Sindrom traumatik dikala muda
oleh : Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Dalam berbagai kesempatan konseling dengan bemacam-macam perusahaan yang berbeda, saya selalu menemukan orang-orang dari berbagai level mendapatkan penilaian yang buruk dari rekan atau bawahannya.
Pada perusahaan mana pun, saya selalu menemukan pemimpin-pemimpin yang dibenci oleh bawahannya. Secara umum, semuanya menunjukkan gejala yang mirip.
Mereka bukan bermasalah secara teknis, melainkan lebih kepada attitude, karakter, dan sisi emosionalnya. Banyak bawahan yang merasa diperlakukan “tidak manusiawi” melalui kata-kata dan body language sang atasan yang sangat kasar, merasa tidak didukung dan dibiarkan melakukan pekerjaan tanpa bimbingan, merasa diperlakukan seperti robot yang hanya bicara mengenai tugas, hasil, dan target.
Belum lagi keluhan terhadap atasan yang emosional dan meledak-ledak sehingga di mata bawahan, atasan tersebut tampak tidak profesional serta tidak mencerminkan karakter seorang pemimpin yang seharusnya bisa mengontrol emosi, bersikap bijaksana serta memiliki ketegasan yang bertanggung jawab.
Sebuah fakta yang cukup mencengangkan adalah, rata-rata ketika saya melakukan konseling dengan para atasan “bermasalah” tersebut, saya menemukan ciri-ciri yang sama.
Mereka bermasalah dengan rasa harga diri (self-esteem) mereka. Ketika mereka bermasalah dengan cara mereka menghargai diri-sendiri, maka tidaklah heran jika akhirnya mereka juga kesulitan untuk menghargai orang lain.
Orang yang bermasalah rasa berharganya bukan hanya terwujud melalui perilaku minder, penakut, pemalu, atau tertutup saja. Ada juga perilaku ekstrem sebaliknya, yaitu arogan, sombong, pemarah, kasar, sinis, pesimistis, dan cenderung melukai orang lain, baik melalui kata-kata, tindakan, maupun bahasa-bahasa nonverbal.
Salah satu kasus terbaru yang saya tangani adalah mengenai seorang manajer yang sangat dibenci oleh bawahannya, karena suka menekan bawahannya untuk memenuhi target-target tinggi yang dia berikan.
Manajer ini adalah seseorang yang sangat perfeksionis, keras pada diri sendiri, dan memiliki standar tinggi. Celakanya, ia menerapkan standar tinggi dan kebiasaan superperfeksionis itu kepada bawahannya. Ketika bawahan gagal mencapai, dia akan memarahi dengan kata-kata kasar.
Dalam sesi konseling, manajer tersebut berkata, “kalau saya saja bisa, kenapa bawahan saya tidak bisa?” Kondisi ini juga diperparah dengan ketidakpedulian manajer tersebut dengan sisi personal bawahannya.
Ketika bawahan tidak performa karena masalah personal (masalah keluarga, hubungan, dan sebagainya), manajer ini justru semakin menekan dan tidak mau tahu, dia bahkan berkata, “saya paling kesal kalau bawahan saya menurun produktivitasnya karena masalah pribadi. Buat saya itu hal konyol dan sangat tidak profesional.”
Ketika ditelusuri, ternyata manajer tersebut sejak kecil tidak pernah dipuji oleh orang tuanya. Setiap kali dia membuat prestasi, orangtuanya cuek. Namun, kalau sampai dia membuat kesalahan, orangtuanya akan memarahinya habis-habisan.
Ternyata hal inilah yang membentuk si manajer tersebut menjadi orang yang perfeksionis, memasang standar tinggi dan tidak menoleransi kegagalan. Dia merasa dirinya berharga kalau ia berhasil mencapai standar tinggi.
Akibatnya, dia pun menghargai orang lain hanya jika orang itu bisa mencapai standar “sempurna” yang dia tetapkan. Masalah intinya terletak di bagaimana manajer itu memandang dan menghargai dirinya.
Sebuah kasus lagi adalah seorang manajer yang sangat pemarah. Setiap kali terjadi situasi yang di luar harapan, manajer itu akan marah-marah kepada siapa saja.
Bawahan-bawahan yang kadangkala tidak ada hubungannya juga bisa menjadi sasaran pelampiasan. Sudah banyak karyawan yang tidak tahan dan memilih keluar karena perilaku manajer ini.
Lagi-lagi ketika ditelusuri, saya menemukan bahwa ternyata manajer ini sangat tertekan dan merasa gagal setiap kali keadaan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Ketakutan, rasa tak berdaya, dan tertekan yang dia alami akhirnya dilampiaskan dalam bentuk kemarahan. Dia mengakui bahwa sebenarnya ia marah dengan diri sendiri dan keadaan yang terjadi, tetapi dia tidak tahu bagaimana mengelola rasa kesal pada diri sendiri, sehingga dia melampiaskan kepada siapa saja yang kebetulan “memancing” kemarahannya saat itu.
Sadar atau tidak, bagaimana kita memandang dan menghargai diri sendiri selalu menentukan apakah kita akan menjadi seorang yang lebih dewasa, lebih matang, lebih bijaksana, dan bahkan lebih produktif serta maksimal.
Hanya saja, sebuah fakta lain yang tidak kalah mencengangkan adalah: hampir dari semua hasil konseling saya menunjukkan bahwa akar masalah keberhargaan diri seseorang, tidak peduli apakah dia staf, manajer, direktur, owner, rohaniawan, dokter, artis, atau bahkan psikolog sekalipun, selalu datang dari masa kecil dan masa muda mereka.
Banyak sekali masalah emosional permanen yang akarnya justru terbentuk ketika mereka masih berada pada usia muda dan remaja. Inilah yang saya sebut dengan traumatic youth syndrome, yaitu pengalaman masa muda yang tanpa disadari mengakibatkan problem emosional yang menetap.
Kita sering kali tidak sadar sama sekali bahwa masa kecil dan masa muda kita sangatlah berpengaruh pada kondisi psikologis kita saat ini. Setiap kali saya melakukan terapi bawah sadar kepada beberapa orang yang datang dengan berbagai masalah, hampir 80% lebih hasilnya selalu berkisar kepada masalah-masalah ketika mereka masih kecil atau remaja.
Ini juga menjadi salah satu alasan utama mengapa pada akhir desember saya mengadakan camp kecerdasan emosional bagi para remaja SMP dan SMA. Saya merasa sangatlah penting anak-anak remaja kita memiliki kematangan emosional sejak usia dini.
Banyak sekali orang yang sulit memperbaiki rasa berharganya karena masalah emosional yang mereka simpan sudah mengkristal bertahun-tahun lamanya sejak mereka anak-anak atau remaja. Alangkah bagusnya jika “sampah-sampah” emosi ini bisa dibereskan sejak usia awal sebelum telanjur mengakar kuat.
Nah, secara singkat sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya ingin memberikan tiga tip sederhana untuk meningkatkan rasa berharga kita dari dalam diri (secara internal).
Pertama, berdamailah dengan diri sendiri dan masa lalu Anda. Selalu ada hal-hal yang tidak bisa diubah dalam diri kita. Entah itu bentuk fisik tubuh kita, latar belakang keluarga, atau kejadian-kejadian di masa lalu. Semakin kita menolaknya, kita akan semakin bermasalah secara emosional. Kadangkala satu-satunya yang bisa kita lakukan hanyalah menerimanya apa adanya.
Kedua, miliki self-talk positif. Berbicaralah hal-hal baik kepada diri sendiri. Motivasilah diri Anda sendiri. Pujilah hal-hal baik yang Anda miliki, bakat yang Anda terima, hal-hal hebat yang Anda kerjakan, dan berbagai kebaikan yang melekat dalam diri Anda.
Semakin Anda melihat hal buruk dalam diri Anda, maka Anda akan semakin merasa lemah. Namun, semakin Anda melihat hal-hal positif dalam diri Anda, maka Anda akan menjadi semakin yakin dengan diri Anda dan Anda bisa lebih mudah menghargai diri Anda sendiri.
Ketiga, bersyukurlah. Selalu ada orang-orang yang nasibnya tidak seberuntung Anda. Bersyukurlah atas apa adanya diri Anda. Jika Anda mulai tidak menemukan alasan untuk bersyukur, saat itulah Anda benar-benar dalam kondisi berbahaya. Bersyukurlah juga untuk orang-orang di sekeliling Anda (termasuk bawahan Anda).
Semoga artikel ini sedikit menyadarkan kita dan bisa membangun rasa berharga kita...
Salam antusias!
(bisnis.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar