambang Yudhoyono dan Capres Jusuf Kalla dianggap tidak melanggar etika karena yang membuktikannya fakta di lapangan.Pakar Komunikasi dan Strategi Politik Effendi Gazali mengatakan konsekuensi dari sistem politik langsung sehingga sah-sah saja antara SBY dan JK saling klaim, tapi tergantung faktanya di lapangan atau dokumen yang membenarkannya."Politik pencitraan memang harus saling menyerang, itu resmi pernyataan ilmu komunikasi politik loh. Tujuannya utk membedakan program dan rekam jejak kompetitor. Jadi sah-sah saja antara SBY dan JK saling klaim," ungkapnya menjawab Bisnis siang ini. Dia mengungkapkan sudah menjadi lazim pula capres baru (challenger) akan menyerang dan capres incumbent bersikap bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik."Kalau tidak mau attacking campaign, jangan ambil politik pemilihan langsung dengan pencitraan. Ambil saja pemilu gaya orde baru yang memilih partai, lalu partai memilih anggota DPR, DPR pilih presiden". Menurut dia, publik jangan mudah terkecoh dengan jargon politik santun karena sudah mahfum kalau incumbent berteriak harus santun karena memang mereka diuntungkan dengan mengajak model kampanye tersebut. "Coba kalau bukan incumbent, dia pasti tidak teriak-teriak begitu," katanya lagi. Kecenderungan saling klaim terhadap kinerja positif yang dicapai pemerintahan mulai menguat belakangan ini. Hal itu diawali oleh klaim kinerja positif yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera terhadap sejumlah departemen dan kementarian yang dipimpin oleh kader yang ditempatkan dalam Kabinet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Klaim terbaru disampaikan capres Jusuf Kalla atas proses perdamaian di Aceh. Menurut Kalla, dia mengambil risiko perjanjian damai tersebut serta kebijakan pembentukan partai lokal Aceh. Hal itu dilakukannya karena Kepala Negara enggan menandatangani dokumen dan surat penunjukan untuk tim diplomasi yang akan melakukan kesepakatan damai dengan Gerakan Aceh Merdeka. (tw)
Senin, 15/06/2009 16:25 WIB
BNI restrukturisasi utang debitur besar
oleh : Dwi Wahyuni
SURABAYA (bisnis.com): Kanwil 06 BNI mulai melakukan restrukturisasi utang terhadap sejumlah debitur besar untuk menghindari ancaman kenaikan kredit macet di bank itu. Namun sejauh ini bank tersebut baru melakukan restrukturisasi terhadap empat debitur besar. Total kredit yang sempat tersendat mencapai Rp500 miliar. Kepala Kantor Wilayah 06 BNI M. Khosim mengatakan proses restrukturisasi itu dilakukan untuk mencegah kenaikan NPL (Non Performing Loan). "Memang NPL kami masih tergolong bagus dan di bawah ketentuan BI, tapi tetap harus ada upaya untuk mencegah tren kenaikan kredit macet tersebut mengingat kondisi riil ekonomi yang belum sepenuhnya pulih," papar Khosim di Surabaya. Namun dia tidak bersedia menyebut keempat debitur besar tersebut. Pada prinsipnya, kata dia, keempatnya telah menyetujui penjadwalan ulang cicilan pinjamannya sesui dengan kemampuan mereka. Dengan begitu pembayaran angsuran utangnya bisa kembali lancar.Menurut dia, upaya pencegahan lonjakan kredit macet ini penting bagi perbankan di Jatim. Apalagi dalam catatan BI, performan NPL perbankan di wilayah ini cenderung meningkat. Data di BI Surabaya menyebutkan pada Marer 2009, NPL lembaga keuangan tersebut tercatat 3,26%. Bulan berikutnya naik menjadi 3,29%. Posisi NPL itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir 2008 yang hanya 2,39%. Kenaikan tren NPL itu bukan berarti akan membuat bank memperkecil penyaluran kredit. BNI sendiri, tambahnya, tetap akan menggenjot penyaluran kredit dan sektor yang dinilai memiliki daya tarik adalah membiayai proyek infrastruktur sesuai program dari pemerintah. "Kami siap mengikuti sindikasi bank untuk membiayai proyek nasional maupun lokal dan bersinergi dengan pemerintah daerah." (tw)
BNI restrukturisasi utang debitur besar
oleh : Dwi Wahyuni
SURABAYA (bisnis.com): Kanwil 06 BNI mulai melakukan restrukturisasi utang terhadap sejumlah debitur besar untuk menghindari ancaman kenaikan kredit macet di bank itu. Namun sejauh ini bank tersebut baru melakukan restrukturisasi terhadap empat debitur besar. Total kredit yang sempat tersendat mencapai Rp500 miliar. Kepala Kantor Wilayah 06 BNI M. Khosim mengatakan proses restrukturisasi itu dilakukan untuk mencegah kenaikan NPL (Non Performing Loan). "Memang NPL kami masih tergolong bagus dan di bawah ketentuan BI, tapi tetap harus ada upaya untuk mencegah tren kenaikan kredit macet tersebut mengingat kondisi riil ekonomi yang belum sepenuhnya pulih," papar Khosim di Surabaya. Namun dia tidak bersedia menyebut keempat debitur besar tersebut. Pada prinsipnya, kata dia, keempatnya telah menyetujui penjadwalan ulang cicilan pinjamannya sesui dengan kemampuan mereka. Dengan begitu pembayaran angsuran utangnya bisa kembali lancar.Menurut dia, upaya pencegahan lonjakan kredit macet ini penting bagi perbankan di Jatim. Apalagi dalam catatan BI, performan NPL perbankan di wilayah ini cenderung meningkat. Data di BI Surabaya menyebutkan pada Marer 2009, NPL lembaga keuangan tersebut tercatat 3,26%. Bulan berikutnya naik menjadi 3,29%. Posisi NPL itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan posisi akhir 2008 yang hanya 2,39%. Kenaikan tren NPL itu bukan berarti akan membuat bank memperkecil penyaluran kredit. BNI sendiri, tambahnya, tetap akan menggenjot penyaluran kredit dan sektor yang dinilai memiliki daya tarik adalah membiayai proyek infrastruktur sesuai program dari pemerintah. "Kami siap mengikuti sindikasi bank untuk membiayai proyek nasional maupun lokal dan bersinergi dengan pemerintah daerah." (tw)
Jumat, 12/06/2009 09:06 WIB
Visionaris
oleh : Andrias HarefaPenggagas Visi Indonesia 2045
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Kita paham bahwa yang namanya pemimpin itu pastilah seorang visionaris. Ia menjadi visionaris karena memiliki ketidakpuasan mendalam mengenai realitas faktual masa kini, yang sekaligus dibarengi dengan suatu pandangan yang amat tajam mengenai kemungkinan menciptakan realitas baru pada masa depan, yang secara mendasar lebih baik, lewat agenda kerja tertentu.
Jika orang memiliki ketidakpuasan mendalam mengenai situasi dan kondisi saat ini, dan berharap akan datangnya kondisi yang lebih baik, tetapi tidak terdorong untuk melakukan apa pun, maka dia adalah orang biasa. Sebab setiap insan yang dianggap normal mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Dia bukan pemimpin. Yang justru penting adalah kemampuan melihat secara tajam tentang kemungkinan menciptakan situasi dan kondisi baru pada masa depan, yang lebih baik, lewat agenda kerja tertentu. Penglihatan yang tajam itu membuat orang disebut visioner, menjadi visionaris alias pemimpin.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa pemimpin itu tidak boleh realistis. Data-data masa kini justru sangat tidak memuaskan dirinya. Fakta-fakta yang nyata di lapangan justru membuatnya sedih dan prihatin. Karena itu dia berbicara dan menawarkan sesuatu yang ideal, yang tidak realistis, tetapi yang sungguh pantas untuk diperjuangkan.
Tugas pemimpin sebagai visionaris adalah memformulasikan visi yang besar dan jelas agar memikat orang lain untuk mengikutinya secara sukarela, menjadi konstituen, menjadi pengikut, menjadi pendukung.
Dia harus bisa membuat visi yang diformulasikannya itu menjadi "milik bersama", milik sebanyak mungkin orang. Visi itu tidak cukup hanya menarik perhatian sekelompok orang, tetapi harus meyakinkan banyak orang.
Mengapa sebuah visi yang diformulasikan oleh pemimpin harus menjadi visi bersama? Sebab kita paham bahwa orang tidak bisa menjadi pemimpin yang lebih besar dari cakupan kepentingan yang dia formulasikan dalam visinya.
Jika visinya hanya mencakup kepentingan keluarga dan kerabat dekat, cakupannya akan sangat terbatas. Jika visinya menyangkut organisasi bisnis keluarga (privat), boleh jadi akan berbeda dengan visi organisasi bisnis milik publik.
Organisasi massa, organisasi politik, organisasi agama, dan organisasi sosial lainnya juga akan memiliki rumusan visi yang berbeda-beda pula. Pemimpin pada skala nasional, pemimpin sebuah negara-bangsa, sudah seharusnya kita harapkan memiliki visi yang mencakup kepentingan seluruh komponen dalam masyarakat bangsa tersebut.
Visi sang pemimpin juga harus menjadi "visi bersama", sebab untuk merealisasikan visi yang besar tidaklah mungkin mengandalkan dirinya atau kelompoknya sendiri. Jika masa depan yang ingin dicapai itu bisa dicapai tanpa dukungan banyak orang, maka visi itu pastilah bukan visi dalam artinya yang sesungguhnya. Di sinilah letak hubungan antara pemimpin dan konstituen, pengikut, pendukungnya: keduanya saling membutuhkan, saling merindukan, dan saling bergantung satu sama lain.
Namun, prakarsa dan tanggung jawab adalah pertama-tama urusan pemimpin. Pemimpin mengambil prakarsa dan menerima tanggung jawab untuk memformulasikan visinya dan "menjualnya" kepada orang banyak. Lalu konstituen yang melihat berbagai kepentingannya di dalam visi itu, yang yakin akan kesungguhan sang pemimpin, akan mendekat untuk menyatakan dukungannya.
Kalau ada kritik yang perlu diajukan kepada para pemimpin di negeri ini, kritik itu mungkin adalah soal tidak jelasnya visi dan agenda aksi yang menyertainya. Sebagai akibatnya, pihak yang diharapkan menjadi konstituen kemudian terombang-ambing tak karuan karena pemimpin yang satu dengan pemimpin yang lain tak jelas benar perbedaannya. Dalam konteks politik, kondisi semacam inilah yang kemudian menyuburkan apa yang disebut pakar politik sebagai politik dagang sapi, politik uang, dan yang semacam itu.
Mungkin pihak-pihak yang berhasrat besar menjadi pemimpin, baik dalam skala mikro di perusahaan (privat), terlebih lagi dalam skala makro di pemerintahan (publik), perlu kita ingatkan bahwa visi merupakan faktor pemicu (precipitating factor) yang amat vital.
Kekuatan visi
Visi menggerakkan cipta, rasa, karsa, dan karya. Visi memberi inspirasi, menggugah emosi, membangkitkan antusiasme, dan menyuntikkan motivasi. Visi menimbulkan sense of direction, menunjukkan arah yang perlu ditempuh.
Visi memberikan sense of urgency, kemampuan untuk membedakan antara yang penting dan genting (mendesak), dan yang penting tetapi belum genting. Visi memberikan fokus untuk melakukan segmentasi, targeting, dan positioning. Visi bahkan memberikan sense of identity, suatu rasa identitas kolektif yang dapat menimbulkan rasa bangga.
Secara negatif bisa dikatakan bahwa tidak tampaknya sense of direction, sense of urgency, dan sense of identity, disebabkan terutama oleh kegagalan pemimpin sebagai visionaris.
Itu pertanda pemimpin tidak bekerja, tidak melaksanakan apa yang menjadi inti dari pekerjaannya. Tanpa visi yang besar dan jelas, inspirasi akan surut, antusiasme akan sayup, dan motivasi akan redup.
Dalam konteks bisnis, beberapa contoh sederhana mungkin perlu. Visi Edwin Land ketika membuat kamera langsung jadi (Polaroid) menginspirasi pasar pada zamannya. Visi Akio Morita membuat radio-tape ukuran portable menggairahkan orang-orang yang membutuhkan produk tersebut.
Visi Bill "Microsoft" Gates untuk menghadirkan komputer di setiap meja dalam setiap rumah, pernah menjadi pemicu inspirasi yang luar biasa dalam industri terkait. Visi Michael Dell untuk menjual komputer lewat sistem antar langsung (direct). Visi Tirto Oetomo dengan Aqua menginspirasi air mineral dalam kemasan.
Jadi, untuk masa depan negeri tercinta ini, kita bisa berseru: wahai pemimpin, bekerjalah! Berikan kami sebuah visi besar yang menggugah hati, dan agenda kerja yang jelas, agar dukungan kami tak berpaling darimu
Visionaris
oleh : Andrias HarefaPenggagas Visi Indonesia 2045
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Kita paham bahwa yang namanya pemimpin itu pastilah seorang visionaris. Ia menjadi visionaris karena memiliki ketidakpuasan mendalam mengenai realitas faktual masa kini, yang sekaligus dibarengi dengan suatu pandangan yang amat tajam mengenai kemungkinan menciptakan realitas baru pada masa depan, yang secara mendasar lebih baik, lewat agenda kerja tertentu.
Jika orang memiliki ketidakpuasan mendalam mengenai situasi dan kondisi saat ini, dan berharap akan datangnya kondisi yang lebih baik, tetapi tidak terdorong untuk melakukan apa pun, maka dia adalah orang biasa. Sebab setiap insan yang dianggap normal mengharapkan kehidupan yang lebih baik. Dia bukan pemimpin. Yang justru penting adalah kemampuan melihat secara tajam tentang kemungkinan menciptakan situasi dan kondisi baru pada masa depan, yang lebih baik, lewat agenda kerja tertentu. Penglihatan yang tajam itu membuat orang disebut visioner, menjadi visionaris alias pemimpin.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa pemimpin itu tidak boleh realistis. Data-data masa kini justru sangat tidak memuaskan dirinya. Fakta-fakta yang nyata di lapangan justru membuatnya sedih dan prihatin. Karena itu dia berbicara dan menawarkan sesuatu yang ideal, yang tidak realistis, tetapi yang sungguh pantas untuk diperjuangkan.
Tugas pemimpin sebagai visionaris adalah memformulasikan visi yang besar dan jelas agar memikat orang lain untuk mengikutinya secara sukarela, menjadi konstituen, menjadi pengikut, menjadi pendukung.
Dia harus bisa membuat visi yang diformulasikannya itu menjadi "milik bersama", milik sebanyak mungkin orang. Visi itu tidak cukup hanya menarik perhatian sekelompok orang, tetapi harus meyakinkan banyak orang.
Mengapa sebuah visi yang diformulasikan oleh pemimpin harus menjadi visi bersama? Sebab kita paham bahwa orang tidak bisa menjadi pemimpin yang lebih besar dari cakupan kepentingan yang dia formulasikan dalam visinya.
Jika visinya hanya mencakup kepentingan keluarga dan kerabat dekat, cakupannya akan sangat terbatas. Jika visinya menyangkut organisasi bisnis keluarga (privat), boleh jadi akan berbeda dengan visi organisasi bisnis milik publik.
Organisasi massa, organisasi politik, organisasi agama, dan organisasi sosial lainnya juga akan memiliki rumusan visi yang berbeda-beda pula. Pemimpin pada skala nasional, pemimpin sebuah negara-bangsa, sudah seharusnya kita harapkan memiliki visi yang mencakup kepentingan seluruh komponen dalam masyarakat bangsa tersebut.
Visi sang pemimpin juga harus menjadi "visi bersama", sebab untuk merealisasikan visi yang besar tidaklah mungkin mengandalkan dirinya atau kelompoknya sendiri. Jika masa depan yang ingin dicapai itu bisa dicapai tanpa dukungan banyak orang, maka visi itu pastilah bukan visi dalam artinya yang sesungguhnya. Di sinilah letak hubungan antara pemimpin dan konstituen, pengikut, pendukungnya: keduanya saling membutuhkan, saling merindukan, dan saling bergantung satu sama lain.
Namun, prakarsa dan tanggung jawab adalah pertama-tama urusan pemimpin. Pemimpin mengambil prakarsa dan menerima tanggung jawab untuk memformulasikan visinya dan "menjualnya" kepada orang banyak. Lalu konstituen yang melihat berbagai kepentingannya di dalam visi itu, yang yakin akan kesungguhan sang pemimpin, akan mendekat untuk menyatakan dukungannya.
Kalau ada kritik yang perlu diajukan kepada para pemimpin di negeri ini, kritik itu mungkin adalah soal tidak jelasnya visi dan agenda aksi yang menyertainya. Sebagai akibatnya, pihak yang diharapkan menjadi konstituen kemudian terombang-ambing tak karuan karena pemimpin yang satu dengan pemimpin yang lain tak jelas benar perbedaannya. Dalam konteks politik, kondisi semacam inilah yang kemudian menyuburkan apa yang disebut pakar politik sebagai politik dagang sapi, politik uang, dan yang semacam itu.
Mungkin pihak-pihak yang berhasrat besar menjadi pemimpin, baik dalam skala mikro di perusahaan (privat), terlebih lagi dalam skala makro di pemerintahan (publik), perlu kita ingatkan bahwa visi merupakan faktor pemicu (precipitating factor) yang amat vital.
Kekuatan visi
Visi menggerakkan cipta, rasa, karsa, dan karya. Visi memberi inspirasi, menggugah emosi, membangkitkan antusiasme, dan menyuntikkan motivasi. Visi menimbulkan sense of direction, menunjukkan arah yang perlu ditempuh.
Visi memberikan sense of urgency, kemampuan untuk membedakan antara yang penting dan genting (mendesak), dan yang penting tetapi belum genting. Visi memberikan fokus untuk melakukan segmentasi, targeting, dan positioning. Visi bahkan memberikan sense of identity, suatu rasa identitas kolektif yang dapat menimbulkan rasa bangga.
Secara negatif bisa dikatakan bahwa tidak tampaknya sense of direction, sense of urgency, dan sense of identity, disebabkan terutama oleh kegagalan pemimpin sebagai visionaris.
Itu pertanda pemimpin tidak bekerja, tidak melaksanakan apa yang menjadi inti dari pekerjaannya. Tanpa visi yang besar dan jelas, inspirasi akan surut, antusiasme akan sayup, dan motivasi akan redup.
Dalam konteks bisnis, beberapa contoh sederhana mungkin perlu. Visi Edwin Land ketika membuat kamera langsung jadi (Polaroid) menginspirasi pasar pada zamannya. Visi Akio Morita membuat radio-tape ukuran portable menggairahkan orang-orang yang membutuhkan produk tersebut.
Visi Bill "Microsoft" Gates untuk menghadirkan komputer di setiap meja dalam setiap rumah, pernah menjadi pemicu inspirasi yang luar biasa dalam industri terkait. Visi Michael Dell untuk menjual komputer lewat sistem antar langsung (direct). Visi Tirto Oetomo dengan Aqua menginspirasi air mineral dalam kemasan.
Jadi, untuk masa depan negeri tercinta ini, kita bisa berseru: wahai pemimpin, bekerjalah! Berikan kami sebuah visi besar yang menggugah hati, dan agenda kerja yang jelas, agar dukungan kami tak berpaling darimu
Jumat, 12/06/2009 09:09 WIB
Meneruskan usaha keluarga
oleh : A. B. SusantoManaging Partner The Jakarta Consulting Group
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Inilah kisah pengusaha sukses Ciputra yang akrab dipanggil Pak Ci dalam sebuah forum Family Business yang kami selenggarakan. Dalam rangka mempersiapkan generasi ketiga, Pak Ci telah mempersiapkan semacam kontrak keluarga (family contract), yang akan dibuat secara tertulis.
Dalam perjanjian tersebut antara lain disebutkan bahwa bila seorang anggota keluarga ingin meninggalkan perusahaan, dia tidak bisa menjual sahamnya tanpa persetujuan anggota keluarga yang lain. Bila dia ingin mendirikan usaha dalam bidang yang sama, dia hanya boleh jadi direksi, tidak jadi komisaris.
Menurut Pak Ci, perjanjian-perjanjian seperti ini harus dilakukan justru pada saat seluruh anggota keluarga masih sehat dan mampu. Setiap 1 atau 2 bulan sekali diadakan rapat keluarga, serta rapat dengan para profesional sebulan sekali.
Untuk generasi ketiga, Pak Ci mensyaratkan bahwa sebelum bekerja dalam perusahaan, mereka harus memiliki pengalaman bekerja di luar sekurang-kurang 3 tahun, dan bila sudah masuk dalam perusahaan akan ditempatkan di tempat yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki.
Menurut Pak Ci, generasi kedua yang masuk ke dalam perusahaan harus qualified dan bersikap profesional, dan harus patuh pada jam kerja yang telah ditetapkan. Jika mereka tidak mampu untuk memenuhi kriteria-kriteria di atas, mereka disarankan untuk bekerja di perusahaan lain atau tidak usah bekerja, cukup jadi komisaris, sebab kalau dia tidak qualified dan masuk di perusahaan dan jadi direktur, seluruh perusahaan dapat hancur. Guna membantu mewujudkan family governance, Pak Ci tidak segan-segan untuk meminta bantuan konsultan independen.
Secara umum sebuah perusahaan keluarga akan melewati empat tahapan, yaitu pengembangan, pengelolaan, transformasi, dan keberlanjutan. Perkembangan perusahaan keluarga bermula dari close-circle family atau immediate family sang pendiri. Berikutnya, ketika perusahaan mulai tumbuh, generasi kedua dan extended family mulai masuk, bahkan menjadi the dynasty of family. Selanjutnya perusahaan keluarga yang bisa survive mulai mengalami professional influx. Saat mencapai kematangan (maturity) dan stabil, peran profesional diperlukan untuk menangani perusahaan.
Bila berhasil mencapaui tahap ini, kemampuannya bersaing telah terbukti. Namun perusahaan tidak boleh berpuas diri. Perubahan akibat globalisasi, persaingan yang mematikan, teknologi yang maju dan cepat usang, perubahan iklim, dan krisis ekonomi global akan berdampak bagi perusahaan keluarga.
Tugas penerus
Apa pun perubahan yang terjadi, setiap pendiri dan pemilik perusahaan keluarga pastilah ingin agar perusahaan yang telah dibangunnya dengan susah payah mampu bertahan dan semakin berjaya meskipun sang pemilik telah meninggalkan perusahaan. Menjadi tugas generasi peneruslah untuk mewujudkan cita-cita sang pendiri ini.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memutuskan apakah dia ingin bergabung dengan perusahaan keluarga atau tidak. Sebuah keputusan yang tidak mudah karena pertimbangan kewajiban terhadap keluarga, ketidaksenangan karyawan, persaingan antarsaudara, dan sederet pertimbangan lainnya.
Bila generasi penerus merasa mantap untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan, pertama-tama perlu dilakukan evaluasi menyangkut proses pengambilan keputusan, prioritas jangka pendek demi kelangsungan perusahaan jangka panjang, perubahan dalam hubungannya dengan keluarga, moral karyawan, serta visi dan misi perusahaan.
Ke dalam keluarga sendiri, bila generasi penerus mampu mengelola potensi konflik dalam anggota keluarga dengan baik, keikutsertaan anggota keluarga lain dalam perusahaan juga dapat meningkatkan harmoni. Kebersamaan, bahu-membahu dalam membangun perusahaan keluarga akan mempererat tali kekeluargaan.
Generasi penerus berkewajiban untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Hal ini akan dapat membantu mereka mendapatkan penerimaan dan kredibilitas di mata karyawan perusahaan keluarga.
Penerimaan dan kredibilitas dapat menjadi kunci diperolehnya legitimasi, di mana seseorang mencapai sebuah posisi kekuasaan dan wewenang dengan memperoleh kepercayaan diri dan juga kepercayaan dari orang lain untuk memberikan kontribusi yang signifikan.
Legitimasi ini selanjutnya dapat menjadi modal yang dapat dimanfaatkan bagi kesuksesan sang penerus, di mana dia dapat menjalankan tugas-tugas strategis dan memperoleh kepercayaan untuk menduduki kursi kepemimpinan menggantikan generasi senior.
Pengalaman generasi penerus bekerja di luar perusahaan keluarga sebelum bergabung dalam perusahaan keluarga, akan memberi nilai tambah. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa generasi penerus yang bergabung dengan perusahaan keluarga setelah memiliki pengalaman bekerja di tempat lain ternyata diterima dengan baik oleh para karyawan perusahaan keluarga.
Mereka juga memperoleh insight yang sangat berharga mengenai dasar-dasar operasi sebuah perusahaan sehingga meningkatkan kredibilitas yang dimiliki, yang diperoleh dengan adanya pengalaman yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan suatu tugas lebih baik dibandingkan dengan orang lain.
Ada kalanya generasi muda memutuskan bergabung dengan perusahaan keluarga sebagai cara cepat dam mudah mendapatkan pekerjaan pemilik/pemimpin perusahaan pun seringkali mau menerima dengan alasan hubungan keluarga.
Namun, jika generasi penerus ini tidak kompeten, tidak mau belajar, bekerja keras, dan tidak mampu bekerja sama dengan orang lain, maka cepat atau lambat dia akan mendapatkan kesulitan. Posisinya tidak lagi aman. Perusahaan yang baik tidak mungkin menerima dan mempertahankan orang-orang yang tidak kompeten, yang mengancam eksistensi perusahaan.
Inilah tantangan yang dihadapi oleh generasi penerus, menjadikan perusahaan keluarga menjadi perusahaan yang profesional yang akhirnya menjadi perusahaan berkelas dunia dan sekaligus mematahkan mitos yang selama ini terkenal melekat dalam perusahaan keluarga, yaitu generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan.
Meneruskan usaha keluarga
oleh : A. B. SusantoManaging Partner The Jakarta Consulting Group
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Inilah kisah pengusaha sukses Ciputra yang akrab dipanggil Pak Ci dalam sebuah forum Family Business yang kami selenggarakan. Dalam rangka mempersiapkan generasi ketiga, Pak Ci telah mempersiapkan semacam kontrak keluarga (family contract), yang akan dibuat secara tertulis.
Dalam perjanjian tersebut antara lain disebutkan bahwa bila seorang anggota keluarga ingin meninggalkan perusahaan, dia tidak bisa menjual sahamnya tanpa persetujuan anggota keluarga yang lain. Bila dia ingin mendirikan usaha dalam bidang yang sama, dia hanya boleh jadi direksi, tidak jadi komisaris.
Menurut Pak Ci, perjanjian-perjanjian seperti ini harus dilakukan justru pada saat seluruh anggota keluarga masih sehat dan mampu. Setiap 1 atau 2 bulan sekali diadakan rapat keluarga, serta rapat dengan para profesional sebulan sekali.
Untuk generasi ketiga, Pak Ci mensyaratkan bahwa sebelum bekerja dalam perusahaan, mereka harus memiliki pengalaman bekerja di luar sekurang-kurang 3 tahun, dan bila sudah masuk dalam perusahaan akan ditempatkan di tempat yang sesuai dengan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki.
Menurut Pak Ci, generasi kedua yang masuk ke dalam perusahaan harus qualified dan bersikap profesional, dan harus patuh pada jam kerja yang telah ditetapkan. Jika mereka tidak mampu untuk memenuhi kriteria-kriteria di atas, mereka disarankan untuk bekerja di perusahaan lain atau tidak usah bekerja, cukup jadi komisaris, sebab kalau dia tidak qualified dan masuk di perusahaan dan jadi direktur, seluruh perusahaan dapat hancur. Guna membantu mewujudkan family governance, Pak Ci tidak segan-segan untuk meminta bantuan konsultan independen.
Secara umum sebuah perusahaan keluarga akan melewati empat tahapan, yaitu pengembangan, pengelolaan, transformasi, dan keberlanjutan. Perkembangan perusahaan keluarga bermula dari close-circle family atau immediate family sang pendiri. Berikutnya, ketika perusahaan mulai tumbuh, generasi kedua dan extended family mulai masuk, bahkan menjadi the dynasty of family. Selanjutnya perusahaan keluarga yang bisa survive mulai mengalami professional influx. Saat mencapai kematangan (maturity) dan stabil, peran profesional diperlukan untuk menangani perusahaan.
Bila berhasil mencapaui tahap ini, kemampuannya bersaing telah terbukti. Namun perusahaan tidak boleh berpuas diri. Perubahan akibat globalisasi, persaingan yang mematikan, teknologi yang maju dan cepat usang, perubahan iklim, dan krisis ekonomi global akan berdampak bagi perusahaan keluarga.
Tugas penerus
Apa pun perubahan yang terjadi, setiap pendiri dan pemilik perusahaan keluarga pastilah ingin agar perusahaan yang telah dibangunnya dengan susah payah mampu bertahan dan semakin berjaya meskipun sang pemilik telah meninggalkan perusahaan. Menjadi tugas generasi peneruslah untuk mewujudkan cita-cita sang pendiri ini.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memutuskan apakah dia ingin bergabung dengan perusahaan keluarga atau tidak. Sebuah keputusan yang tidak mudah karena pertimbangan kewajiban terhadap keluarga, ketidaksenangan karyawan, persaingan antarsaudara, dan sederet pertimbangan lainnya.
Bila generasi penerus merasa mantap untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan, pertama-tama perlu dilakukan evaluasi menyangkut proses pengambilan keputusan, prioritas jangka pendek demi kelangsungan perusahaan jangka panjang, perubahan dalam hubungannya dengan keluarga, moral karyawan, serta visi dan misi perusahaan.
Ke dalam keluarga sendiri, bila generasi penerus mampu mengelola potensi konflik dalam anggota keluarga dengan baik, keikutsertaan anggota keluarga lain dalam perusahaan juga dapat meningkatkan harmoni. Kebersamaan, bahu-membahu dalam membangun perusahaan keluarga akan mempererat tali kekeluargaan.
Generasi penerus berkewajiban untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Hal ini akan dapat membantu mereka mendapatkan penerimaan dan kredibilitas di mata karyawan perusahaan keluarga.
Penerimaan dan kredibilitas dapat menjadi kunci diperolehnya legitimasi, di mana seseorang mencapai sebuah posisi kekuasaan dan wewenang dengan memperoleh kepercayaan diri dan juga kepercayaan dari orang lain untuk memberikan kontribusi yang signifikan.
Legitimasi ini selanjutnya dapat menjadi modal yang dapat dimanfaatkan bagi kesuksesan sang penerus, di mana dia dapat menjalankan tugas-tugas strategis dan memperoleh kepercayaan untuk menduduki kursi kepemimpinan menggantikan generasi senior.
Pengalaman generasi penerus bekerja di luar perusahaan keluarga sebelum bergabung dalam perusahaan keluarga, akan memberi nilai tambah. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa generasi penerus yang bergabung dengan perusahaan keluarga setelah memiliki pengalaman bekerja di tempat lain ternyata diterima dengan baik oleh para karyawan perusahaan keluarga.
Mereka juga memperoleh insight yang sangat berharga mengenai dasar-dasar operasi sebuah perusahaan sehingga meningkatkan kredibilitas yang dimiliki, yang diperoleh dengan adanya pengalaman yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan suatu tugas lebih baik dibandingkan dengan orang lain.
Ada kalanya generasi muda memutuskan bergabung dengan perusahaan keluarga sebagai cara cepat dam mudah mendapatkan pekerjaan pemilik/pemimpin perusahaan pun seringkali mau menerima dengan alasan hubungan keluarga.
Namun, jika generasi penerus ini tidak kompeten, tidak mau belajar, bekerja keras, dan tidak mampu bekerja sama dengan orang lain, maka cepat atau lambat dia akan mendapatkan kesulitan. Posisinya tidak lagi aman. Perusahaan yang baik tidak mungkin menerima dan mempertahankan orang-orang yang tidak kompeten, yang mengancam eksistensi perusahaan.
Inilah tantangan yang dihadapi oleh generasi penerus, menjadikan perusahaan keluarga menjadi perusahaan yang profesional yang akhirnya menjadi perusahaan berkelas dunia dan sekaligus mematahkan mitos yang selama ini terkenal melekat dalam perusahaan keluarga, yaitu generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan.
Jumat, 12/06/2009 08:59 WIB
Neraca di mata manajemen
oleh : Budi FrensidyStaf pengajar FEUI dan penulis buku
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Berbeda dengan analisis teknikal yang mengandalkan grafik harga dan volume, analisis fundamental sangat bergantung pada laporan keuangan yaitu neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan, sebagai dasar pengambilan keputusannya.
Di mata analis fundamental, laporan keuangan bersama dengan analisis ekonomi dan analisis industri, hukumnya wajib. Buku-buku investasi pun mengajarkan hal yang sama bahkan ada yang menuliskan kalau harga saham dua pertiganya ditentukan laporan keuangan, tepatnya expected profit. Saya akan mulai dengan neraca dan laporan laba rugi.
Neraca
Per definisi, neraca adalah posisi keuangan sebuah perusahaan yang menggambarkan kondisi harta, utang, dan modal pada tanggal tertentu. Neraca umumnya disajikan dalam bentuk aktiva-pasiva. Di sisi kiri, kita akan membaca semua aset yang ada di perusahaan. Berbeda dengan pemahaman awam, akuntansi tidak mensyaratkan kepemilikan. Aset, menurut akuntansi, adalah sumber daya ekonomi yang dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas pada masa datang.
Walaupun kepemilikan sebuah aset masih di tangan lessor, jika sebuah perusahaan mempunyai hak dan kendali untuk menggunakan aset itu selama masa ekonomisnya, perusahaan tersebut harus mengakui aset itu sebagai sumber daya ekonominya bersama dengan utang jangka panjang yang ditimbulkannya, tentunya.
Sebaliknya, untuk sebuah aset yang masih bernilai buku tinggi dan sudah 100% dimiliki sekalipun, apabila mesin tersebut sudah tidak dapat menghasilkan pendapatan atau arus kas lagi ke depannya, harus diturunkan atau dihapuskan nilainya di neraca dan diakui biayanya (impairment) di laporan laba rugi.
Selain itu, jika dulu aset tetap harus dilaporkan pada nilai bukunya setiap periode, mulai tahun ini perusahaan boleh menggunakan metode revaluasi. Untuk metode nilai buku, masih ada masalah biaya penyusutan. Sesuai dengan prinsip akuntansi matching cost against revenue, kita perlu mengalokasikan biaya aktiva tetap yang besar dalam beberapa periode manfaatnya.
Untuk itu, manajemen akan menentukan nilai sisa, masa manfaat, dan metode penyusutannya. Nilai buku aset yang dilaporkan di neraca bergantung pada penentuan variabel-variabel di atas. Apakah sebuah aset, misalkan kapal terbang, bermasa manfaat delapan atau 12 tahun, dengan nilai sisa 10% atau 25%, dan dengan metode penyusutan garis lurus atau saldo menurun ganda, misalnya, ditentukan manajemen.
Aset lancar pun tidak semuanya bebas dari estimasi dan pertimbangan subjektif manajemen. Persediaan harus dilaporkan pada nilai yang lebih rendah antara harga pokok dan pasar, sesuai dengan prinsip konservatisme. Harga pokok sendiri dapat didasarkan pada FIFO (first in, first out), rata-rata, atau LIFO (last in, first out). Adanya banyak metode ini menyulitkan perbandingan antarperusahaan.
Adapun, piutang dagang dilaporkan pada nilai realisasi bersih yaitu total piutang dikurangi penyisihan piutang tak tertagih. Penghitungan besar penyisihan juga diskresi karena ada metode penyisihan berdasarkan penjualan bersih dan berdasarkan skedul umur piutang dengan persentase yang ditentukan manajemen.
Belum lagi pelaporan investasi dalam surat berharga. Akuntansi menyediakan empat kategori untuk ini yaitu sekuritas yang diperdagangkan, tersedia untuk dijual, dipegang hingga jatuh tempo, dan investasi jangka panjang. Metodenya pun ada tiga yaitu biaya diamortisasi, nilai pasar, dan ekuitas. Intinya, banyak angka dalam neraca adalah estimasi, diskresi atau kebijakan manajemen, dan bukan angka yang tepat atau pasti benar.
Dari mana aset perusahaan itu berasal dapat dilihat di sisi kanannya. Dalam semua keadaan, pasti ada yang membiayai aset-aset itu, sesuai dengan persamaan akuntansi bahwa aset sama dengan utang plus modal. Jika yang mendanai pemilik disebut modal dan jika sumber dananya dari pihak ketiga dinamai utang. Urutan di sisi kredit ini juga menunjukkan urutan pengembalian saat perusahaan dilikuidasi yaitu utang lancar, kemudian utang jangka panjang, dan terakhir modal.
Laporan laba rugi
Terkait dengan adanya diskresi manajemen dan kebijakan perusahaan untuk beberapa akun di neraca, laporan laba rugi pun sama. Penentuan biaya penyisihan piutang tak tertagih, biaya penyusutan, biaya amortisasi aktiva tak berwujud ada di tangan manajemen. Inilah kelemahan accrual basis.
Laporan laba rugi disusun ke bawah dengan metode multiple step sehingga kita mempunyai banyak istilah biaya dan laba. Ada harga pokok penjualan, biaya administrasi & umum, biaya/pendapatan lain-lain, dan pos luar biasa.
Konsep laba pun mengenal laba kotor, laba operasi, laba sebelum bunga dan pajak, laba sebelum pajak, dan laba bersih. Investor biasanya sangat berkepentingan dengan bottom line yaitu laba bersih atau tepatnya laba per saham (EPS).
Laba bersih dan EPS yang meningkat adalah sinyal positif akan bagusnya fundamental perusahaan dan sering menjadi pemicu kenaikan harga saham saat kondisi normal. Namun, investor yang cerdas mestinya mencari tahu sumber kenaikan itu.
Laba berkualitas tinggi jika dihasilkan dari penjualan atau operasi perusahaan karena akan berulang. Laba berkualitas rendah jika berasal dari pendapatan lain-lain seperti pendapatan bunga atau keuntungan penjualan aktiva tetap, apalagi jika disebabkan oleh pos luar biasa seperti keuntungan restrukturisasi utang, karena sangat mungkin tidak akan terjadi lagi.
Menyadari adanya kelemahan yang melekat pada laporan laba rugi berdasarkan accrual basis di atas, mulai 1990 standar akuntansi pun mensyaratkan perlunya laporan keuangan yang ketiga yaitu laporan arus kas. Saya akan membahasnya minggu depan.
Neraca di mata manajemen
oleh : Budi FrensidyStaf pengajar FEUI dan penulis buku
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Berbeda dengan analisis teknikal yang mengandalkan grafik harga dan volume, analisis fundamental sangat bergantung pada laporan keuangan yaitu neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan atas laporan keuangan, sebagai dasar pengambilan keputusannya.
Di mata analis fundamental, laporan keuangan bersama dengan analisis ekonomi dan analisis industri, hukumnya wajib. Buku-buku investasi pun mengajarkan hal yang sama bahkan ada yang menuliskan kalau harga saham dua pertiganya ditentukan laporan keuangan, tepatnya expected profit. Saya akan mulai dengan neraca dan laporan laba rugi.
Neraca
Per definisi, neraca adalah posisi keuangan sebuah perusahaan yang menggambarkan kondisi harta, utang, dan modal pada tanggal tertentu. Neraca umumnya disajikan dalam bentuk aktiva-pasiva. Di sisi kiri, kita akan membaca semua aset yang ada di perusahaan. Berbeda dengan pemahaman awam, akuntansi tidak mensyaratkan kepemilikan. Aset, menurut akuntansi, adalah sumber daya ekonomi yang dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan dan arus kas pada masa datang.
Walaupun kepemilikan sebuah aset masih di tangan lessor, jika sebuah perusahaan mempunyai hak dan kendali untuk menggunakan aset itu selama masa ekonomisnya, perusahaan tersebut harus mengakui aset itu sebagai sumber daya ekonominya bersama dengan utang jangka panjang yang ditimbulkannya, tentunya.
Sebaliknya, untuk sebuah aset yang masih bernilai buku tinggi dan sudah 100% dimiliki sekalipun, apabila mesin tersebut sudah tidak dapat menghasilkan pendapatan atau arus kas lagi ke depannya, harus diturunkan atau dihapuskan nilainya di neraca dan diakui biayanya (impairment) di laporan laba rugi.
Selain itu, jika dulu aset tetap harus dilaporkan pada nilai bukunya setiap periode, mulai tahun ini perusahaan boleh menggunakan metode revaluasi. Untuk metode nilai buku, masih ada masalah biaya penyusutan. Sesuai dengan prinsip akuntansi matching cost against revenue, kita perlu mengalokasikan biaya aktiva tetap yang besar dalam beberapa periode manfaatnya.
Untuk itu, manajemen akan menentukan nilai sisa, masa manfaat, dan metode penyusutannya. Nilai buku aset yang dilaporkan di neraca bergantung pada penentuan variabel-variabel di atas. Apakah sebuah aset, misalkan kapal terbang, bermasa manfaat delapan atau 12 tahun, dengan nilai sisa 10% atau 25%, dan dengan metode penyusutan garis lurus atau saldo menurun ganda, misalnya, ditentukan manajemen.
Aset lancar pun tidak semuanya bebas dari estimasi dan pertimbangan subjektif manajemen. Persediaan harus dilaporkan pada nilai yang lebih rendah antara harga pokok dan pasar, sesuai dengan prinsip konservatisme. Harga pokok sendiri dapat didasarkan pada FIFO (first in, first out), rata-rata, atau LIFO (last in, first out). Adanya banyak metode ini menyulitkan perbandingan antarperusahaan.
Adapun, piutang dagang dilaporkan pada nilai realisasi bersih yaitu total piutang dikurangi penyisihan piutang tak tertagih. Penghitungan besar penyisihan juga diskresi karena ada metode penyisihan berdasarkan penjualan bersih dan berdasarkan skedul umur piutang dengan persentase yang ditentukan manajemen.
Belum lagi pelaporan investasi dalam surat berharga. Akuntansi menyediakan empat kategori untuk ini yaitu sekuritas yang diperdagangkan, tersedia untuk dijual, dipegang hingga jatuh tempo, dan investasi jangka panjang. Metodenya pun ada tiga yaitu biaya diamortisasi, nilai pasar, dan ekuitas. Intinya, banyak angka dalam neraca adalah estimasi, diskresi atau kebijakan manajemen, dan bukan angka yang tepat atau pasti benar.
Dari mana aset perusahaan itu berasal dapat dilihat di sisi kanannya. Dalam semua keadaan, pasti ada yang membiayai aset-aset itu, sesuai dengan persamaan akuntansi bahwa aset sama dengan utang plus modal. Jika yang mendanai pemilik disebut modal dan jika sumber dananya dari pihak ketiga dinamai utang. Urutan di sisi kredit ini juga menunjukkan urutan pengembalian saat perusahaan dilikuidasi yaitu utang lancar, kemudian utang jangka panjang, dan terakhir modal.
Laporan laba rugi
Terkait dengan adanya diskresi manajemen dan kebijakan perusahaan untuk beberapa akun di neraca, laporan laba rugi pun sama. Penentuan biaya penyisihan piutang tak tertagih, biaya penyusutan, biaya amortisasi aktiva tak berwujud ada di tangan manajemen. Inilah kelemahan accrual basis.
Laporan laba rugi disusun ke bawah dengan metode multiple step sehingga kita mempunyai banyak istilah biaya dan laba. Ada harga pokok penjualan, biaya administrasi & umum, biaya/pendapatan lain-lain, dan pos luar biasa.
Konsep laba pun mengenal laba kotor, laba operasi, laba sebelum bunga dan pajak, laba sebelum pajak, dan laba bersih. Investor biasanya sangat berkepentingan dengan bottom line yaitu laba bersih atau tepatnya laba per saham (EPS).
Laba bersih dan EPS yang meningkat adalah sinyal positif akan bagusnya fundamental perusahaan dan sering menjadi pemicu kenaikan harga saham saat kondisi normal. Namun, investor yang cerdas mestinya mencari tahu sumber kenaikan itu.
Laba berkualitas tinggi jika dihasilkan dari penjualan atau operasi perusahaan karena akan berulang. Laba berkualitas rendah jika berasal dari pendapatan lain-lain seperti pendapatan bunga atau keuntungan penjualan aktiva tetap, apalagi jika disebabkan oleh pos luar biasa seperti keuntungan restrukturisasi utang, karena sangat mungkin tidak akan terjadi lagi.
Menyadari adanya kelemahan yang melekat pada laporan laba rugi berdasarkan accrual basis di atas, mulai 1990 standar akuntansi pun mensyaratkan perlunya laporan keuangan yang ketiga yaitu laporan arus kas. Saya akan membahasnya minggu depan.
Jumat, 12/06/2009 08:55 WIB
Mencari landasan investasi
oleh : Anatoli KarvofFinancial Planner dari Karkof Consulting
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Sebelum Anda berinvestasi terlebih dahulu Anda harus mempunyai pedoman agar tidak salah dalam memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
Dalam tulisan kali ini, saya akan menjabarkan konsep DIKLAT sebagai landasan berinvestasi, DIKLAT yang saya maksud di sini merupakan kepanjangan dari duit, ingin, kemampuan, lama, alokasi, dan tinjau. Berikut saya jabarkan konsep DIKLAT tersebut:
Duit, berapa jumlah dana yang Anda miliki saat ini, apakah surplus atau defisit.
Duit ini merupakan unsur terpenting jika Anda ingin berinvestasi, tanpa ada dana jelas Anda tidak akan bisa berinvestasi. Anda dikatakan surplus (kelebihan dana) apabila penghasilan yang Anda terima setiap bulan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran bulanan Anda. Sebaliknya Anda dikatakan defisit apabila penghasilan Anda lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran alias besar pasak daripada tiang.
Sebaiknya Anda berinvestasi setelah dana darurat terbentuk terlebih dahulu yang besarnya 3-12 kali pengeluaran bulanan. Jadi, berinvestasi harus menggunakan uang dingin (idle money) dan jangan sekali-kali menggunakan dana kebutuhan sehari-hari untuk berinvestasi, karena itu merupakan tindakan berbahaya alias bahlul.
Ingin, tentukan tujuan keuangan yang ingin dicapai pada masa depan yang bertitik tolak dari jumlah dana yang Anda miliki saat ini.
Anda harus menentukan untuk apa Anda berinvestasi, apakah ingin membeli rumah, mobil, mendanai pendidikan anak, menunaikan ibadah haji dan lain sebagainya, tentu saja disesuaikan dengan berapa besar dana Anda saat ini. Tujuan investasi ini haruslah specific, measurable, achievable, realistic dan time bound (SMART). Misalnya, Anda ingin membeli rumah, Anda harus tahu di mana lokasinya, berapa harganya, yakin bisa mencapainya, realistis bukan mengawang-awang dan mempunyai batasan waktu.
Kemampuan, toleransi Anda untuk menerima risiko.
Apakah Anda termasuk konservatif yaitu investor yang umumnya tidak berani menghadapi kerugian dan ketidakpastian, sehingga cenderung memilih instrumen yang sangat aman dengan hasil yang sudah diketahui sebelumnya, seperti deposito atau ORI. Kalaupun mempertimbangkan jenis instrumen berisiko seperti obligasi atau saham, hanya sebagian kecil dari dana investasinya yang akan dialokasikan ke dalam instrumen berisiko.
Moderat yaitu investor yang umumnya berani mengambil risiko yang lebih tinggi dan akan mempertimbangkan secara hati-hati instrumen yang akan dipilihnya serta membatasi jumlah dana investasinya yang akan dialokasikan ke dalam instrumen berisiko, atau Anda termasuk agresif yaitu investor yang mempunyai keberaniaan menerima risiko lebih tinggi lagi, serta berani mengalokasikan sebagian besar dana investasinya pada instrumen berisiko.
Profil risiko ini penting karena setiap instrumen investasi berbeda-beda risikonya. Investasi risiko rendah adalah investasi yang dianggap relatif aman terhadap dana yang ditanamkan dan hasil yang diterima, sedangkan investasi risiko tinggi sering dianggap spekulasi, investasi di mana hasilnya sangat tidak pasti.
Lama, jangka waktu investasi, apakah jangka pendek (di bawah 1 tahun), jangka menengah (satu sampai dengan 5 tahun) atau jangka panjang (lebih dari 5 tahun).
Anda ingin berinvestasi dengan tujuan untuk pensiun yang Anda perkirakan waktunya 20 tahun dari sekarang, berarti waktu investasi Anda adalah jangka panjang, maka sebaiknya Anda memilih instrumen investasi jangka panjang juga seperti saham, properti, emas, dan reksa dana saham. Sebaliknya jika tujuan Investasi Anda adalah membeli mobil 2 tahun lagi, tidak dianjurkan untuk berinvestasi di saham, sebaiknya Anda membeli produk investasi seperti ORI, deposito atau reksa dana pasar uang.
Alokasi, diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko.
Proses alokasi aset ini merupakan komponen yang penting dalam proses investasi karena studi membuktikan kontribusi proses ini terhadap
kinerja investasi yang akan diperoleh mencapai lebih dari 75%, sisanya ditentukan oleh securities picking, market timing dan faktor lainnya.
Alokasi aset merupakan strategi investasi dengan menempatkan dana yang Anda miliki pada beberapa jenis aset yang berbeda sepeti ORI, deposito, reksa dana, saham, emas, properti, lukisan serta instrumen investasi lainnya dengan tujuan menghasilakan return portofolio investasi yang lebih tinggi serta risiko investasi dapat diminimalisasi. Misal, ketika harga minyak naik drastis yang menyebabkan naiknya angka inflasi, maka harga obligasi akan mengalami penurunan, sebaliknya harga emas akan akan mengalami kenaikan.
Tinjau, memonitor dan mengevaluasi portofolio secara berkala. Gunanya untuk menjaga tingkat keuntungan (return) sesuai dengan yang diharapkan.
Tinjau alias memonitor dan mengevaluasi portofolio ini diperlukan karena boleh jadi di tengah jalan terjadi peristiwa yang menyebabkan instrumen investasi yang sudah Anda beli harganya mengalami penurunan atau mengalami kenaikan yang drastis sehingga target return yang sudah Anda tetapkan tidak sesuai yang Anda harapkan atau malah sebaliknya sudah meraih target return sebelum waktunya.
Jadi, Anda harus memutuskan apakah masih tetap memegang (hold) instrumen investasi yang sudah Anda beli atau melakukan pertukaran (switching) ke instrumen investasi lain yang relatif lebih murah dan berpotensi memberikan return lebih tinggi pada kemudian hari.
Dengan menerapkan konsep DIKLAT sebagai landasan berinvestasi, diharapkan hasil investasi yang Anda lakukan berjalan sebagaimana yang Anda harapkan. Selamat berinvestasi.
Mencari landasan investasi
oleh : Anatoli KarvofFinancial Planner dari Karkof Consulting
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Sebelum Anda berinvestasi terlebih dahulu Anda harus mempunyai pedoman agar tidak salah dalam memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
Dalam tulisan kali ini, saya akan menjabarkan konsep DIKLAT sebagai landasan berinvestasi, DIKLAT yang saya maksud di sini merupakan kepanjangan dari duit, ingin, kemampuan, lama, alokasi, dan tinjau. Berikut saya jabarkan konsep DIKLAT tersebut:
Duit, berapa jumlah dana yang Anda miliki saat ini, apakah surplus atau defisit.
Duit ini merupakan unsur terpenting jika Anda ingin berinvestasi, tanpa ada dana jelas Anda tidak akan bisa berinvestasi. Anda dikatakan surplus (kelebihan dana) apabila penghasilan yang Anda terima setiap bulan lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran bulanan Anda. Sebaliknya Anda dikatakan defisit apabila penghasilan Anda lebih kecil dibandingkan dengan pengeluaran alias besar pasak daripada tiang.
Sebaiknya Anda berinvestasi setelah dana darurat terbentuk terlebih dahulu yang besarnya 3-12 kali pengeluaran bulanan. Jadi, berinvestasi harus menggunakan uang dingin (idle money) dan jangan sekali-kali menggunakan dana kebutuhan sehari-hari untuk berinvestasi, karena itu merupakan tindakan berbahaya alias bahlul.
Ingin, tentukan tujuan keuangan yang ingin dicapai pada masa depan yang bertitik tolak dari jumlah dana yang Anda miliki saat ini.
Anda harus menentukan untuk apa Anda berinvestasi, apakah ingin membeli rumah, mobil, mendanai pendidikan anak, menunaikan ibadah haji dan lain sebagainya, tentu saja disesuaikan dengan berapa besar dana Anda saat ini. Tujuan investasi ini haruslah specific, measurable, achievable, realistic dan time bound (SMART). Misalnya, Anda ingin membeli rumah, Anda harus tahu di mana lokasinya, berapa harganya, yakin bisa mencapainya, realistis bukan mengawang-awang dan mempunyai batasan waktu.
Kemampuan, toleransi Anda untuk menerima risiko.
Apakah Anda termasuk konservatif yaitu investor yang umumnya tidak berani menghadapi kerugian dan ketidakpastian, sehingga cenderung memilih instrumen yang sangat aman dengan hasil yang sudah diketahui sebelumnya, seperti deposito atau ORI. Kalaupun mempertimbangkan jenis instrumen berisiko seperti obligasi atau saham, hanya sebagian kecil dari dana investasinya yang akan dialokasikan ke dalam instrumen berisiko.
Moderat yaitu investor yang umumnya berani mengambil risiko yang lebih tinggi dan akan mempertimbangkan secara hati-hati instrumen yang akan dipilihnya serta membatasi jumlah dana investasinya yang akan dialokasikan ke dalam instrumen berisiko, atau Anda termasuk agresif yaitu investor yang mempunyai keberaniaan menerima risiko lebih tinggi lagi, serta berani mengalokasikan sebagian besar dana investasinya pada instrumen berisiko.
Profil risiko ini penting karena setiap instrumen investasi berbeda-beda risikonya. Investasi risiko rendah adalah investasi yang dianggap relatif aman terhadap dana yang ditanamkan dan hasil yang diterima, sedangkan investasi risiko tinggi sering dianggap spekulasi, investasi di mana hasilnya sangat tidak pasti.
Lama, jangka waktu investasi, apakah jangka pendek (di bawah 1 tahun), jangka menengah (satu sampai dengan 5 tahun) atau jangka panjang (lebih dari 5 tahun).
Anda ingin berinvestasi dengan tujuan untuk pensiun yang Anda perkirakan waktunya 20 tahun dari sekarang, berarti waktu investasi Anda adalah jangka panjang, maka sebaiknya Anda memilih instrumen investasi jangka panjang juga seperti saham, properti, emas, dan reksa dana saham. Sebaliknya jika tujuan Investasi Anda adalah membeli mobil 2 tahun lagi, tidak dianjurkan untuk berinvestasi di saham, sebaiknya Anda membeli produk investasi seperti ORI, deposito atau reksa dana pasar uang.
Alokasi, diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko.
Proses alokasi aset ini merupakan komponen yang penting dalam proses investasi karena studi membuktikan kontribusi proses ini terhadap
kinerja investasi yang akan diperoleh mencapai lebih dari 75%, sisanya ditentukan oleh securities picking, market timing dan faktor lainnya.
Alokasi aset merupakan strategi investasi dengan menempatkan dana yang Anda miliki pada beberapa jenis aset yang berbeda sepeti ORI, deposito, reksa dana, saham, emas, properti, lukisan serta instrumen investasi lainnya dengan tujuan menghasilakan return portofolio investasi yang lebih tinggi serta risiko investasi dapat diminimalisasi. Misal, ketika harga minyak naik drastis yang menyebabkan naiknya angka inflasi, maka harga obligasi akan mengalami penurunan, sebaliknya harga emas akan akan mengalami kenaikan.
Tinjau, memonitor dan mengevaluasi portofolio secara berkala. Gunanya untuk menjaga tingkat keuntungan (return) sesuai dengan yang diharapkan.
Tinjau alias memonitor dan mengevaluasi portofolio ini diperlukan karena boleh jadi di tengah jalan terjadi peristiwa yang menyebabkan instrumen investasi yang sudah Anda beli harganya mengalami penurunan atau mengalami kenaikan yang drastis sehingga target return yang sudah Anda tetapkan tidak sesuai yang Anda harapkan atau malah sebaliknya sudah meraih target return sebelum waktunya.
Jadi, Anda harus memutuskan apakah masih tetap memegang (hold) instrumen investasi yang sudah Anda beli atau melakukan pertukaran (switching) ke instrumen investasi lain yang relatif lebih murah dan berpotensi memberikan return lebih tinggi pada kemudian hari.
Dengan menerapkan konsep DIKLAT sebagai landasan berinvestasi, diharapkan hasil investasi yang Anda lakukan berjalan sebagaimana yang Anda harapkan. Selamat berinvestasi.
Jumat, 05/06/2009 09:29 WIB
Membangun kecerdasan emosional remaja
oleh : Anthony Dio MartinTrainer, Speaker, EQ Motivator, ahli psikologi, pakar NLP, Hypnotherapist
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Seorang ibu, pebisnis, bercerita dengan sedih saat mengikuti kursus kecerdasan emosional kami di Jakarta. "Pak Anthony, saya merasa ngeri dengan anak saya sendiri". "Mengapa? Memangnya, anak Anda kayak monster?"
Si ibu itu tersenyum getir dan menjawab, "Bukan begitu, Pak. Begini. Awalnya saya dan suami begitu bersyukur karena anak saya sangat pintar dan sangat cepat menangkap apa pun yang diajarkan.
Namun sekarang, saya mulai takut karena dia lebih senang di rumah, dan tidak mau ke manapun." Saya pun menyela, "Lho, sementara banyak orangtua bingung karena anaknya keluyuran melulu, malahan Anda bingung dengan anak Anda yang di rumah melulu".
Si ibu itu pun menyela, "Iya ya Pak. Jadi serba- salah. Anak keluyuran, bingung. Akan tetapi kebanyakan di rumah, juga bingung. Namun, masalah saya lebih dari itu. Saya lihat anak saya ini agak anti-sosial.
Dia sama sekali tidak mau bermain. Misalkan kalau sepupunya datang. Malahan dicuekin. Di sekolah pun, gurunya pernah prihatin karena anak saya cenderung egois. Saya lihat semua mainannya dan hobinya yang jenis solitair, yang main sendirian. Apakah anak saya nggak mengalami gangguan?
Pada kejadian yang lain, seorang bapak merasa sedih dengan anak remajanya. Pasalnya, putranya ini mengambil uang sekolah untuk dipakai traktir teman-teman dan pacarnya. Enam bulan uang sekolah tidak disetorkan ke sekolah, tetapi dipakainya sendiri.
Selama ini, anak ini berpikir bisa berkelit dengan berbagai alasan hingga akhirnya sekolah menagih kepada si bapak tersebut yang terkaget-kaget. Masalahnya, si bapak tersebut merasa sudah memberikan uang sekolah tersebut lewat anaknya.
Saat dikonfirmasi, si anak remaja itu hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Si bapak ini begitu kecewa, bagaimana anak yang tergolong pintar ini bisa begitu konyol berpikir bahwa tidak akan ketahuan dengan apa yang dilakukannya?
Kecerdasan emosional
Menjelang camp inspirasional kecerdasan emosional bagi kaum muda yang akan kami adakan pada musim liburan Juli tahun ini, kami menerima banyak sekali e-mail sejenis di atas yang menanyakan langkah-langkah penanganan bagi para remaja.
Ada orangtua yang begitu bingungnya, sampai-sampai tidak tahu lagi apa yang mesti mereka lakukan dengan anak mereka. Sebagian berharap dengan mengikuti berbagai kursus dan pelatihan, anak mereka bisa berubah.
Memang, kita tidak berharap bahwa anak-anak remaja bisa berubah dalam sekejab setelah pelatihan beberapa hari. Namun, optimistisnya, setelah dibekali dengan berbagai metode dan cara, para remaja menjadi lebih siap memahami dirinya dan berhadapan dengan dunia luar.
Itulah sebabnya, dalam berbagai pelatihan dan workshop kecerdasan emosional bagi para remaja, penekanannya dilakukan pada empat tangga yang penting untuk membangun kecerdasan emosional para remaja dengan model EQM yang saya kembangkan kita yakni Awareness, Acceptance, Affection, dan Affirmation.
Emotional awareness
Sebenarnya, saat ini ada banyak sekali alat-alat assessment psikologis yang bisa dipakai sebagai alat bantu potret diri untuk para remaja kita. Dari hasil potret ini, dapat dibicarakan mengenai perilaku serta kebiasaan mereka.
Seperti pada kasus pertama yang digambarkan di atas, bisa jadi anak tersebut sebenarnya tergolong introvert dan sebenarnya tidaklah keliru amat kalau bisa diarahkan.
Toh Bill Gates yang terkenal pun, dikatakan awalnya adalah pribadi yang intorvert. Hanya saja, para remaja ini perlu didampingi untuk mengarahkan perilaku mereka sehingga tidak berkembang menjadi antisosial.
Perlu seseorang dewasa yang bisa menjadi pegangannya, meski awalnya adalah penolakan dari remaja itu. Misalkan saja seorang bapak bahwa "Kini, anak remaja saya seolah-olah tidak membutuhkan saya lagi". Akan tetapi kenyataannya justru menunjukkan bahwa anaknya sebenarnya berpendapat lain. "Kami memang ingin independen, tapi kami sadar, justru kami haus untuk didampingi".
Pendampingan yang juga penting di bagian awareness ini adalah orang tua mengajarkan mengenai pilihan serta konsekuensinya. Para remaja perlu belajar mengenai prinsip 'mengangkat ujung tongkat yang lain'.
Prinsip ini pernah diucapkan oleh Stephen R. Covey bahwa, "Kita bisa memilih mau mengangkat tongkat yang mana pun. Namun setelah memilihnya, kita tidak bisa mencegah bahwa selalu ada ujung lain dari tongkat yang akan ikut terangkat".
Bahasa sederhananya, kita bisa membuat pilihan, tetapi setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Seperti pada kasus kita, si remaja bisa memilih untuk tidak membayarkan uang sekolahnya, tetapi akhirnya dia akan berhadapan dengan suatu konsekuensi.
Konsekuensinya adalah ketahuan dan mungkin dihukum berat. Begitu pun pada saat remaja ditawarkan pada pilihan seperti alkohol, narkoba, dll. Mereka perlu dibekali bahwa mereka memiliki kekuatan pada saat 'memilih', tetapi mereka tidak bisa lagi mencegah adanya konsekuensi pada saat pilihan sudah dijatuhkan. Inilah hukum alam. Celakanya, banyak rekan muda kita ini terlalu berpikir 'kesenangan sesaat' dan lupa akan adanya konsekuensi-konsekuensi.
Emotional acceptance
Krisis identitas terbesar pada kaum remaja adalah tatkala mereka merasa kurang oke dengan dirinya dan mulai banyak membanding-bandingkan dengan orang lain. Itulah sebabnya, dikatakan oleh hasil survei bahwa kebanyakan fan yang menggandrungi pemusik atau artis/aktor biasanya berada pada usia-usia ini.
Intinya, di tahapan ini banyak kaum muda yang setelah menyadari hidupnya, justru merasa kurang oke. Mereka mengadopsi identitas. Bayangkan kalau identitas yang diadopsi ini keliru! Itulah sebabnya, di tahapan ini pelajaran terpenting bagi remaja adalah berdamai serta menerima diri mereka.
Pelajaran self esteem (harga diri) adalah dasar dari membangun potensi mereka. Sebenarnya, kalau self esteem mereka bisa dipupuk sejak awal, potensi mereka juga akan keluar lebih cepat!
Emotional affection
Pelajaran menjadi mandiri, memang penting bagi para remaja kita. Namun, terlalu mandiri juga akan menjerumuskan mereka menjadi individu yang terlalu egois serta tidak peduli dengan orang lain.
Karena itulah, semakin cepat mereka menyadari pentingnya networking, semakin cepat remaja ini bisa membangun pondasi interpersonal skills yang akan berguna kelak pada masa depannya.
Membangun 'affection' adalah penting dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dan aktivitas yang bersinggungan dengan orang lain. Sebenarnya, di sinilah dasar-dasar kepemimpinan tehadap orang lain dipupuk sejak dini.
Pelajaran bergesekan, dan konflik dengan orang lain adalah pelajaran-pelajaran penting yang berguna bagi para remaja. Saat mereka mampu mengatasi konflik, masalah dengan orang lain, akan memupuk keyakinan diri yang semakin tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain.
Seorang remaja 'tercerahkan' menggambarkan dengan bagus dalam diarynya tatkala ia mengatakan, "Awalnya aku merasa tidak terlalu butuh orang lain. Aku pikir aku bisa usahakan semua sendirian. Tapi, aku ternyata bisa belajar banyak dari teman-temanku, terutama bisa saling tukar informasi. Sebenarnya, asyik juga punya teman yang sejalan. Tidak semua teman menjerumuskan kok, asal bisa pilih teman".
Emotional affirmation
Pada bagian terakhir ini, remaja belajar untuk bisa membangun dan menyemangati dirinya tatkala jatuh, berproblem dan gagal. Sangatlah penting bahwa remaja berlatih untuk mengarahkan energi kehidupan yang positif. Jika tidak, energi tersebut bisa dipakai untuk merugikan dirinya sendiri ataupun dengan merugikan orang lain.
Berbagai kasus penembakan oleh remaja di Amerika adalah contoh pengarahan energi yang keliru. Sebenarnya, untuk pengarahan energi ini dimulai dari hal yang sederhana yakni self talk yang terjadi pada diri internal remaja ini saat mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Di sinilah, pentingnya kaum muda kita didampingi untuk belajar membuat self talk alternatif yang positif!
Akhirnya, sebagai orangtua yang sibuk, mestinya kita semakin menyadari bahwa kenakalan para remaja kita sebenarnya adalah upaya teriakan minta tolong dari remaja untuk didampingi!
Membangun kecerdasan emosional remaja
oleh : Anthony Dio MartinTrainer, Speaker, EQ Motivator, ahli psikologi, pakar NLP, Hypnotherapist
Cetak
Kirim ke Teman
Komentar
Seorang ibu, pebisnis, bercerita dengan sedih saat mengikuti kursus kecerdasan emosional kami di Jakarta. "Pak Anthony, saya merasa ngeri dengan anak saya sendiri". "Mengapa? Memangnya, anak Anda kayak monster?"
Si ibu itu tersenyum getir dan menjawab, "Bukan begitu, Pak. Begini. Awalnya saya dan suami begitu bersyukur karena anak saya sangat pintar dan sangat cepat menangkap apa pun yang diajarkan.
Namun sekarang, saya mulai takut karena dia lebih senang di rumah, dan tidak mau ke manapun." Saya pun menyela, "Lho, sementara banyak orangtua bingung karena anaknya keluyuran melulu, malahan Anda bingung dengan anak Anda yang di rumah melulu".
Si ibu itu pun menyela, "Iya ya Pak. Jadi serba- salah. Anak keluyuran, bingung. Akan tetapi kebanyakan di rumah, juga bingung. Namun, masalah saya lebih dari itu. Saya lihat anak saya ini agak anti-sosial.
Dia sama sekali tidak mau bermain. Misalkan kalau sepupunya datang. Malahan dicuekin. Di sekolah pun, gurunya pernah prihatin karena anak saya cenderung egois. Saya lihat semua mainannya dan hobinya yang jenis solitair, yang main sendirian. Apakah anak saya nggak mengalami gangguan?
Pada kejadian yang lain, seorang bapak merasa sedih dengan anak remajanya. Pasalnya, putranya ini mengambil uang sekolah untuk dipakai traktir teman-teman dan pacarnya. Enam bulan uang sekolah tidak disetorkan ke sekolah, tetapi dipakainya sendiri.
Selama ini, anak ini berpikir bisa berkelit dengan berbagai alasan hingga akhirnya sekolah menagih kepada si bapak tersebut yang terkaget-kaget. Masalahnya, si bapak tersebut merasa sudah memberikan uang sekolah tersebut lewat anaknya.
Saat dikonfirmasi, si anak remaja itu hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Si bapak ini begitu kecewa, bagaimana anak yang tergolong pintar ini bisa begitu konyol berpikir bahwa tidak akan ketahuan dengan apa yang dilakukannya?
Kecerdasan emosional
Menjelang camp inspirasional kecerdasan emosional bagi kaum muda yang akan kami adakan pada musim liburan Juli tahun ini, kami menerima banyak sekali e-mail sejenis di atas yang menanyakan langkah-langkah penanganan bagi para remaja.
Ada orangtua yang begitu bingungnya, sampai-sampai tidak tahu lagi apa yang mesti mereka lakukan dengan anak mereka. Sebagian berharap dengan mengikuti berbagai kursus dan pelatihan, anak mereka bisa berubah.
Memang, kita tidak berharap bahwa anak-anak remaja bisa berubah dalam sekejab setelah pelatihan beberapa hari. Namun, optimistisnya, setelah dibekali dengan berbagai metode dan cara, para remaja menjadi lebih siap memahami dirinya dan berhadapan dengan dunia luar.
Itulah sebabnya, dalam berbagai pelatihan dan workshop kecerdasan emosional bagi para remaja, penekanannya dilakukan pada empat tangga yang penting untuk membangun kecerdasan emosional para remaja dengan model EQM yang saya kembangkan kita yakni Awareness, Acceptance, Affection, dan Affirmation.
Emotional awareness
Sebenarnya, saat ini ada banyak sekali alat-alat assessment psikologis yang bisa dipakai sebagai alat bantu potret diri untuk para remaja kita. Dari hasil potret ini, dapat dibicarakan mengenai perilaku serta kebiasaan mereka.
Seperti pada kasus pertama yang digambarkan di atas, bisa jadi anak tersebut sebenarnya tergolong introvert dan sebenarnya tidaklah keliru amat kalau bisa diarahkan.
Toh Bill Gates yang terkenal pun, dikatakan awalnya adalah pribadi yang intorvert. Hanya saja, para remaja ini perlu didampingi untuk mengarahkan perilaku mereka sehingga tidak berkembang menjadi antisosial.
Perlu seseorang dewasa yang bisa menjadi pegangannya, meski awalnya adalah penolakan dari remaja itu. Misalkan saja seorang bapak bahwa "Kini, anak remaja saya seolah-olah tidak membutuhkan saya lagi". Akan tetapi kenyataannya justru menunjukkan bahwa anaknya sebenarnya berpendapat lain. "Kami memang ingin independen, tapi kami sadar, justru kami haus untuk didampingi".
Pendampingan yang juga penting di bagian awareness ini adalah orang tua mengajarkan mengenai pilihan serta konsekuensinya. Para remaja perlu belajar mengenai prinsip 'mengangkat ujung tongkat yang lain'.
Prinsip ini pernah diucapkan oleh Stephen R. Covey bahwa, "Kita bisa memilih mau mengangkat tongkat yang mana pun. Namun setelah memilihnya, kita tidak bisa mencegah bahwa selalu ada ujung lain dari tongkat yang akan ikut terangkat".
Bahasa sederhananya, kita bisa membuat pilihan, tetapi setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Seperti pada kasus kita, si remaja bisa memilih untuk tidak membayarkan uang sekolahnya, tetapi akhirnya dia akan berhadapan dengan suatu konsekuensi.
Konsekuensinya adalah ketahuan dan mungkin dihukum berat. Begitu pun pada saat remaja ditawarkan pada pilihan seperti alkohol, narkoba, dll. Mereka perlu dibekali bahwa mereka memiliki kekuatan pada saat 'memilih', tetapi mereka tidak bisa lagi mencegah adanya konsekuensi pada saat pilihan sudah dijatuhkan. Inilah hukum alam. Celakanya, banyak rekan muda kita ini terlalu berpikir 'kesenangan sesaat' dan lupa akan adanya konsekuensi-konsekuensi.
Emotional acceptance
Krisis identitas terbesar pada kaum remaja adalah tatkala mereka merasa kurang oke dengan dirinya dan mulai banyak membanding-bandingkan dengan orang lain. Itulah sebabnya, dikatakan oleh hasil survei bahwa kebanyakan fan yang menggandrungi pemusik atau artis/aktor biasanya berada pada usia-usia ini.
Intinya, di tahapan ini banyak kaum muda yang setelah menyadari hidupnya, justru merasa kurang oke. Mereka mengadopsi identitas. Bayangkan kalau identitas yang diadopsi ini keliru! Itulah sebabnya, di tahapan ini pelajaran terpenting bagi remaja adalah berdamai serta menerima diri mereka.
Pelajaran self esteem (harga diri) adalah dasar dari membangun potensi mereka. Sebenarnya, kalau self esteem mereka bisa dipupuk sejak awal, potensi mereka juga akan keluar lebih cepat!
Emotional affection
Pelajaran menjadi mandiri, memang penting bagi para remaja kita. Namun, terlalu mandiri juga akan menjerumuskan mereka menjadi individu yang terlalu egois serta tidak peduli dengan orang lain.
Karena itulah, semakin cepat mereka menyadari pentingnya networking, semakin cepat remaja ini bisa membangun pondasi interpersonal skills yang akan berguna kelak pada masa depannya.
Membangun 'affection' adalah penting dengan melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dan aktivitas yang bersinggungan dengan orang lain. Sebenarnya, di sinilah dasar-dasar kepemimpinan tehadap orang lain dipupuk sejak dini.
Pelajaran bergesekan, dan konflik dengan orang lain adalah pelajaran-pelajaran penting yang berguna bagi para remaja. Saat mereka mampu mengatasi konflik, masalah dengan orang lain, akan memupuk keyakinan diri yang semakin tinggi dalam berinteraksi dengan orang lain.
Seorang remaja 'tercerahkan' menggambarkan dengan bagus dalam diarynya tatkala ia mengatakan, "Awalnya aku merasa tidak terlalu butuh orang lain. Aku pikir aku bisa usahakan semua sendirian. Tapi, aku ternyata bisa belajar banyak dari teman-temanku, terutama bisa saling tukar informasi. Sebenarnya, asyik juga punya teman yang sejalan. Tidak semua teman menjerumuskan kok, asal bisa pilih teman".
Emotional affirmation
Pada bagian terakhir ini, remaja belajar untuk bisa membangun dan menyemangati dirinya tatkala jatuh, berproblem dan gagal. Sangatlah penting bahwa remaja berlatih untuk mengarahkan energi kehidupan yang positif. Jika tidak, energi tersebut bisa dipakai untuk merugikan dirinya sendiri ataupun dengan merugikan orang lain.
Berbagai kasus penembakan oleh remaja di Amerika adalah contoh pengarahan energi yang keliru. Sebenarnya, untuk pengarahan energi ini dimulai dari hal yang sederhana yakni self talk yang terjadi pada diri internal remaja ini saat mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan. Di sinilah, pentingnya kaum muda kita didampingi untuk belajar membuat self talk alternatif yang positif!
Akhirnya, sebagai orangtua yang sibuk, mestinya kita semakin menyadari bahwa kenakalan para remaja kita sebenarnya adalah upaya teriakan minta tolong dari remaja untuk didampingi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar