Rabu, 17 Juni 2009

Orang-Orang Muda Motor Tim Sukses Pasangan Capres-Cawapres

Pencetus Ide Tampilkan Monolog Butet Pilpres 2009 juga menjadi panggung terbuka yang memberikan kesempatan bagi tampilnya wajah-wajah segar politisi muda. Mulai hari ini, Jawa Pos menampilkan kiprah tokoh muda itu. Untuk edisi pertama, ditampilkan tim kaum muda di kubu Mega-Prabowo. Siapa Fadli Zon, Hasto Kristiyanto, dan Firman Jaya Daeli? Priyo Handoko, Jakarta --- KESIBUKAN Fadli Zon di musim kampanye pilpres ini meningkat drastis. Tidak hanya menjadi sekretaris umum Tim Kampanye Nasional Mega-Prabowo, politikus berusia 38 tahun itu juga mendapatkan ''tugas tambahan'' untuk meng-counter berbagai isu miring yang menyerang Prabowo.Kemarin (15/6), misalnya, dia tampil untuk meng-counter isu kewarganegaraan Jordania yang menghantam Prabowo. Kepada wartawan yang hadir di Kantor Mega-Prabowo Media Centre (MPMC), Jalan Prapanca, Jakarta Selatan, Fadli menegaskan kabar itu tidak lebih dari sekadar fitnah.Menurut Fadli, Prabowo memang pernah dua tahun tinggal di Jordania, yakni pada 1998-2000. Tapi, Prabowo tidak pernah mengganti kewarganegaraan. Bahkan, saat ditawari menjadi penasihat militer oleh Raja Jordania Abdullah, yang notabene sahabatnya, Prabowo menolak. ''Prabowo ke Jordan itu konteksnya hijrah setelah difitnah biar suasana di dalam negeri nggak tambah keruh,'' tegas pria kelahiran Jakarta 1 Juni 1971 itu.Begitulah. Wajah Fadli Zon belakangan ini memang semakin sering tampil di televisi. Komentarnya juga hampir setiap hari mengisi kolom media cetak. ''Sedikit capek sih. Tapi, kami juga sering keluar kongkow bareng. Jadi, rileks lagi,'' katanya kepada Jawa Pos. Fadli merupakan satu di antara puluhan orang muda yang mem-back up pemenangan pasangan Mega-Prabowo.Dia juga mengaku bebannya sedikit berkurang karena sudah mengenal dekat sejumlah tokoh muda PDIP yang juga aktif di tim kampanye. Misalnya, Hasto Kristiyanto, Ganjar Pranowo, dan Budiman Sudjatmiko. ''Saya mengenal mereka secara personal dengan baik,'' ujar wakil ketua umum DPP Partai Gerindra itu.Karena itu, pria yang dikenal sebagai tangan kanan Prabowo tersebut merasa hampir tidak ada hambatan untuk menyinergikan kekuatan dua kelompok, yakni PDIP dan Partai Gerindra. ''Kuncinya saling menjaga hati dan tetap saling percaya,'' katanya.Mengenai perannya yang tampak dominan di kubu Prabowo, Fadli berusaha merendah. ''Semua mengalir saja kok,'' cetus peraih gelar master studi pembangunan dari The London School of Economics and Political Science (LSE) Inggris itu.Fadli mengatakan, kalangan muda memang mendapatkan kepercayaan penuh untuk mengelola pemenangan Mega-Prabowo. Bahkan, tidak ada ewuh-pakewuh yang berlebihan saat mereka harus beradu ide dan argumentasi dengan kelompok yang lebih tua.''Nggak ada sungkan-sungkan. Suasananya egaliter. Masukan dari muda-muda didengar. Malah, kami banyak mengendalikan,'' ujarnya, lantas tersenyum.Selain Fadli, tokoh muda yang tampak menonjol adalah Hasto Kristiyanto yang menjadi wakil sekretaris II dan Firman Jaya Daeli yang memimpin tim debat. ''Karena banyak yang muda, manuver politik bisa lebih cepat,'' kata Hasto.Hasto memberikan contoh saat kampanye damai yang diselenggarakan KPU. Informasi bahwa setiap pasangan capres-cawapres harus mementaskan seni-budaya diperoleh kubunya tiga hari menjelang pelaksanaan, 10 Juni malam. ''Usul agar menampilkan monolog Butet Kartaredjasa itu kan datangnya dari kami yang muda-muda ini,'' tuturnya, lantas terkekeh.Menurut dia, karakter khas orang muda biasanya rasional dan progresif. Meski begitu, etika tetap dijaga. ''Makanya, jarang di antara kami keluar statement yang bisa bikin blunder,'' kata anggota Komisi VI DPR kelahiran Jogjakarta 7 Juli 1966 itu. ''Kerja samanya juga enak. Mau rapat dan pulang sampai pagi tidak masalah,'' imbuhnya.Firman Jaya Daeli mengatakan, Pilpres 2009 memang momentum ''pembuktian'' bagi kelompok muda. Terutama memastikan publik bahwa kaum muda bisa menjadi faktor positif yang melengkapi politisi yang lebih berpengalaman (tua, Red). ''Jadi, ada perspektif baru,'' katanya.Secara halus, dia juga menolak disebut menonjol. Firman mengatakan, dirinya memang tampil pada bidang-bidang tertentu, khususnya yang berkaitan dengan hukum dan HAM serta politik dalam negeri. Agenda pemilu, pilpres, pilkada, dan penyelenggara pemilu memang menjadi makanannya. ''Untuk topik yang lain, tentunya ada figur lain,'' ujar anggota DPR kelahiran Nias 14 Desember 1968 itu. (*)
Rabu, 17 Juni 2009 ]
Orang-Orang Muda Motor Tim Sukses Pasangan Capres-Cawapres (2)
Urus Partai, Tak Sempat Lagi Berlatih Badminton Dari kubu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono juga muncul sejumlah tokoh muda yang berpotensi menjadi politikus masa depan. Mereka adalah Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng.Priyo H. dan Tomy C. Gutomo, Jakarta --- ADA satu kebiasaan yang terlupakan oleh Anas Urbaningrum dalam tiga tahun terakhir. Kesibukannya sebagai ketua DPP Bidang Politik Partai Demokrat membuat alumnus Fisip Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu tak sempat lagi melakukan olahraga favoritnya, yakni badminton. ''Dulu saya bisa main dalam seminggu sampai dua kali. Biasanya di kawasan Kuningan dan Pondok Bambu,'' kata mantan Ketum PB HMI periode 1997 -1999 itu. Anas menceburkan diri ke dunia politik praktis dengan bergabung ke Partai Demokrat sejak 2005.Awalnya, pria kelahiran Blitar, 15 Juli 1969 itu masih sempat sesekali bermain badminton. Tapi, setelah intensitas politik meningkat dalam rangkaian persiapan pemilu legislatif dan pilpres, dia tak sempat lagi memukul ''kumpulan bulu-bulu ringan'' shuttle cock di lapangan.''Pola olahraga selama tiga tahun terakhir ini rusak total. Sekarang saya berdoa, mudah-mudahan pilpres bisa tuntas satu putaran sehingga bisa main badminton lagi Juli ini,'' ujar penggemar juara dunia bulu tangkis delapan kali, Rudy Hartono itu, lantas tersenyum lebar.Anas adalah salah satu tokoh muda di balik tim sukses SBY-Boediono yang bintangnya tengah bersinar cerah. Sebelum bergabung dengan Demokrat, ayah dua anak itu duduk sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menyelenggarakan pemilu dan pilpres 2004.Meski terbukti mendapat kepercayaan besar di Partai Demokrat dan kubu SBY-Boediono, Anas tak mau tinggi hati. Saat ditanya mengenai peluang karir politiknya ke depan, anggota DPR terpilih periode 2009-2014 itu juga hanya menjawab ringan. ''Saya kan baru belajar politik praktis tiga tahun terakhir. Ini kesempatan yang sangat berharga. Biarlah semua berjalan alamiah. Sebab, genderang politik itu tidak bisa dipaksakan. Biasanya yang alamiah akan lebih baik,'' ungkap suami Athiyyah Laila itu.Tokoh muda lain di sekitar SBY adalah Andi Mallarangeng. Dia menjabat ketua Departemen SDM DPP Partai Demokrat. Tampilnya Andi kadang juga tak terlepas dari perannya sebagai juru bicara presiden. Anas mengakui, pada tim sukses SBY-Boediono sebenarnya banyak anak muda. Salah satunya Angelina Sondakh. Sedangkan tokoh-tokoh muda dari partai mitra koalisi juga ada Lukman Hakim Syaifuddin (PPP), Mahfudz Siddiq (PKS), Muhaimin Iskandar (PKB), dan Zulkifli Hasan (PAN). ''Mungkin liputan media yang memberi kesan seakan-akan kami yang dominan. Padahal, semua bekerja pada porsi masing-masing,'' tuturnya.Di musim kampanye pilpres sekarang, Anas mengaku mendapat tugas sebagai penjaga gawang di Jakarta. Dia yang harus memberi respons cepat terhadap isu-isu politik yang berseliweran, baik yang mengancam SBY-Boediono maupun yang menguntungkan. ''Kecuali untuk persoalan yang sangat sensitif dan strategis baru harus dikoordinasikan dan mendapatkan persetujuan khusus. Sisanya, saya bisa bergerak bebas,'' kata Anas. Untungnya, imbuh Anas, lingkungan di Partai Demokrat tidak mendikotomikan antara senior dan golongan yang masih muda, seperti dirinya.Andi mengatakan, tim sukses SBY-Boediono yang terdiri atas anak-anak muda penuh inovasi mendesain model kampanye baru. Dia menyebutnya kampanye modern.Kampanye SBY-Boediono tidak dilakukan di lapangan terbuka seperti kampanye pemilu legislatif. Mereka menggunakan konsep town hall meeting yang diadopsi dari kampanye capres di Amerika Serikat. Peserta kampanye hanya 500 hingga dua ribu orang. Namun, kampaye itu melibatkan seluruh media massa. ''Kampanye seperti ini lebih efektif karena capres bisa menyampaikan visi dan misi secara utuh dan mudah dipahami semua peserta kampanye,'' kata Andi. Selain itu, dari sisi finansial, model town hall meeting jauh lebih murah daripada kampanye terbuka. ''Pasangan SBY-Boediono hanya sekali menggelar kampanye terbuka, nanti terakhir di Gelora Bung Karno,'' kata Andi.Juru bicara presiden ini yakin model kampanye modern itu akan berkembang di Indonesia. Dalam Pilpres 2014 nanti, Andi yakin, semua capres sudah menggunakan metode kampanye modern yang efektif dan praktis. Bahkan, mungkin dalam pilkada tahun depan model itu diadopsi oleh calon kepala daerah. Dia mengatakan, semua itu merupakan buah terobosan anak-anak muda. (agm)
sumber: jawapos.com

Tidak ada komentar: