Beberapa industri mengalami kerontokan menyusul industri yang telah lebih dahulu rontok pada 2007.Penyebabnya antara lain adalah kesulitan bahan baku, kalah bersaing akibat berbagai sumber penyebab inefisiensi, sulit memasuki pasar ekspor yang berdampak pada menurunnya penjualan dan berpotensi terhadap pengurangan pegawai secara perlahan-lahan.Sementara di sisi lain UMKM sebagai embrio industri juga belum menunjukkan hasil maksimal, sehingga diperlukan usaha-usaha untuk mempertahankan industri yang ada dengan melakukan pengembangan produk (product development) dan pembenahan terhadap hambatan-hambatan untuk memperkuat UMKM agar struktur industri nasional lebih kuat.Struktur industri akan kuat bila ada dukungan kuat pemerintah pusat dan daerah untuk menghilangkan praktik-praktik yang menciptakan ekonomi biaya tinggi, komitmen untuk memajukan potensi lokal, konsistensi program dan infrastruktur yang mendukung.Untuk itu semua diperlukan kesamaan pandang guna memecahkan berbagai persoalan yang dialami industri nasional, tentunya tidak bersifat parsial dan berjangka pendek tetapi sistemik dan berjangka panjang .Masalah daya saing dalam pasar dunia yang semakin terbuka merupakan isu kunci dan tantangan yang tidak ringan bagi industri. Tanpa dibekali kemampuan dan keunggulan saing yang tinggi niscaya produk-produk dalam negeri tidak akan mampu menembus pasar internasional. Bahkan masuknya produk impor mengancam posisi pasar domestik.Oleh karena itu, upaya meningkatkan daya saing dan membangun keunggulan kompetitif bagi produk-produk dalam negeri tidak dapat ditunda-tunda lagi dan sudah selayaknya menjadi perhatian berbagai kalangan, bukan saja bagi pelaku tetapi juga bagi pemerintah.Terpuruknya industri nasional karena menurunnya daya saing berpotensi terhadap bertambahnya pengangguran dan orang miskin.Bank Dunia melansir berita bahwa sejak 2003 daya saing Indonesia dalam pergumulan industri antarbangsa memperlihatkan adanya paradoks. Di satu sisi, terjadi peningkatan daya saing komoditas Indonesia di pasar dunia. Namun di lain sisi, industri dalam negeri banyak yang gulung tikar (Bank dunia, 2008).Pernyataan tersebut diperkuat oleh laporan World Economic Forum (WEF) 2008-2009, yang menunjukkan peringkat daya saing Indonesia yang terus menurun.Kebijakan yang dijalankan pemerintahan Indonesia untuk meningkatkan daya saing industri nasional dengan berbagai program yang ada sampai saat ini belum dapat mengangkat industri nasional ke tingkat yang lebih baik, baik di lingkungan domestik maupun lingkungan global.Kemerosotan industri nasional ini ditandai pula oleh penilaian Bank Dunia dalam laporan Doing Business 2010. Me-nurut laporan tersebut lima masalah utama dalam menjalankan bisnis di Indonesia adalah infrastruktur buruk, ketidakefisienan birokrasi, keterbatasan akses pendanaan, kebijakan tidak stabil/inkonsistensi kebijakan, dan peraturan tenaga kerja yang restriktif.Supply chainMemperhatikan tuntutan tersebut pemahaman kerangka kerja rantai pasokan industri sangat penting dalam menciptakan strategi yang efektif dalam bersaing (Ruth Campbell, 2008). Dalam beberapa tahun terakhir beberapa kerangka kerja supply chain management (SCM) telah diperkenalkan pada perusahaan-perusahaan kecil maupun besar.Fluktuasi ekonomi global dan lokal yang berkelanjutan telah meningkatkan tekanan pada industri. SCM tertantang untuk memberikan kegiatan operasional terbaik, ramping/efisien, hemat biaya/efektif dan pengiriman tepat waktu. Siklus hidup produk menjadi semakin singkat; pasar, pasokan, dan kegiatan operasi menjadi semakin progresif.Kinerja SCM yang inovatif ditunjukkan oleh permintaan yang stabil. Terjadi evolusi SCM dari perusahaan yang statis, tidak terintegrasi, optimalisasi fungsional, proses integrasi horizontal dan kolaborasi eksternal menuju ke visi model permintaan rantai nilai yang terintegrasi melalui proces end-to-end di seluruh bisnis dan dengan mitra kunci yaitu pemasok dan pelanggan.Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat persoalan mendasar pada industri nasional yang ditunjukkan oleh penurunan jumlah industri dan penurunan ekspor sejak beberapa tahun lalu. Sehingga dibutuhkan solusi tepat dan segera untuk menghindari kemungkinan kondisi yang lebih buruk.Untuk menghilangkan berbagai persoalan yang terjadi adalah (1) menerapkan pendekatan SCM agar berbagai kendala yang berpotensi muncul sudah dapat diantisipasi terlebih dahulu.Diperlukan perbaikan terhadap faktor internal ataupun faktor eksternal industri dengan fokus pada hasil penilaian laporan WEF dan Bank Dunia agar secara bertahap daya saing meningkat dan baik oleh pemerintah maupun para pelaku terutama terhadap target-target yang akan dicapai.Memperhatikan penilaian dari WEF dan Bank Dunia maka pembenahan harus diawali dari pemerintahan, terutama ketidakefisienan birokrasi yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi.
Oleh Ina PrimianaG
Guru Besar Fakultas Ekonomi Unpad, Ketua ISEI Cabang Bandung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar