Kamis, 24 Desember 2009

Berpikir revolusioner

Kamis, 24/12/2009 09:10 WIB

oleh : Noerma Komalasari

Memenangkan hati nasabah dan mengambil porsi besar di kue pasar perbankan syariah bukan perkara mudah. Setiap pemain harus memiliki kekuatan dan memahami kelemahan diri sendiri dan kompetitor.

Hal ini terus dicermati oleh PT Bank Syariah Bukopin (BSB). Salah satu pemain yang mengawali kiprah melalui unit usaha syariah sejak 2001 dan akhirnya berganti rupa menjadi bank syariah pada tahun ini.

Layanan prima dijadikan salah satu ujung tombak utama menggaet jumlah nasabah dan pertumbuhan bisnis yang lebih besar. Kekuatan internal diperkuat, semua lini diarahkan untuk memberikan layanan terbaik. Kekompakan tim yang diperkaya dengan budaya senyum kepada setiap orang, pada akhirnya mampu berperan maksimal.

Hal ini melekat kuat di hati nasabahnya. Penilaian tak hanya diberikan para nasabah. Beberapa institusi independen berpendapat budaya perusahaan yang berujung kepada pemberian layanan prima yang ditekankan bank ini membuatnya mengantongi nilai lebih dibandingkan bank syariah lain.

Kendati bank syariah ini baru bergabung meramaikan industri perbankan bernapaskan islami, beberapa penghargaan sudah disabetnya. Predikat The Most Comfortable Office & Service Excellence for Shariah Banking Industry versi Property&bank diraihnya pada Agustus 2009.

Pada waktu yang sama, bank yang telah membukukan total aset Rp1,945 triliun per November 2009 ini memperoleh peringkat kedua kategori The Best Service Quality Bank Syariah dari Karim Business Consulting.

Di balik kiprah insitusi ini, sumber daya manusia pemimpin yang andal menyinergikan kekompakan tim, salah satu di antaranya adalah Arief Gunawan Hilmanningrat.

Pria yang kini menjabat sebagai kepala Divisi Area II BSB atau cabang Melawai Raya, Jakarta ini memiliki kiat khusus untuk membawa timnya bekerja keras memenuhi target dengan keikhlasan tinggi.

Dia tak mau hanya memberi perintah kepada bawahan tanpa mengetahui tingkat emosional mereka. Secara intensif, Arief melakukan pendekatan sesuai dengan kebutuhan setiap anggota tim, baik memberikan dukungan moril maupun perangkat.

Menggenjot kinerja tim di bidang syariah bukan hal baru baginya. Pria ini sejak 2001 hingga 2008 mengawal cabang Melawai Raya sebagai pilot project unit usaha syariah PT bank Bukopin, saat menjabat sebagai manajer bisnis.

Cabang baru

Bisnis syariah Bukopin berkembang ke cabang lainnya, salah satunya Bukittinggi, Sumatra Barat. Arief pun sempat diutus mengembangkan cabang syariah di sana selama setahun sebelum diangkat sebagai Manager Cabang Syariah Melawai Raya, Jakarta, pada Februari 2009.

Di tengah perjalanan menuju posisi kepala Divisi Area II Melawai Raya, Jakarta, PT Bank Syariah Bukopin yang diembannya sejak Juli 2009 hingga sekarang, dunia mengalami krisis keuangan global.

Kendati demikian dia merasa beruntung, pasalnya sistem perbankan syariah tak terlalu terpengaruh kondisi tersebut.

Sebagai pemimpin dia harus mampu memberikan keyakinan kepada bawahan bahwa masa sulit akan segera dilalui. Kepada anggota tim, Arief menekankan agar tak hanya melihat suatu permasalahan dari satu sisi saja. Tim harus mampu melihat dari sudut pandang berbeda dan lebih luas akan suatu permasalahan.

"Kami lihat kalau kami ambil langkah A hasillnya B, ambil langkah B hasilnya C. Dari situ kami jadi tahu dan ambil kesimpulan langkah mana yang terbaik, itu yang biasa kami lakukan."

Timnya selalu diberi kemampuan untuk dapat melihat mana yang menjadi kekuatan dan kelemahan diri sendiri sambil berhitung di tengah kondisi pasar. Hal tersebut bertujuan merencanakan strategi yang penting agar tujuan akhir diraih.

"Kalau kita melihat sesuatu sudah menjadi beban bagaimana kita bisa melangkah."

Teknik kepemimpinan yang dia anut selama ini adalah hasil dari pengamatan orang-orang yang menurutnya memiliki kemampuan memimpin yang baik. Kemampuan tersebut tak harus dia serap dari pemimpin di perusahaan ternama, ilmu dan kebaikan menurutnya dapat berasal dari mana saja. Bahkan, tak jarang berasal dari orang-orang yang tingkat pendidikan dan jabatannya lebih rendah darinya.

Sebagai pemimpin yang tegas dan memiliki pandangan revolusioner, dia bercita-cita membawa BSB menjadi lima besar bank syariah nasional.

Salah satu caranya adalah masuk ke pasar usaha kecil menengah yang disesuaikan dengan kekuatan dan kemampuan diri.

Ayah dari Sashi Kirana ini memang pribadi yang tegas, tak terkecuali kepada dirinya sendiri. Ada beberapa target yang ternyata dia pasang sejak usia dini. "Masih ada dua fase sesuai dengan angan-angan saya, yaitu menjadi direktur pada saat usia 45 tahun dan setelah itu saya pensiun serta menjadi wali kota di kampung halaman saya di Cirebon," tandasnya. (noerma.sari@bisnis.co.id)

Sumber : Bisnis Indonesia

Tidak ada komentar: