Merasa Sah Jadi Partisan asal Argumentatif Sebagian orang menganggap intelektual yang menceburkan diri ke ranah politik praktis dan bercengkerama dengan kekuasaan berarti telah melakukan pengkhianatan. Bagi mereka, seorang intelektual harus selalu berada ''di luar'' jejaring politik dan berdiri bebas ''di atas'' semua kepentingan.Priyo Handoko, Jakarta ---Dalam realitasnya, hingga sekarang, penilaian itu terus diperdebatkan. Tak sedikit di antara para ''intelektual'' yang dituduh ''berkhianat'' balik mengajukan pembelaan yang tak kalah kuatnya. Bagi mereka, tak mungkin dan tidak boleh setiap intelektual terus-menerus tinggal di ''istana atas angin''. Dalam momentum yang tepat, para intelektual juga harus mengambil pilihan keberpihakan yang tegas.Ajang Pilpres 2009 ikut menyajikan realitas betapa dinamisnya para intelektual di Indonesia. Banyak intelektual, yang selama ini berkarya dengan predikat sebagai pengamat, misalnya, ternyata memutuskan untuk memperkuat kubu salah satu pasangan capres-cawapres. Ada yang secara total masuk ke struktur tim sukses, ada yang memberikan testimoni di iklan politik, dan ada juga yang sekadar menjadi ''pembisik'' tanpa ikatan kontrak resmi.Direktur Eksekutif Charta Politica Bima Aria Sugiarto, misalnya, termasuk yang mendapat SK resmi. Dia mengaku telah menjadi wakil ketua Dewan Pakar Tim Kampanye SBY-Boediono sejak 3 Juni 2009. Bima Aria selama ini menjadi salah seorang pengamat politik favorit yang sering dimintai komentar oleh media massa.''Seorang pengamat boleh-boleh saja menjadi partisan sejauh itu argumentatif. Daripada mengklaim diri independent, padahal partisan,'' katanya. Dia juga tidak takut kehilangan kepercayaan dari publik dan media karena dianggap sudah tidak lagi objektif. ''Objektivitas itu relatif, bergantung bagaimana bangunan argumentasinya. Saya sendiri berpendirian hidup bukan untuk image atau citra,'' tutur peraih gelar doktor ilmu politik dari Australian National University itu. Sebelum mendirikan Charta Politica, pria kelahiran Bogor, 17 Desember 1972, itu menjadi direktur eksekutif Centre for Political Leadership Studies (CPLS) di Universitas Paramadina pada 2005.Bima Aria menuturkan, di usianya yang masih cukup muda, dirinya merasa sangat tertantang. Ada keinginan besar untuk terlibat langsung dalam pemenangan salah satu kandidat, pertarungan politik tingkat tinggi, sampai nanti pembuatan kebijakan. ''Selama ini banyak orang bilang, pengamat hanya bisa bicara. Makanya, saya pengin banget bisa masuk,'' tuturnya.Dia mengatakan diminta langsung oleh Ketua Tim Sukses SBY-Boediono Hatta Rajasa dan Sekjen DPP Partai Demokrat Marzuki Alie. Mantan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto yang memimpin Tim Echo, salah satu tim sukses bayangan, ikut mendorongnya. ''Sebelumnya, beliau (Hatta Rajasa, Red) sering berdiskusi dan bertukar pikiran dengan saya,'' tuturnya.Bima Aria bukan satu-satunya intelektual yang melebur menjadi anggota tim sukses. Ada juga Denny J.A. yang selama ini memimpin Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Bahkan, secara terbuka, Denny mendeklarasikan dukungannya dengan membentuk Lembaga Studi Demokrasi (LSD) yang memotori kampanye pilpres satu putaran.Dari kubu JK-Wiranto juga ada nama Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance Indonesia (Indef) Ahmad Erani Yustika. Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya kelahiran Ponorogo, 22 Maret 1973, itu menyelesaikan studi doktoralnya pada 2005 di University of Gottingen, Jerman. Rekannya yang juga pernah menjadi komandan di Indef, yakni Fadhil Hasan, juga masuk ke tim JK-Wiranto. Keduanya duduk di bidang kajian.Pengamat politik CSIS J. Kristiadi juga mengaku tengah mempersiapkan testimoni untuk Wiranto dalam salah satu iklan politik. Dia menyatakan sudah bersahabat dengan Wiranto hampir 25 tahun. Menurut Kristiadi, Wiranto adalah pemimpin yang tangkas.''Sewaktu mau dikasih Supersemar sama Soeharto, dia tidak mau. Andaikan waktu reformasi itu Pangab bukan dia (Wiranto, Red), Indonesia pasti banjir darah,'' katanya.Apakah tidak khawatir iklan politik itu akan menggerus citra dirinya sebagai pengamat independen? ''Itu tidak masalah,'' jawabnya.Sejumlah intelektual lain bergabung dengan kubu Mega-Prabowo sebagai tim ahli. Mereka, antara lain, dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Imam Sugema. Selain aktif di Megawati Institute, pria kelahiran Kuningan, 2 Mei 1964, itu juga mendirikan International Center for Applied Finance and Economics (InterCAFE).Iman Sugema berpendirian, setiap intelektual tidak boleh antipati dengan politik. ''Masak orang punya cita-cita besar nggak didukung intelektual. Mana tanggung jawab kami?'' ujarnya.Pakar komunikasi dari UI Effendi Ghazali mungkin termasuk yang memosisikan diri sebagai konsultan tak resmi. Dia mengatakan banyak melakukan komunikasi dengan tim JK-Wiranto dan Mega-Prabowo. ''Nggak pernah diundang SBY nggak apa-apa dong. Mungkin, mereka menganggap aku terlalu kritis,'' katanya. Dia menginginkan era pencitraan yang kini dikembangkan masing-masing tim sukses bisa dikritisi bersama. ''Kalau diminta Cikeas ngomong, saya datang juga, mengapa tidak,'' katanya. Meskipun membantah cenderung ke salah satu pasangan, Effendi Ghazali sempat terlihat berpanas-panas ria dengan para wartawan dan warga saat deklarasi Mega-Prabowo di Bantar Gebang, Bekasi, pada 24 Mei. (tof)
Sumber : jawapos.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar