Berinvestasi saat ini bukan lagi masalah mengenai menghasilkan uang, melainkan bagaimana mengelola uang dalam situasi baik ataupun buruk. Ketidakpastian atas hasil inilah yang membuat investor harus mampu mengelola risiko investasinya. Yang menarik adalah bahwa risiko mempunyai arah pembalikan dan selalu bekerja pada dua sisi yang berbeda.
Pertama, risiko menyebabkan situasi mencapai titik terendah dari suatu kondisi buruk, maka setelahnya keadaan akan berbalik berangsur-angsur menjadi baik. Kedua, tidak semua pihak merugi karena terjadinya suatu risiko, bahkan ada pihak yang beruntung karenanya. Ini menerangkan kenapa suatu investasi menurun kinerjanya, sementara yang lain justru naik. Risiko kalau begitu tidak seluruhnya buruk, dan sesungguhnya diinginkan atau tidak risiko tetap ada.
Dalam banyak hal, risiko seperti air bagi tumbuhan. Terlalu sedikit tumbuhan tak bisa hidup, terlalu banyak bisa menenggelamkan. Ada beberapa jenis risiko yang mesti kita pahami, yakni risiko sistematik (systematic risk), risiko tidak sistematik (unsystematic risk), dan risiko pribadi investor. Masing-masing memberikan kontribusi yang sama pentingnya terhadap kinerja portofolio investasi.
Risiko sistematik
Risiko sistematis merupakan risiko yang disebabkan oleh berbagai faktor makro yang memengaruhi semua perusahaan dan industri secara umum, seperti kondisi negara, nilai tukar mata uang, tingkat suku bunga, situasi politik, permintaan/penawaran pasar.
Risiko sistematis lebih susah untuk dihindari karena berkaitan dengan kondisi pasar secara keseluruhan. Contohnya, jika kondisi ekonomi negara memburuk, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, terjadilah inflasi tinggi yang memaksa pemerintah menaikkan suku bunga dan nilai tukar rupiah pun anjlok.
Perdagangan di pasar modal dan bursa berjangka pun akan mengalami tekanan jual, akibatnya IHSG turun. Dalam kondisi seperti ini hampir seluruh instrumen investasi seperti saham, obligasi, reksa dana, unitlink, bahkan properti akan mengalami penurunan. Tak urung Anda yang berinvestasi langsung ke sektor riil atau memiliki bisnis pribadi, juga merasakan dampaknya.
Namun, tidak semua pihak merugi, sebab dalam kondisi suku bunga tinggi nasabah tabungan dan depositolah yang panen duit. Begitu juga jika Anda perhatikan harga emas, atau mereka yang menyimpan dolar. Komoditas yang mereka simpan harganya malah naik saat kondisi ekonomi bergejolak.
Untuk meminimalisasi risiko sistematik Anda bisa menjalankan strategi lindung nilai. Contoh paling sederhana adalah dengan memegang investasi alternatif berupa aset keras seperti emas, tanah bahkan uang dolar. Jadi bagilah porsi alokasi ke dalam instrumen finansial dan juga ke dalam investasi alternatif tadi secara proporsional.
Tidak sistematik
Risiko tidak sistematis merupakan risiko yang disebabkan oleh faktor mikro yang terdapat pada perusahaan atau industri tertentu dan tidak terkait dengan risiko pasar secara keseluruhan, seperti perubahan struktur permodalan, aktiva, kondisi lingkungan kerja, penurunan tingkat penjualan, kemampuan manajemen dan lain-lain, sehingga dapat memengaruhi harga saham perusahaan yang bersangkutan atau menyebabkan gagal bayar (credit/default risk) yaitu ketidakmampuan perusahaan membayar kewajiban pembayaran bunga atau pokok utangnya (obligasi).
Pengaruhnya hanya terbatas pada perusahaan atau industri tersebut. Sebagai investor, unsystematic risk dapat kita hindari dengan melakukan diversifikasi dengan strategi alokasi aset. Yaitu membagi penempatan alokasi dana ke dalam beberapa instrumen investasi dari kelas aset yang berbeda.
Jika Anda ingin lebih optimal, Anda bisa mengadaptasi gaya manajer investasi dalam mengelola reksa dana. Mereka membeli instrumen investasi dari kelas aset yang sama (saham atau obligasi) tetapi dari emiten yang berbeda.
Misalnya, menyebar penempatan saham dari 5-10 emiten yang berbeda berdasarkan kategori industrinya. Secara sederhana saya menyebutnya realokasi aset, sebab dilakukan setelah alokasi aset. Dengan diversifikasi, alokasi aset, dan realokasi aset, kita bisa meminimalisasikan risiko yang muncul dari suatu aset tertentu.
Risiko pribadi
Dalam kaitannya dengan investasi tiap orang memiliki perilaku dan respons berbeda terhadap risiko. Baik Anda berinvestasi ke saham, obligasi, properti, maupun reksa dana.
Pertimbangkanlah tingkat toleransi Anda terhadap kemungkinan kehilangan uang akibat investasi pada masing-masing kategori investasi tersebut dan bagaimana perasaaan Anda mengenai hal itu. Inilah profil risiko pribadi investor. Intinya menerangkan siapakah Anda dalam berinvestasi. Apakah termasuk tipe konservatif, moderat atau agresif.
Yang harus diketahui juga adalah bahwa profil risiko investasi seseorang tidak statis, tetapi cenderung berubah sesuai dengan siklus hidup di mana dia berada, kondisi keuangan atau hal lain yang sifatnya personal.
da beberapa variabel yang membentuk profil risiko seseorang, antara lain (a) usia. Orang muda biasanya agresif, sementara mendekati pensiun cenderung konservatif ; (b) Pengalaman & pengetahuan dalam berinvestasi. Makin banyak pengalaman berinvestasi makin luas wawasan pengetahuannya, investor cenderung makin agresif ; (c) Jangka waktu atau time horison. Biasanya ini berhubungan dengan tujuan investasinya dan kapan tujuan itu ingin dicapai. Makin pendek jangka waktu investasi, investor cenderung konservatif (e) Kemampuan menabung / jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan. Makin besar penghasilan bersih dan nilai kekayaan bersihnya, investor makin punya banyak pilihan dalam berinvestasi dan bisa lebih agresif.
Dengan memahami profil risiko pribadi, investor dapat menyusun kebijakan investasi pribadi (investment policy statement), sehingga dapat memiliki perspektif yang lebih baik terhadap unsystematic risk serta systematic risk. Selanjutnya diharapkan pengelolaan risiko investasi dapat berjalan optimal. (Mike R. Sutikno)
Pertama, risiko menyebabkan situasi mencapai titik terendah dari suatu kondisi buruk, maka setelahnya keadaan akan berbalik berangsur-angsur menjadi baik. Kedua, tidak semua pihak merugi karena terjadinya suatu risiko, bahkan ada pihak yang beruntung karenanya. Ini menerangkan kenapa suatu investasi menurun kinerjanya, sementara yang lain justru naik. Risiko kalau begitu tidak seluruhnya buruk, dan sesungguhnya diinginkan atau tidak risiko tetap ada.
Dalam banyak hal, risiko seperti air bagi tumbuhan. Terlalu sedikit tumbuhan tak bisa hidup, terlalu banyak bisa menenggelamkan. Ada beberapa jenis risiko yang mesti kita pahami, yakni risiko sistematik (systematic risk), risiko tidak sistematik (unsystematic risk), dan risiko pribadi investor. Masing-masing memberikan kontribusi yang sama pentingnya terhadap kinerja portofolio investasi.
Risiko sistematik
Risiko sistematis merupakan risiko yang disebabkan oleh berbagai faktor makro yang memengaruhi semua perusahaan dan industri secara umum, seperti kondisi negara, nilai tukar mata uang, tingkat suku bunga, situasi politik, permintaan/penawaran pasar.
Risiko sistematis lebih susah untuk dihindari karena berkaitan dengan kondisi pasar secara keseluruhan. Contohnya, jika kondisi ekonomi negara memburuk, harga-harga kebutuhan pokok melonjak, terjadilah inflasi tinggi yang memaksa pemerintah menaikkan suku bunga dan nilai tukar rupiah pun anjlok.
Perdagangan di pasar modal dan bursa berjangka pun akan mengalami tekanan jual, akibatnya IHSG turun. Dalam kondisi seperti ini hampir seluruh instrumen investasi seperti saham, obligasi, reksa dana, unitlink, bahkan properti akan mengalami penurunan. Tak urung Anda yang berinvestasi langsung ke sektor riil atau memiliki bisnis pribadi, juga merasakan dampaknya.
Namun, tidak semua pihak merugi, sebab dalam kondisi suku bunga tinggi nasabah tabungan dan depositolah yang panen duit. Begitu juga jika Anda perhatikan harga emas, atau mereka yang menyimpan dolar. Komoditas yang mereka simpan harganya malah naik saat kondisi ekonomi bergejolak.
Untuk meminimalisasi risiko sistematik Anda bisa menjalankan strategi lindung nilai. Contoh paling sederhana adalah dengan memegang investasi alternatif berupa aset keras seperti emas, tanah bahkan uang dolar. Jadi bagilah porsi alokasi ke dalam instrumen finansial dan juga ke dalam investasi alternatif tadi secara proporsional.
Tidak sistematik
Risiko tidak sistematis merupakan risiko yang disebabkan oleh faktor mikro yang terdapat pada perusahaan atau industri tertentu dan tidak terkait dengan risiko pasar secara keseluruhan, seperti perubahan struktur permodalan, aktiva, kondisi lingkungan kerja, penurunan tingkat penjualan, kemampuan manajemen dan lain-lain, sehingga dapat memengaruhi harga saham perusahaan yang bersangkutan atau menyebabkan gagal bayar (credit/default risk) yaitu ketidakmampuan perusahaan membayar kewajiban pembayaran bunga atau pokok utangnya (obligasi).
Pengaruhnya hanya terbatas pada perusahaan atau industri tersebut. Sebagai investor, unsystematic risk dapat kita hindari dengan melakukan diversifikasi dengan strategi alokasi aset. Yaitu membagi penempatan alokasi dana ke dalam beberapa instrumen investasi dari kelas aset yang berbeda.
Jika Anda ingin lebih optimal, Anda bisa mengadaptasi gaya manajer investasi dalam mengelola reksa dana. Mereka membeli instrumen investasi dari kelas aset yang sama (saham atau obligasi) tetapi dari emiten yang berbeda.
Misalnya, menyebar penempatan saham dari 5-10 emiten yang berbeda berdasarkan kategori industrinya. Secara sederhana saya menyebutnya realokasi aset, sebab dilakukan setelah alokasi aset. Dengan diversifikasi, alokasi aset, dan realokasi aset, kita bisa meminimalisasikan risiko yang muncul dari suatu aset tertentu.
Risiko pribadi
Dalam kaitannya dengan investasi tiap orang memiliki perilaku dan respons berbeda terhadap risiko. Baik Anda berinvestasi ke saham, obligasi, properti, maupun reksa dana.
Pertimbangkanlah tingkat toleransi Anda terhadap kemungkinan kehilangan uang akibat investasi pada masing-masing kategori investasi tersebut dan bagaimana perasaaan Anda mengenai hal itu. Inilah profil risiko pribadi investor. Intinya menerangkan siapakah Anda dalam berinvestasi. Apakah termasuk tipe konservatif, moderat atau agresif.
Yang harus diketahui juga adalah bahwa profil risiko investasi seseorang tidak statis, tetapi cenderung berubah sesuai dengan siklus hidup di mana dia berada, kondisi keuangan atau hal lain yang sifatnya personal.
da beberapa variabel yang membentuk profil risiko seseorang, antara lain (a) usia. Orang muda biasanya agresif, sementara mendekati pensiun cenderung konservatif ; (b) Pengalaman & pengetahuan dalam berinvestasi. Makin banyak pengalaman berinvestasi makin luas wawasan pengetahuannya, investor cenderung makin agresif ; (c) Jangka waktu atau time horison. Biasanya ini berhubungan dengan tujuan investasinya dan kapan tujuan itu ingin dicapai. Makin pendek jangka waktu investasi, investor cenderung konservatif (e) Kemampuan menabung / jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan. Makin besar penghasilan bersih dan nilai kekayaan bersihnya, investor makin punya banyak pilihan dalam berinvestasi dan bisa lebih agresif.
Dengan memahami profil risiko pribadi, investor dapat menyusun kebijakan investasi pribadi (investment policy statement), sehingga dapat memiliki perspektif yang lebih baik terhadap unsystematic risk serta systematic risk. Selanjutnya diharapkan pengelolaan risiko investasi dapat berjalan optimal. (Mike R. Sutikno)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar