Senin, 15 Juni 2009

Di Suemnep, 187 Siswa Tak Lulus Unas 2009

Senin, 15 Juni 2009 ]
187 Siswa Tak Lulus Unas
Di Bangkalan 12 Siswa SUMENEP-Siswa SMA/MA/SMK di Sumenep yang tidak lulus ujian nasional (unas) tahun ini cukup banyak. Sebanyak 187 dinyatakan tidak lulus. Ratusan siswa yang tak lulus itu diketahui setelah jajaran Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep rapat dengan Dinas Pendikan Provinsi Jawa Timur beberapa hari lalu.Kepala Disdik Sumenep Moh. Rais mengaku data kelulusan sudah dikantonginya. Rencananya, hari ini (16/6), pukul 12.00, pelulusan siswa untuk tingkat SMA diumumukan secara serentak. Dia mengungkapkan, pada unas tahun ini ada 187 siswa tidak lulus. Rinciannya, 96 siswa MA dan 91 siswa SMA. Sayangnya, Rais enggan menjelaskan lebih detail nama siswa tidak lulus dan sekolah asalnya. "Pengumuman akan segera disampaikan," kelitnya.Dengan 187 siswa tak lulus unas itu, Rais mengaku prihatin. Di sisi lain, disdik masih bisa bernafas lega karena sebagian besar siswa dinyatakan lulus atau 97,24 persen lulus dengan baik. Hanya 2,0 persen saja yang tidak lulus.Menurut dia, nilai kelulusan siswa banyak yang memuaskan. Angka tertinggi yang berhasil diraih siswa Sumenep mencapai 55,20. Meskipun pada tahun ini tidak ada siswa Sumenep yang nilainya tertinggi se Jawa Timur.Sementara di Bangkalan, tercatat 12 siswa SMA/MA/SMK tidak lulus unas. Jumlah ini lebih banyak dibanding tahun lalu yang hanya dua siswa. Pengumuman kelulusan dilakukan hari ini.Informasi yang didapatkan koran ini, 12 siswa yang tidak lulus itu terdiri atas enam siswa SMA dan enam siswa MA. Sedangkan dari 691 siswa SMK yang tahun ini ikut unas lulus 100 persen. Tahun lalu siswa yang tidak lulus, seorang siswa SMK dan seorang lagi siswa MA. "Memang ada beberapa siswa kita yang tidak lulus. Jumlahnya mencapai 12 orang," ujar Kepala Disdik Bangkalan Setjabudi melalui Kabid Pendidikan Menengah Sugiono kemarin.Siswa yang tidak lulus unas semuanya dari jurusan IPS. Lima siswa dari SMAN 1 Tanjungbumi dan seorang lagi siswa SMA YKHS Sepuluh. Sedangkan enam siswa MA yang tidak lulus berasal dari MA Darul Hikmah 2 orang siswa, MA Uswatun Hasanah 2 siswa, MA Al Hamidiyah 1 sisw, dan seorang lagi siswa MA An- Namirah. "Para siswa yang tidak lulus tersebut akan didaftarkan kejarpaket C," kata Sugiyono.Sugiyono menjelaskan, dari 4.400 peserta unas di Bangkalan, 4388 siswa lulus atau 99,73 persen. Meski ada 12 siswa yang tidak lulus, menurut dia, Bangkalan patut berbangga karena nilai rata-rata untuk program IPA dan IPS menembus peringkat 10 besar Jatim. "Kami mampu mengalahkan kota pendidikan seperti Surabaya dan Malang. Untuk jurusan IPS kita berada di posisi ke-6 dan IPA di posisi ke-8," ungkapnya.Siswa peraih nilai unas tertinggi jurusan IPA adalah Imam Syafii, siswa SMAN 1 Blega dengan nilai 54,70. Disusul Gilang Maula Abdi 54,05, Gita Mayapada El Reza 54,05, Bili Saputra 53,95, dan Fahmi Firdaus 53,90, semuanya dari SMAN 1 Bangkalan. Untuk jurusan IPS, siswa SMAN 2 Bangkalan menguasai sembilan dari sepuluh peringkat terbaik di Bangkalan. Terbaik utama diraih Moh. Ansori dengan nilai 52,45. (tur/ale/mat)
[ Minggu, 14 Juni 2009 ]
Belum Siap Hadapi Industrialisasi
PAMEKASAN - Kabar industrialisasi di Madura pasca - pengoperasian Jembatan Suramadu sudah akrab di telinga masyarakat sejak dulu. Namun, kabar ini seperti kurang mendapatkan perhatian serius dari pihak Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan. Buktinya, hingga Suramadu diresmikan, Pamekasan belum memiliki aturan resmi mengenai izin usaha industri (IUI) dan tanda daftar industri (TDI). Sekretaris Disperindag Imam Rifadi mengatakan, pihaknya telah mengajukan IUI dan TDI kepada bagian hukum dua pekan yang lalu. "Namun, itu harus dibahas dulu oleh dewan. Biasanya selesai antara 3 sampai 4 bulan," katanya kepada koran ini Kamis (11/6).Kenapa baru diajukan? Imam menjelaskan, Pamekasan memang baru membutuhkan sekarang. Sebab, selama ini belum ada industri besar di Pamekasan. Sehingga, saat itu peraturan soal industri, baik dari penataan kawasan hingga bentuk perizinan, dinilai tidak begitu penting.Tapi sekarang, katanya, Pamekasan membutuhkan adanya IUI dan TDI. Sebab, industri harus diatur sedemikian rupa. Pihaknya berharap masyarakat tidak dirugikan dengan industrialisasi."Pasca - Suramadu industrialisasi di Pamekasan tidak mungkin bisa dinafikan. Makanya, kita sedang memroses IUI dan TDI sebagai piranti hukum," terangnya.Namun, pernyataan Imam dibantah oleh Kabag Hukum Setkab Judy Keishna Murti. Menurut Judy, sampai kemarin pihaknya belum mendapatkan surat pengajuan peraturan mengenai IUI dan TDI dari disperindag. "Jika memang ada mana buktinya?" katanya melalui telepon kemarin siang.Sehari sebelumnya, Judy mengakui jika di Pamekasan masih banyak peraturan yang memerlukan pembenahan. Termasuk peraturan mengenai industri. (c14/mat)


Senin, 15 Juni 2009 ]
Draf RAPBD 2010 Molor
SUMENEP- Pembahasan Rancangan Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD) Sumenep 2010 dipastikan molor. Pasalnya, hingga saat ini pemkab belum menyerahkan draf RAPBD ke dewan. Anggota Komisi A DPRD Sumnenep, A. Sitrul, mengatakan, hingga saat ini eksekutif belum mengirimkan draf RAPBD 2010. Padahal, seharusnya RAPBD sudah dibahas oleh anggota dewan pada bulan ini.Pembahasan RAPBD menunggu pemkab mengirimkan drafnya. Setelah dewan menerima draf, panmus akan menentukan jadwal untuk pembahasan. "Kami segera bahas biar tidak molor terlalu lama," tandasnya.Sehingga, sambungnya, penghitungan realiasasi APBD 2009 cepat diagendakan. Dan penghitungan itu idealnya dilakukan oleh anggota dewan yang lama, supaya nyambung. Alasannya, anggota DPRD lama lebih tahu serapan dana. Sitrul mendesak pemkab menyerahkan draf RAPBD 2010 ke DPRD. "Mumpung masa bakti sejumlah anggota dewan masih ada," katanya.Soal molornya pengiriman draf RAPBD, Sitrul tidak banyak komentar. Dia menduga, keterlambatan tersebut karena eksekutif sibuk. Namun begitu, dia berharap pemkab tidak menunda-nunda pengiriman. Dalihnya, molornya pengiriman draf bisa menghambat pelaksanaan proyek yang diprogrankan. "Semoga ini menjadi perhatian eksekutif," harapnya. (tur/mat)

Senin, 15 Juni 2009 ]
Disdik Minta BOS Dikelola Profesional
PAMEKASAN-Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan mengingatkan sekolah penerima BOS (bantuan opersional sekolah) mengelola secara profesional. Pasalnya, peruntukan BOS sudah tertuang di domnis (pedoman teknis).Manajer BOS di Disdik Shalah Samlan mengatakan, BOS adalah program pemerintah untuk penyediaan pendanaan biaya nonpersonalia bagi satuan pendidikan dasar (diksar). Program tersebut untuk pelaksanaan program wajib belajar (Wajar). Tujuan umum BOS untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam Wajar 9 Tahun yang lebih bermutu. Tujuan khususnya, BOS menggratiskan siswa miskin di tingkat diksar dari beban biaya operasional sekolah (negeri/swasta).Selain itu, BOS menggratiskan siswa SD/SMP, kecuali RSBI (rintisan sekolah bertaraf internasional) dan SBI (sekolah bertaraf internasional). Besar BOS masing-masing SD/SDLB di kabupaten Rp 397 ribu/siswa/tahun. Sedangkan SMP/SMPLB/SMPT (kabupaten) sebesar Rp 570 ribu/siswa/tahun.BOS diberikan selama satu tahun secara triwulanan. Rinciannya, Januari-Maret, April-Juni, Juli-September, dan Oktober-Desember. Dalam kebijakan program 2009, BOS termasuk BOS buku untuk siswa/tahun. Sedangkan pemkab wajib mengendalikan pungutan biaya operasional di SD/SMP swasta. Sehingga, siswa miskin terbebas dari pungutan dan tidak terjadi pungutan berlebihan kepada siswa mampu.Pemkab wajib menyosialisasikan dan melaksanakan kebijakan BOS 2009 dan memberi sanksi bagi yang melanggar. Pemkab juga wajib memenuhi kekurangan biaya operasional dari APBD bila BOS dari Depdiknas belum mencukupi. Sedangkan sekolah wajib menerima BOS sesuai domnis. Bila sekolah tidak mau menerima BOS, dilarang memungut biaya dari siswa/wali siswa. Dijelaskan, BOS merupakan sarana penting untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan dikdas 9 tahun. Melalui BOS, siswa miskin tidak boleh putus sekolah karena tidak mampu membayar iuran/pungutan yang dilakukan sekolah. BOS juga mengupayakan lulusan SD (sederajat) melanjutkan ke SMP (sederajat). Di tingkatan sekolah, penanggung jawab BOS kepala sekolah beranggotakan bendahara dan seorang lainnya dari unsur orangtua/komite. "Makanya kami minta sekolah benar-benar bertanggungjawab karena BOS ini amanat," tegas Shalah. (abe/adv/bersambung)
[ Senin, 15 Juni 2009 ]
Senang Menjadi Bagian dari Sejarah Suramadu
KEBERADAAN batik dari Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan sudah banyak dikenal di dalam negeri hingga manca negara. Bahkan, dalam peresmian jembatan suramadu (10/6) sebagai yang terpanjang di Indonesia, batik Tanjung Bumi dikenakan oleh seluruh rombongan kenegaraan. Termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ny Ani Bambang Yudhoyono. Karena itu tak berlebihan jika masyarakat Tanjung Bumi sebagai penghasil batik di Bangkalan meminta pemerintah memberi perhatian khusus.Ada cerita menarik di balik dikenakannya batik asli Tanjung Bumi oleh rombongan pemerintah pusat hingga daerah. Menurut putra pemilik UD Tanjung Ekspres, Rudi Affandi, dirinya dan ibunya Hj Hosiah sama sekali tak menyangka batik yang dipesan provinsi bakal dipakai di acara besar peresmian Jembatan Suramadu. "Saya baru tahu batik yang dipesan di tempat kami, dipakai Pak SBY setelah menonton televisi," ujarnya.Diceritakan, beberapa hari sebelum acara peresmian jembatan, ada beberapa orang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur datang ke rumahnya. Mereka kemudian memesan 300 lembar kain batik La' Ola' khas Tanjung bumi yang dibuat oleh Hj Hosiah di UD Tanjung Ekspresnya. "Kami tidak tahu akan dipakai SBY. Perkiraan kami hanya akan dipakai oleh panitia provinsi," tutur Rudi.Pesanan 300 lembar bukan hal yang sulit bagi Hj Hosiah setelah lebih dari 30 tahun bergerak di bidang batik. Dia bersama beberapa pekerja langsung membuat batik tulis padat karya itu dalam waktu yang ditentukan. Tak ada pemberitahuan apa pun setelah itu dari pihak provinsi."Kami terkejut sekali melihat SBY dan istrinya mengenakan batik La' Ola' buatan kami. Bagaimana pun kami sangat senang dan bangga bisa menjadi bagian dari sejarah peresmian jembatan Suramadu," katanya bersemangat.Dijelaskan, Hj Hosiah telah memulai usahanya sejak tahun 1977. Sejak itu ibu alumnus SMAN 2 Bangkalan itu mulai banyak mengikuti pameran ke luar daerah. Perkenalannya dengan pembeli di luar daerah dimulai dari kemauannya mengikuti kegiatan promosi di beberapa tempat. "Ibu saya itu pernah bekerja sama dengan orang Italia yang tinggal di Bali untuk memelajari batik," tuturnya.Pameran demi pameran yang diikuti wanita asli Tanjung Bumi itu membuat nama dan produknya dikenal khas. Hal itu juga membuat masyarakat Tanjung Bumi makin bersemangat untuk terus berkarya.Namun, Rudi mengemukakan hingga saat ini belum ada perhatian khusus dari pemerintah, khususnya pemerintah daerah. Sebab, dia masih banyak melihat pegawai negeri maupun swasta dan siswa sekolah di Bangkalan mengenakan batik yang bukan berasal dari Bangkalan. "Padahal kalau di luar Madura, batik Bangkalan sangat dipercaya kualitas dan kekhasannya," ungkapnya.Dia berharap, datangnya era industri Suramadu bisa membuat pemerintah daerah mulai memberikan perhatian. Contohnya dengan membuat peraturan daerah (perda) yang berpihak pada masyarakat pembatik di Bangkalan. "Kan belum ada perda yang mengatur pegawai negeri atau swasta dan siswa sekolah memakai batik lokal. Tanjung Bumi itu tempatnya batik, bisa pesan batik pada siapa saja. Jadi, bukan hanya pada saya atau ibu saya saja," gagasnya. (nra/ed/adv)
[ Senin, 15 Juni 2009 ]
Suramadu Ramai, Feri Sepi
BANGKALAN-Sejak Jembatan Suramadu dibuka lagi pada Sabtu (13/6) siang, tampak suasana kontras antara di Suramadu dan Pelabuhan Kamal. Dalam dua terakhir ini, warga berbondong ke Suramadu. Sebaliknya, sedikit kendaraan dan penumpang yang menggunakan jasa penyeberangan feri Kamal-Ujung.Bahkan, kemarin antrean panjang terjadi di Jembatan Suramadu. Praktis, beberapa ruas jalan di Kecamatan Burneh hingga ke Bangkalan macet. Mereka yang penasaran ini melewati Suramadu tidak hanya dari Bangkalan, malah lebih banyak yang berasal dari Surabaya. Efendi, warga Kaliasin, Surabaya, misalnya, kemarin bersama istrinya menjajal Jembatan Suramadu. Ditemui saat istirahat di sebuah warung di pintu keluar akses sisi Madura, Efendi mengaku takjub dan baru tahu bahwa Madura juga indah. Kesan tandus yang selama ini didengar tentang Madura, berubah setelah melihat persawahan luas di sepanjang jalan akses sisi Madura. "Sudah lama saya tidak lihat sawah dan sapi. Baru sekarang bisa melihatnya lagi setelah ke Madura. Jadi, bohong besar kalau bilang Madura tandus dan tidak ada air," ujarnya.Hal yang sama disampaikan Santi, 16. Bersama sang pacar, siswa sebuah SMA swasta di Surabaya ini sempat ragu mencoba Suramadu untuk ke Madura. Awalnya dia berpikir orang Madura keras dan suka berbuat jahat. Namun, kata dia, itu bertolak belakang. Bahkan, ketika motornya mogok, dia dibantu penduduk sekitar. "Kami diantar sampai dapat bengkel. Meski saya tidak mengerti bahasa mereka, tapi mereka ramah dan sopan," ujarnya.Warga yang menikmati Suramadu benar-benar luar biasa. Di hari Minggu kemarin, gelombang sepeda motor dan mobil yang yang masuk ke arah Madura sangat banyak. Mereka memarkir motor dan mobilnya di sepanjang jalan akses sisi Madura. Selanjutnya, mereka berfoto ria. Di area itu muncul warung-warung dadakan dan ramai didatangi warga. Beberapa rumah makan juga ramai pemebli. Mobil dan sepeda motor tampak di parkiran di beberapa rumah makan di Kota Bangkalan. Sebagian besar kendaraan tersebut bernomor polisi L (Surabaya) S (Lamongan, Tuban), W (Sidoarjo), N (Malang, Pasuruan, Probolinggo) dan beberapa nomor polisi dari luar pulau lainnya. Hal yang sama juga terlihat di stasion pengisian bahan baker (SPBU), pasar, dan Alun-Alun Kota BangkalanSebaliknya, penumpang feri Kamal-Ujung sepi. Pantauan koran ini di Pelabuhan Kamal kemarin pagi, muatan kapal dengan berbagai golongan tampak sepi. Saat berangkat dek kapal hanya terisi separuh.Bahkan, kendaraan itu hanya kendaraan roda dua dan mobil pribadi. Sementara kendaraan yang bertonase tinggi dan mobil pribadi dengan plat nomor Sampang, Pamekasan dan Sumenep tidak banyak.Namun, sepinya muatan feri dibantah ASDP. Pimpinan Cabang PT Indonesia Feri ASDP Surabaya Prasetyo Bhakti Utomo saat dikonfirmasi koran ini mengatakan, membludaknya warga yang melewati Suramadu tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah muatan feri. "Buktinya, feri yang dioperasikan tetap 12 unit. Seharusnya, kalau memang jumlah penumpang sedikit, kami tidak akan mengoperasikan feri dengan jumlah yang tergolong banyak. Itu kan hanya mempengaruhi biaya operasional," sergahnya."Bahkan, kemarin (13/6) jumlah penumpang sebanyak 4.000 orang. Jumlah ini kan naik dari jumlah penumpang sehari sebelumnya yang hanya berkisar 3.000 orang," tuturnya.Menurut Prasetyo, untuk menyaingi Jembatan Suramadu, pihaknya terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan yang memuaskan penumpang. "Terutama, saat ini kami fokuskan pelayanan cepat. Penumpang tidak harus berlama-lama lagi kalau ingin menyeberang," terangnya.Dijelaskan, jika lintas Ujung-Kamal biasanya memakan waktu hingga 45 menit, kini diupayakan hanya berkisar 30-45 menit. "Dengan penawaran seperti ini diharapkan kami tetap bisa eksis," katanya. (ale/uji/mat)

Senin, 15 Juni 2009 ]
Menelusuri Dunia Cewek Bispak Anak SMP-SMA di Pamekasan
Tidak Mau di Hotel, Tarifnya di Atas Rp 500 ribu Dunia cewek bisa pakai (bispak), apalagi dari kalangan anak SMP-SMA, sesulit mencari jarum di jerami. Tapi, koran ini berhasil menelusuri sebagian anak baru gede (SBG) yang menjual kenikmatan sesaat itu. Ceritanya berseri mulai hari ini.NADI MULYADI, Pamekasan ---AWALNYA koran ini tidak percaya jika di kota dengan ikon Gerbang Salam (Gerakan Pembangunan yang Islami) ada pelajar yang bisa dipakai (bispak). Karena itu, untuk menelusurinya, memang tidak mudah. Maklum, jaringan mereka sangat tertutup dan rapi. Bahkan, jauh berbeda dengan prostitusi di kota-kota besar yang menggunakan jasa germo/mami maupun tempat prostitusi.Beberapa waktu lalu, koran ini tidak sengaja berkenalan dengan seorang cewek ABG di salah satu tempat perbelanjaan di Jalan Stadion. Tanpa curiga sedikit pun, dia lantas mengenalkan diri bernama Clara (nama samaran).Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 13.15. Artinya, koran ini sudah siap-siap masuk redaksi untuk mengetik berita agar bisa menyajikan informasi kepada pembaca. Namun, saat ABG yang masih lengkap dengan seragam sekolahnya dengan atasan putih dengan rok warna biru (SMP) itu hendak pulang, koran ini terbesit ide meminta nomor handphone-nya.Sesampainya di kantor, koran ini sudah terfokus pada berita yang akan ditulis. Bahkan, ABG yang lumayan cantik dengan kulit mulus dan tinggi sekitar 164 cm itu tidak terpikirkan untuk digoda. Atau sekadar mengirim SMS (pesan pendek).Tapi, sikap iseng muncul saat salah teman koran ini yang juga wartawan online (sebut saja Sandi) berkunjung ke kantor. Saat itu sekitar pukul 17.00. Artinya, koran ini selesai mengerjakan tugas sesuai deadline."Ayo Boy (Sandi memanggil koran ini) telepon ABG tadi (yang ketemu di perbelanjaan). Sapa tahu bisa ada feeling sama aku," katanya sambil mengambil HP koran ini dari tas kerja.Singkat cerita, berawal dari telepon-teleponan dan SMS-an dengan Sandi itu ABG yang masih tercatat siswa kelas 8 salah satu SMP negeri favorit di Pamekasan itu menunjukkan gelagat aneh. Lain dari ABG pada umumnya. Ada tanda-tanda bisa dipakai."Kayaknya kita akan berhasil menangkap buruan yang sejak lama sulit terungkap," kata Sandi. Kebetulan koran ini dan Sandi berupaya mencari kebenaran bisnis esek-esek yang melibatkan pelajar SMP dan SMA.Untuk membuktikan bahwa gadis ingusan yang masih berumur 14 tahun itu bispak, koran ini dan Sandi mengatur strategi bagaimana dia bisa masuk perangkap. Dengan menggunkan nomor baru dan nama samaran, Sandi menghubungi Clara untuk mengajak ketemu dan check in.Namun, hasilnya nihil. Yang bersangkutan tidak mau. Bahkan Sandi dicaci maki karena dinilai telah kurang ajar. "Waduh...saya dimarahin Boy. Ternyata dia tidak mau," tuturnya saat itu kepada koran ini menceritakan pembicaraan saat menghubungi Clara.Akhirnya, koran ini muncul ide menghubungi langsung Clara. Dengan memberanikan diri, koran ini memencet nomor HP Clara. Dengan penuh keraguan, koran ini pura-pura mencari cewek bispak untuk teman kepada Clara."Kalau saya tidak punya teman yang bisa pakai Mas," katanya saat menjawab koran ini. Tapi, koran ini langsung kaget terbelalak saat Clara berkata. "Kenapa tidak saya saja Mas?" jawab Clara di ujung telepon. Dengan memberanikan diri koran ini mengiyakan.Setelah ada kesepakatan, koran ini mengajak ketemu di sebelah selatan Bundaran Arek Lancor, sekitar pukul 18.30. 10 menit kemudian, Clara tiba dengan motor matic-nya. Koran kembali kaget saat Clara menuturkan tarif per short time-nya."Biasanya Rp 750 ribu sampai Rp 1 Juta sekali main. Tapi kalau ke Mas saya korting Rp 250 ribu deh," tuturnya genit sambil melirik ke temanku, Sandi. Kebetulan saya tidak berani sendirian.Anehnya, dia tidak mau check in di hotel. Selain ingin tetap menjaga rahasianya dari keluarga dan teman-temannya, dia beralasan di rumah atau di kos lebih aman dan nyaman. Dia juga mengaku, kalau di kos atau di rumah tidak layaknya bispak, tapi seperti pacaran."Tidak ada teman sekolahku yang tahu termasuk keluarga saya, tentang aktifitas saya di luar sekolah," akunya. Maklum, setiap pulang sekolah Clara mengaku tepat waktu. Termasuk aturan jam malam selalu dituruti, yakni pukul 09.00 harus sudah ada di rumah.Menurut ABG yang berasal dari keluarga berkecukupan itu, dia tidak mau dicap pelacur. Tapi aktivitasnya merupakan gaya hidup yang dinilai tidak ada yang salah.Bahkan, dia menegaskan, mematok harga mahal bukan karena matre tapi harga itu merupakan trik agar tidak semua orang bisa menjamah dan mengetahuinya. "Saya tidak pernah mau diajak siapa pun sebelum saya kenal lama. Minimal satu bulan kenallah, baru saya mau," tuturnya.Clara mengaku kali pertama berhubungan layaknya suami istri sejak kelas 7 SMP dengan temannya. "Saya tidak pernah pacaran, tapi (maaf) ngesek sering. Intinya, dia mau bayar dan saya sebelumnya telah kenal," tuturnya ceplas ceplos.Namun, Clara enggan menjelaskan alasannya sehingga memilih jalan hidup seperti itu. "Mas ini mau main apa hanya ngobrol aja sih. Emangnya aku tidak punya nafsu juga apa?" sergah Clara dengan muka memerah saat koran ini mengutarakan maksud dan tujuannya, yakni tidak mau memakai.Dengan berbagai 'jurus", Clara akhirnya memaklumi. Tapi, saat koran ini mau memberikan uang sesuai tarifnya, Clara menolak dengan alasan jasanya tidak dipakai. Tapi setelah dipaksa, Clara menerima juga amplop yang berisi uang pecahan 50 ribu 10 lembar tersebut.Sementara itu, Kasatpol PP M. Rofie melalui Kasi Penegakan Perda Sjansuridjal Arifin sebelumnya mengaku kesulitan untuk membongkar bisnis esek-esek yang terselubung itu. Terutama yang melibatkan pelajar. ­"Kesulitannya, kami tidak bisa mendeteksi. Kalau tempat prostitusi yang berkedok warung remang-remang dan warung kopi, itu kami masih menciumnya," katanya. Ridjal mengharap peran serta masyarakat jika ada praktek prostitusi agar diinformasikan. (mat/bersambung)
Senin, 15 Juni 2009 ]
Panitia Bongkar Tenda IC
PAMEKASAN-Tenda mewah yang hampir satu pekan dipasang di halaman gedung Islamic Centre (IC) kemarin mulai dibongkar. Sebab, peresmian IC oleh Presiden SBY hingga kemarin masih belum jelas. Untuk membongkar tenda yang didatangkan dari Surabaya itu, panitia menurunkan 30 orang. Hingga kemarin siang pekerja baru menyelesaikan pembongkaran papan yang menjadi alas tenda.Ditemui koran ini, Ketua Panitia Pelaksana Pengadaan Properti Martha mengatakan, pembongkaran tenda demi menghindari peralatannya rusak akibat cuaca. "Kemarin kami tetap pajang karena kabarnya akan diresmikan tanggal 15 (hari ini, Red). Ternyata katanya diundur lagi sampai 30 Juni nanti. Daripada rusak, terpaksa dibongkar dulu," terangnya.Padahal, dana untuk pengadaan tenda seperti itu, menghabiskan lebih dari Rp 100 juta. Namun, Martha tidak mengerti angka pastinya. Namun, menurut ketua panitia pelaksana yang juga menangani peresmian Jembatan Suramadu ini, tenda untuk presiden biasa dibandrol lebih dari Rp 100 juta.Martha juga khawatir jika tenda tidak dibongkar secepatnya, masyarakat akan terus bertanya-tanya peresmian IC. "Kalau tenda tetap terpasang kasihan bupati. Nanti ditanya terus sama rakyatnya kapan peresmian dilaksanakan," katanya Martha sambil berkelakar.Untuk diketahui, sebelumnya peresmian IC direncanakan pada hari yang sama dengan peresmian Jembatan Suramadu (10/6). Namun, karena Preiden SBY berhalangan hadir, akhirnya peresmian diundur tanpa ada kejelasan waktu. Namun, sempat beredar informasi peresmian akan dilaksanakan pada 14 atau 15 Juni. Tapi malah tenda yang sudah dipasang justru kemarin dibongkar. (c14/mat)
Senin, 15 Juni 2009 ]
Tepis Konspirasi, Siap Independen
Pelantikan Anggota KPUD Bangkalan 2009-2014 BANGKALAN-Dugaan ketidakberesan penentuan lima anggota KPUD Bangkalan periode 2009-2014 langsung ditepis. Khususnya terkait tudingan adanya tarik ulur kepentingan dalam penentuan mereka. Kedepan, KPUD Bangkalan terpilih berjanji independen melaksanakan pemilihan umum di kabupaten ini.Penetapan lima anggota KPUD Bangkalan 2009-2014 memang cukup menarik. Nama-nama anggota yang akan dilantik pada Jumat (12/6) siang kemarin harus berubah dua kali hanya dalam hitungan jam sebelum acara pelantikan dilakukan. Sumber Koran ini mengatakan, penetapan awal dari KPU Jatim menyebutkan bahwa lima nama yang lolos menjadi lima besar adalah Fauzan Djakfar, Syaiful Ismail, Moh. Mansur, Shomad dan Rahmat. Namun sehari menjelang pelantikan, ada pihak yang menunjukan bukti bahwa Rahmat tercatat sebagai pengurus partai. Diapun harus dianulir dan digantikan Mathur Khusairi. Namun Mathur yang sudah siap menghadiri pelantikan juga harus terpental. Dia juga dianggap sosok partisan sebagai pengurus DPC PKB Bangkalan. "Padahal saya tidak pernah jadi pengurus partai. Saya juga bukan partisan. Kenapa saya diklaim secara sepihak, sehingga gagal dilantik," ujar Mathur pada koran ini.Barulah sekitar pukul 12.00 atau sekitar dua jam menjelang pelantikan, nama Tajul Anwar melengkapai komposisi lima anggota KPUD Bangkalan 2009 - 2014.Saat dikonfirmasi koran ini, dia mengaku terkejut secara mendadak dihubungi untuk mengikuti pelantikan di Surabaya. Tajul mengatakan bahwa dia tidak mengerti dengan anggapan bahwa dirinya terpilih karena adanya konspirasi tingkat tinggi. "Saya sendiri baru tahu terpilih pada siang harinya. Masak saya ikut dalam rencana besar. Saya juga belum mengetahui kenapa bisa saya yang terpilih," ujarnya.Hal yang sama disampaikan Fauzan Djakfar. Anggota KPUD Bangkalan yang kembali terpilih untuk kali kedua ini mengatakan tidak ada kejanggalan dalam komposisi baru ini. Fauzan mengatakan bahwa semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir adalah dinamika dan wewenang penuh KPU Provinsi Jatim. "Mungkin ada pertimbangan yang memaksa KPU Jatim meralat keputusannya. Jadi tidak ada yang janggal, bahkan kita yang sudah dapat SK bisa diganti bila nanti terbukti tidak memenuhi syarat," ujarnya.Fauzan dan Tajul mengatakan, menurut UU KPUD adalah lembaga yang bersifat tetap, nasional dan mandiri. Sehingga KPUD Bangkalan akan bersikap independen dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya selama lima tahun kedepan. "Sehingga dugaan banyak tarik ulur kepentingan di balik penetapan kita, itu sangat tidak benar," pungkas Fauzan. (ale/ed)
sumber : jawapos.com

Tidak ada komentar: