Jumat, 06/02/2009 10:37 WIB
William Middleton Sime berusia 37 tahun ketika dia menyimpulkan bisnis impor ekspor dan perkebunan kopi yang digelutinya di Singapura sudah tidak bisa diharapkan lagi, alias gagal. Pelancong dan petualang dari Skotlandia itu hijrah ke Malaya bagian utara. Di sana dia berhasil meyakinkan Henry Darby, seorang bankir kaya asal Inggris, untuk bersekutu dalam bisnis perkebunan karet.
Darby setuju memodali usaha itu dan mereka mendirikan Sime, Darby & Co., Ltd. pada tahun 1910 untuk mengelola kebun karet di Malaka seluas 550 acre (222,5 hektare). Itulah cikal bakal Sime Darby Berhad, yang kini menjad konglomerat terbesar di Malaysia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.
Dalam orbitnya, kini ada lebih dari 270 perusahaan yang beroperasi di 23 negara. Cakupan bisnisnya sangat luas, dari perkebunan karet dan kelapa sawit, pabrik ban, distribusi kendaraan bermotor, sampai jasa wisata dan lapangan golf. Semua bisnis itu tumbuh dengan empat nilai korporat yang bersumber dari filosofi hidup Sime-Darby, yaitu Hormat dan Tanggung jawab, Keunggulan, Kewirausahaan dan Integritas.
Kali ini, saya tidak ingin mengulas keempat nilai tersebut, yang pada hakikatnya merupakan suara hati universal manusia. Saya ingin mengajak pembaca memetik pelajaran dari bagaimana persekutuan itu tercipta dan tumbuh semakin kuat dan semakin kuat.
Jelas bahwa inisiatif persekutuan itu muncul dari Sime yang baru melewati kegagalan. Dia melihat peluang sewaktu karet alami baru diperkenalkan di Malaya dari Brasil.
Dia dan banyak pengusaha lain, tahu bahwa iklim hutan belantara Malaysia serupa dengan di Brasil, dan karena itu karet pasti mudah ditanam di sana.
Ada peluang, tetapi juga ada tantangan (pesaing), dan Sime terus melangkah karena dia memiliki visi. Visi itu tidak hanya meyakinkan dirinya, tetapi juga orang yang menjadi mitranya.
Begitu banyak orang terperangkap dalam kubangan rutinitas sehari-hari, yang membuat mereka frustrasi. Atau, terjerat dalam keputusasaan dan mengutuki nasib buruk. Mereka merasa telah bekerja keras, tetapi sebenarnya "tidak ke mana-mana", karena tidak memiliki tujuan jelas. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana menghabiskan hari-hari dengan bekerja atau melaksanakan tugas-tugas saja.
Dengan visi, seperti yang dialami Sime, orang mampu keluar dari kungkungan nasib untuk melihat dunia yang sungguh luas. Melihat betapa begitu banyak aktivitas yang dapat dilakukan agar segala hal menjadi lebih baik. Namun, sering orang enggan melakukannya. Memikirkannya saja tidak mau, apalagi melakukan tindakan nyata.
Keengganan semacam itu sesungguhnya adalah manifestasi dari ketakutan yang tersimpan di lubuk hati terhadap bermacam-macam bayangan risiko. Semakin dituruti, ketakutan itu akan membuat orang kian nyaman dalam diam (comfort zone), atau tidak bergerak menuju penyempurnaan. Selebihnya, dia menunggu nasib baik.
Suara hati
Orang yang demikian itu sesungguhnya adalah orang yang telah menutup suara hati untuk bisa bangkit dan maju, suara yang ada di dasar hati mereka sendiri. Suara hati tidak akan pernah mati. Ia adalah energi dan karunia dari Sang Ilahi.
Jika hanya disimpan di dasar hati, suara hati tersebut akan "berteriak". Semakin ditahan, akan semakin sakit dadanya.
Dorongan energi untuk bangkit itu akan terus mencari jalan keluarnya. Siapa pun yang mencoba merintanginya, niscaya tidak akan pernah sanggup menahannya, karena ia adalah wujud eksistensi suara Tuhan.
Apabila terus ditahan di dada, ia akan berubah menjadi dorongan yang mendesak hati. Bila masih ditahan juga, maka ia akan mendesak jantung. Masih ditahan lagi, maka ia akan mengubah raut wajah sang empunya menjadi pahit dan getir.
Oleh karena itu, lakukanlah langkah pembaruan yang sangat menentukan dan membuat hidup Anda menjadi berbeda. Tentukanlah peran apa yang terbaik bagi Anda, baik di lingkungan keluarga, kantor, perusahaan maupun di instansi Anda. Sebagai sopir, tukang cuci piring, pemuka masyarakat, manajer atau apa saja yang penting, jangan hanya membidik, tidak pernah menarik pelatuk. Tarik busur dengan kuat, lepaskan anak panah yang tertahan hingga melesat jauh tinggi.
Bill Gates, yang memulai usaha dari sebuah garasi di bawah rumahnya dan kemudian menjadi orang terkaya di planet bumi, menggambarkan betapa dahsyatnya visi. "Jika Anda punya sebuah visi yang jelas, Anda bahkan akan lupa sarapan Anda," katanya.
Bagaimana menghidupkan visi itu dalam pikiran Anda. Cobalah pikirkan hal-hal apa saja yang belum sempat Anda lakukan, yang dapat Anda kerjakan sekarang, dan membuat segalanya menjadi lebih baik. Ambillah buku harian, tulislah jadwal pekerjaan esok hari setiap kali waktu senja tiba. Evaluasikan hasilnya pada keesokannya lagi. Buat kembali rencana kerja pada sore hari, dan demikian seterusnya.
Ini akan menjadi reaksi fusi atau efek berantai yang memiliki kekuatan dahsyat, mirip kekuatan bom atom. Ini telah dibuktikan oleh Charles Schwab ketika diminta memberikan jasa konsultasi di sebuah pabrik baja yang sedang krisis. Tiga bulan setelah ditangani Schwab, perusahaan baja itu kembali tumbuh dengan sehat.
Yang dilakukannya sederhana. Dia tidak membiarkan seluruh manajer serta staf di sana terjebak dalam rutinitas pekerjaan. Setiap manajer, supervisor, dan staf diwajibkan selalu membuat rencana kerja untuk esok hari, dan pada pagi harinya rencana kerja tersebut dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
Ketika senja tiba, setiap orang mengevaluasi kembali apa yang telah dikerjakan serta apa-apa yang belum dilakukan. Sore itu juga, mereka membuat kembali rencana kerja untuk keesokan hari, dan begitu seterusnya. Hasilnya sungguh mengejutkan, pabrik baja tersebut sempat tercatat menjadi salah satu pabrik baja terbesar di Amerika Serikat. oleh : Ary Ginanjar AgustianPendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center Penemu ESQ Model).
Darby setuju memodali usaha itu dan mereka mendirikan Sime, Darby & Co., Ltd. pada tahun 1910 untuk mengelola kebun karet di Malaka seluas 550 acre (222,5 hektare). Itulah cikal bakal Sime Darby Berhad, yang kini menjad konglomerat terbesar di Malaysia dan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.
Dalam orbitnya, kini ada lebih dari 270 perusahaan yang beroperasi di 23 negara. Cakupan bisnisnya sangat luas, dari perkebunan karet dan kelapa sawit, pabrik ban, distribusi kendaraan bermotor, sampai jasa wisata dan lapangan golf. Semua bisnis itu tumbuh dengan empat nilai korporat yang bersumber dari filosofi hidup Sime-Darby, yaitu Hormat dan Tanggung jawab, Keunggulan, Kewirausahaan dan Integritas.
Kali ini, saya tidak ingin mengulas keempat nilai tersebut, yang pada hakikatnya merupakan suara hati universal manusia. Saya ingin mengajak pembaca memetik pelajaran dari bagaimana persekutuan itu tercipta dan tumbuh semakin kuat dan semakin kuat.
Jelas bahwa inisiatif persekutuan itu muncul dari Sime yang baru melewati kegagalan. Dia melihat peluang sewaktu karet alami baru diperkenalkan di Malaya dari Brasil.
Dia dan banyak pengusaha lain, tahu bahwa iklim hutan belantara Malaysia serupa dengan di Brasil, dan karena itu karet pasti mudah ditanam di sana.
Ada peluang, tetapi juga ada tantangan (pesaing), dan Sime terus melangkah karena dia memiliki visi. Visi itu tidak hanya meyakinkan dirinya, tetapi juga orang yang menjadi mitranya.
Begitu banyak orang terperangkap dalam kubangan rutinitas sehari-hari, yang membuat mereka frustrasi. Atau, terjerat dalam keputusasaan dan mengutuki nasib buruk. Mereka merasa telah bekerja keras, tetapi sebenarnya "tidak ke mana-mana", karena tidak memiliki tujuan jelas. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana menghabiskan hari-hari dengan bekerja atau melaksanakan tugas-tugas saja.
Dengan visi, seperti yang dialami Sime, orang mampu keluar dari kungkungan nasib untuk melihat dunia yang sungguh luas. Melihat betapa begitu banyak aktivitas yang dapat dilakukan agar segala hal menjadi lebih baik. Namun, sering orang enggan melakukannya. Memikirkannya saja tidak mau, apalagi melakukan tindakan nyata.
Keengganan semacam itu sesungguhnya adalah manifestasi dari ketakutan yang tersimpan di lubuk hati terhadap bermacam-macam bayangan risiko. Semakin dituruti, ketakutan itu akan membuat orang kian nyaman dalam diam (comfort zone), atau tidak bergerak menuju penyempurnaan. Selebihnya, dia menunggu nasib baik.
Suara hati
Orang yang demikian itu sesungguhnya adalah orang yang telah menutup suara hati untuk bisa bangkit dan maju, suara yang ada di dasar hati mereka sendiri. Suara hati tidak akan pernah mati. Ia adalah energi dan karunia dari Sang Ilahi.
Jika hanya disimpan di dasar hati, suara hati tersebut akan "berteriak". Semakin ditahan, akan semakin sakit dadanya.
Dorongan energi untuk bangkit itu akan terus mencari jalan keluarnya. Siapa pun yang mencoba merintanginya, niscaya tidak akan pernah sanggup menahannya, karena ia adalah wujud eksistensi suara Tuhan.
Apabila terus ditahan di dada, ia akan berubah menjadi dorongan yang mendesak hati. Bila masih ditahan juga, maka ia akan mendesak jantung. Masih ditahan lagi, maka ia akan mengubah raut wajah sang empunya menjadi pahit dan getir.
Oleh karena itu, lakukanlah langkah pembaruan yang sangat menentukan dan membuat hidup Anda menjadi berbeda. Tentukanlah peran apa yang terbaik bagi Anda, baik di lingkungan keluarga, kantor, perusahaan maupun di instansi Anda. Sebagai sopir, tukang cuci piring, pemuka masyarakat, manajer atau apa saja yang penting, jangan hanya membidik, tidak pernah menarik pelatuk. Tarik busur dengan kuat, lepaskan anak panah yang tertahan hingga melesat jauh tinggi.
Bill Gates, yang memulai usaha dari sebuah garasi di bawah rumahnya dan kemudian menjadi orang terkaya di planet bumi, menggambarkan betapa dahsyatnya visi. "Jika Anda punya sebuah visi yang jelas, Anda bahkan akan lupa sarapan Anda," katanya.
Bagaimana menghidupkan visi itu dalam pikiran Anda. Cobalah pikirkan hal-hal apa saja yang belum sempat Anda lakukan, yang dapat Anda kerjakan sekarang, dan membuat segalanya menjadi lebih baik. Ambillah buku harian, tulislah jadwal pekerjaan esok hari setiap kali waktu senja tiba. Evaluasikan hasilnya pada keesokannya lagi. Buat kembali rencana kerja pada sore hari, dan demikian seterusnya.
Ini akan menjadi reaksi fusi atau efek berantai yang memiliki kekuatan dahsyat, mirip kekuatan bom atom. Ini telah dibuktikan oleh Charles Schwab ketika diminta memberikan jasa konsultasi di sebuah pabrik baja yang sedang krisis. Tiga bulan setelah ditangani Schwab, perusahaan baja itu kembali tumbuh dengan sehat.
Yang dilakukannya sederhana. Dia tidak membiarkan seluruh manajer serta staf di sana terjebak dalam rutinitas pekerjaan. Setiap manajer, supervisor, dan staf diwajibkan selalu membuat rencana kerja untuk esok hari, dan pada pagi harinya rencana kerja tersebut dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
Ketika senja tiba, setiap orang mengevaluasi kembali apa yang telah dikerjakan serta apa-apa yang belum dilakukan. Sore itu juga, mereka membuat kembali rencana kerja untuk keesokan hari, dan begitu seterusnya. Hasilnya sungguh mengejutkan, pabrik baja tersebut sempat tercatat menjadi salah satu pabrik baja terbesar di Amerika Serikat. oleh : Ary Ginanjar AgustianPendiri dan Pemimpin ESQ Leadership Center Penemu ESQ Model).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar