"Konstituen adalah seseorang yang secara aktif mengambil bagian dalam proses menjalankan organisasi dan yang memberikan otoritas kepada orang lain untuk bertindak mewakili dirinya.
Seorang konstituen memberikan otoritas kepada pemimpin, bukan sebaliknya. Konstituen itu bisa pegawai/bawahan, tetapi juga bisa konsumen, para pemegang saham, para pemasok, dan mitra bisnis lainnya, dan warga negara," demikian Kouzes dan Posner (Credibility, 1993) mengusulkan istilah pengganti follower atau employee. Dalam buku tersebut, mereka merasa perlu menegaskan pentingnya seorang pemimpin untuk "menghargai para konstituen dengan segala perbedaannya" lewat paparan sepanjang 30 halaman.
Definisi di atas menegaskan bahwa konstituen adalah pemegang otoritas yang sesungguhnya. Bila otoritas itu dipercayakan atau diberikan kepada orang lain, orang lain itu kita sebut pemimpin. Apa yang kemudian dapat dilakukan oleh sang pemimpin berdasarkan otoritas yang "dititipkan" kepadanya itu? Dia dapat bertindak mewakili atau atas nama konstituennya itu (on his/her behalf) dalam rangka memberikan pelayanan.
Kouzes dan Posner juga mengatakan bahwa kepemimpinan adalah "suatu hubungan timbal balik antara mereka yang memilih untuk memimpin dan mereka yang memutuskan untuk mengikuti" (cetak miring penulis).
Dengan kata lain, menjadi pemimpin itu soal pilihan, dan menjadi pengikut atau konstituen itu soal keputusan. Pada titik ini kita melihat kepemimpinan sebagai sebuah transaksi atau perjanjian antarpihak.
Ada kesepakatan, pembagian peran, dan distribusi tanggung jawab. Layaknya sebuah perjanjian, ia memberikan tidak saja hak (untuk bertindak atas nama konstituen, memangku jabatan, menerima fasilitas jabatan, dst), tetapi juga kewajiban (untuk melayani konstituennya).
Dalam dunia politik kontemporer, sejak pemilihan presiden dilakukan secara langsung mulai 2004 silam, kita menyaksikan adanya kontrak politik yang diajukan oleh kelompok-kelompok tertentu kepada capres dan cawapres yang berlaga untuk menang.
Ada kontrak yang dilakukan secara terbuka di depan umum. Ada pula yang dilakukan secara diam-diam dan menjadi isu durkampanye (kampanye hitam) antarcalon pemimpin nasional.
Dalam dunia bisnis, konstituen eksekutif puncak perusahaan--CEO, dewan direktur, dsb--yang pertama umumnya adalah para shareholder (pemegang saham untuk perusahaan publik) atau owner (pemilik perusahaan privat).
Seorang eksekutif dipilih atau ditunjuk oleh shareholders atau owner (s). Keterlibatan pegawai dan pelanggan, dan pemasok mungkin ada, tetapi sangat tidak menonjol atau bahkan nol.
Meski demikian, dalam proses berikutnya sang eksekutif wajib memenangkan hati konstituen yang non-shareholders dan non-owners itu. Dia harus mengupayakan sendiri legitimasi yang lebih besar, baik dari serikat pekerja, para pemasok, bahkan lingkungan sosial dimana proses bisnis perusahaan berlangsung. Bila tidak, dia akan sulit menjalankan perannya sebagai pemimpin bisnis.
Konstituen abad ke-21
Apakah ada perbedaan antara konstituen pada masa lampau dengan konstituen pada era milenium ketiga ini? Menurut Warren Bennis (1997), yang paling menonjol mungkin ini: konstituen masa kini memiliki banyak pilihan dan opini karena mereka memiliki informasi yang dipasok oleh media cetak (koran, majalah, tabloid, jurnal, dsb) dan elektronik (radio, televisi, personal computer, modem, faksimile, CD ROM, e-mail, Internet).
Apa yang dulu tersimpan rapi di benak para eksekutif puncak dan file manajemen, kini tersedia di internet bagi semua (atau sebagian besar) orang. Informasi ini bersifat memberdayakan konstituen. Mereka menjadi relatif lebih berpengetahuan dan karenanya lebih demanding (menuntut) ketimbang sebelum era "dunia yang dilipat" (Internet).
Artinya, konstituen masa kini sangatlah berbeda dalam cara mereka menilai para pemimpin formalnya karena mereka memiliki informasi. Sungguh keliru jika masih saja ada pemimpin formal, baik dalam organisasi publik maupun yang bersifat privat, yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara yang mengandalkan kekerasan senjata, intimidasi, dan teror.
Era ini ditandai dengan peringatan bahwa kekuatan pedang (senjata dan kekerasan) telah dikalahkan dengan kekuatan pena (informasi dan pengetahuan).
Karena konstituen masa kini memiliki akses yang relatif luas terhadap informasi, maka para pemimpin yang kurang berpengetahuan akan semakin ditinggalkan.
Konstituen menuntut agar pemimpinnya memiliki pengetahuan yang luas, terutama tentang situasi dan kondisi riil yang dihadapi konstituen pada masa kini dan berbagai kebutuhan, keinginan dan harapan konstituen di masa mendatang. Namun, di samping pengetahuan yang luas, para pemimpin juga diharapkan memiliki hati dan jiwa yang mau melayani konstituennya (servanthood attitude), serta memiliki kompetensi yang memadai dalam bidang tugas dan tanggung jawabnya.
Adakah para pemimpin kita memahami karakteristik konstituen masa kini? Semoga.
Seorang konstituen memberikan otoritas kepada pemimpin, bukan sebaliknya. Konstituen itu bisa pegawai/bawahan, tetapi juga bisa konsumen, para pemegang saham, para pemasok, dan mitra bisnis lainnya, dan warga negara," demikian Kouzes dan Posner (Credibility, 1993) mengusulkan istilah pengganti follower atau employee. Dalam buku tersebut, mereka merasa perlu menegaskan pentingnya seorang pemimpin untuk "menghargai para konstituen dengan segala perbedaannya" lewat paparan sepanjang 30 halaman.
Definisi di atas menegaskan bahwa konstituen adalah pemegang otoritas yang sesungguhnya. Bila otoritas itu dipercayakan atau diberikan kepada orang lain, orang lain itu kita sebut pemimpin. Apa yang kemudian dapat dilakukan oleh sang pemimpin berdasarkan otoritas yang "dititipkan" kepadanya itu? Dia dapat bertindak mewakili atau atas nama konstituennya itu (on his/her behalf) dalam rangka memberikan pelayanan.
Kouzes dan Posner juga mengatakan bahwa kepemimpinan adalah "suatu hubungan timbal balik antara mereka yang memilih untuk memimpin dan mereka yang memutuskan untuk mengikuti" (cetak miring penulis).
Dengan kata lain, menjadi pemimpin itu soal pilihan, dan menjadi pengikut atau konstituen itu soal keputusan. Pada titik ini kita melihat kepemimpinan sebagai sebuah transaksi atau perjanjian antarpihak.
Ada kesepakatan, pembagian peran, dan distribusi tanggung jawab. Layaknya sebuah perjanjian, ia memberikan tidak saja hak (untuk bertindak atas nama konstituen, memangku jabatan, menerima fasilitas jabatan, dst), tetapi juga kewajiban (untuk melayani konstituennya).
Dalam dunia politik kontemporer, sejak pemilihan presiden dilakukan secara langsung mulai 2004 silam, kita menyaksikan adanya kontrak politik yang diajukan oleh kelompok-kelompok tertentu kepada capres dan cawapres yang berlaga untuk menang.
Ada kontrak yang dilakukan secara terbuka di depan umum. Ada pula yang dilakukan secara diam-diam dan menjadi isu durkampanye (kampanye hitam) antarcalon pemimpin nasional.
Dalam dunia bisnis, konstituen eksekutif puncak perusahaan--CEO, dewan direktur, dsb--yang pertama umumnya adalah para shareholder (pemegang saham untuk perusahaan publik) atau owner (pemilik perusahaan privat).
Seorang eksekutif dipilih atau ditunjuk oleh shareholders atau owner (s). Keterlibatan pegawai dan pelanggan, dan pemasok mungkin ada, tetapi sangat tidak menonjol atau bahkan nol.
Meski demikian, dalam proses berikutnya sang eksekutif wajib memenangkan hati konstituen yang non-shareholders dan non-owners itu. Dia harus mengupayakan sendiri legitimasi yang lebih besar, baik dari serikat pekerja, para pemasok, bahkan lingkungan sosial dimana proses bisnis perusahaan berlangsung. Bila tidak, dia akan sulit menjalankan perannya sebagai pemimpin bisnis.
Konstituen abad ke-21
Apakah ada perbedaan antara konstituen pada masa lampau dengan konstituen pada era milenium ketiga ini? Menurut Warren Bennis (1997), yang paling menonjol mungkin ini: konstituen masa kini memiliki banyak pilihan dan opini karena mereka memiliki informasi yang dipasok oleh media cetak (koran, majalah, tabloid, jurnal, dsb) dan elektronik (radio, televisi, personal computer, modem, faksimile, CD ROM, e-mail, Internet).
Apa yang dulu tersimpan rapi di benak para eksekutif puncak dan file manajemen, kini tersedia di internet bagi semua (atau sebagian besar) orang. Informasi ini bersifat memberdayakan konstituen. Mereka menjadi relatif lebih berpengetahuan dan karenanya lebih demanding (menuntut) ketimbang sebelum era "dunia yang dilipat" (Internet).
Artinya, konstituen masa kini sangatlah berbeda dalam cara mereka menilai para pemimpin formalnya karena mereka memiliki informasi. Sungguh keliru jika masih saja ada pemimpin formal, baik dalam organisasi publik maupun yang bersifat privat, yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan cara-cara yang mengandalkan kekerasan senjata, intimidasi, dan teror.
Era ini ditandai dengan peringatan bahwa kekuatan pedang (senjata dan kekerasan) telah dikalahkan dengan kekuatan pena (informasi dan pengetahuan).
Karena konstituen masa kini memiliki akses yang relatif luas terhadap informasi, maka para pemimpin yang kurang berpengetahuan akan semakin ditinggalkan.
Konstituen menuntut agar pemimpinnya memiliki pengetahuan yang luas, terutama tentang situasi dan kondisi riil yang dihadapi konstituen pada masa kini dan berbagai kebutuhan, keinginan dan harapan konstituen di masa mendatang. Namun, di samping pengetahuan yang luas, para pemimpin juga diharapkan memiliki hati dan jiwa yang mau melayani konstituennya (servanthood attitude), serta memiliki kompetensi yang memadai dalam bidang tugas dan tanggung jawabnya.
Adakah para pemimpin kita memahami karakteristik konstituen masa kini? Semoga.
oleh : Andrias HarefaPenggagas Visi Indonesia 2045
oleh : Andrias HarefaPenggagas Visi Indonesia 2045
Sumber ; Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar