Kamis, 05 Februari 2009

Memegang prinsip dasar investasi

Jumat, 06/02/2009 10:34 WIB
Sejarah ekonomi akan mencatat dekade pertama abad ini sebagai periode yang penuh dengan kontradiksi. Pada paruh pertama dekade 2000-an, lingkungan bisnis tampak begitu menjanjikan. Optimisme melanda semua pelaku pasar. Banyak aset berisiko dan produk keuangan inovatif diciptakan dan ditawarkan dalam berbagai kemasan derivatif yang menarik.
Inilah yang dimaksud dengan mortgage-backed securities (MBS) atau asset-backed securities (ABS). Tidak terkecuali dengan produk-produk derivatif yang bersumber dari kredit perumahan kelas dua. Ironisnya, yang membeli MBS dan ABS ini bukan hanya bank melainkan juga perusahaan asuransi, dana pensiun, perusahaan investasi, dan investor individual, baik yang ada di AS maupun di luar AS.
Ketika bunga the Fed hanya 1% p.a. (dan bunga subprime mortgage sekitar 1,5%-2% di atasnya) sekitar tahun 2004 dan sebelumnya, semua pihak senang. Hampir tidak ada debitor yang gagal sehingga investor dalam produk-produk derivatif di atas juga tidak mengalami kerugian.
Keadaan mulai berubah ketika bunga the Fed dinaikkan sebanyak 17 kali berturut-turut, masing-masing 25 basis poin, hingga menyentuh angka 5,25% pada Juli 2006. Tingkat bunga ini bertahan hingga September 2007, sebelum mulai diturunkan sampai tinggal 0%-0,25% pada Desember 2008 lalu akibat mewabahnya kasus subprime mortgage mulai pertengahan 2007 lalu.
Sejak saat itu, harga produk derivatif yang berbasis realestat dan KPR turun drastis. Imbas dari macetnya kredit perumahan ini adalah semua perusahaan yang memegang produk derivatif MBS dan ABS dalam portofolionya mesti menanggung kerugian besar.
Harga saham-saham perusahaan ini ikut terjun bebas karena rendahnya harga pasar dari portofolio aset yang dimilikinya. Repotnya, anjloknya sekuritas berbasis subprime mortgage ini juga diikuti turunnya harga sebagian besar komoditas akibat lesunya pasar dan menurunnya permintaan global.
Parahnya lagi, melalui interkoneksi antarlembaga keuangan yang semakin terintegrasi, krisis keuangan yang berawal dari AS dan sejumlah negara Eropa ini dengan cepat menyebar ke pelosok dunia lainnya. Seluruh bursa saham mengalami kejatuhan sehingga kapitalisasi pasar global terpangkas 47,6% dari US$60,9 triliun pada 2007 menjadi US$31,9 triliun akhir tahun lalu. BEI juga tidak luput. Jika pada akhir 2007, total kapitalisasi pasar di BEI sebesar Rp1.988 triliun, akhir tahun lalu nilainya menyusut tinggal Rp1.029 triliun.
Dua prinsip dasar
Walaupun kondisi pasar modal begitu terpuruknya, investor mestinya menyadari kalau prinsip dasar berinvestasi dalam semua aset, baik riil (tanah, rumah, properti, emas, dan usaha) maupun finansial (saham dan obligasi) adalah sama yaitu buy low and sell high dan buy what you know and know what you buy.
Mereka yang membeli ABS dan MBS sangat mungkin gagal menerapkan prinsip kedua. Ini persis dengan yang pernah dituliskan Warren Buffet, "The fact that people will be full of greed, fear, or folly is predictable. The sequence is not predictable."
Prinsip-prinsip ini bersifat universal dan tidak lekang oleh waktu. Yang dilakukan investor cerdas sesungguhnya juga mencari aset yang nilainya (value) lebih besar daripada harganya (price). Definisi sederhananya, harga adalah sesuatu yang kita bayarkan, sedangkan nilai adalah sesuatu yang kita peroleh.
Masalahnya, tidak seperti harga yang ada di depan kita, nilai aset itu unobservable. Tidak ada formula pasti untuk ini. Kita hanya dapat mengestimasinya.
Warren Buffet bahkan mengatakan kalau kita harus memahami sebuah bisnis untuk dapat mengestimasi nilai sahamnya.
Menurut dia, sebagian dari ilmu menilai sebuah perusahaan adalah seni. Karena adanya faktor ini dan masalah asumsi tingkat diskonto dan pertumbuhan yang digunakan, semua metode yang diajarkan di buku teks tidak dapat sepenuhnya diandalkan.
Selain itu, sama seperti harga, nilai juga dapat berubah jika terjadi perubahan drastis sentimen investor atau persepsi pasar. Namun, nilai aset keuangan mestinya tidak sevolatil harganya yang dapat berubah dari menit ke menit.
Soal investasi, kita juga perlu mendengarkan ajaran Buffet yang lain, yaitu "Make the market your servant, not your guide. The market, like the Lord, helps those who help themselves. The market is there only as a reference point to see if anybody is offering to do something foolish. The dumbest reason in the world to buy a stock is because it's going up and to sell a stock because it's going down."
Obligasi global RI
Kembali ke prinsip pertama, konsep nilai versus harga. Akal sehat mengatakan kalau kondisi perekonomian kita saat ini dan 1998 sungguh jauh berbeda. Jika 10 tahun lalu inflasi mencapai 77% dengan GDP anjlok -13% dan depresiasi rupiah yang sangat dalam, tahun ini inflasi hanya sekitar 6%, sementara GDP tumbuh positif 4,5%. Hanya depresiasi rupiah yang cukup mengkhawatirkan tetapi ini juga dialami banyak mata uang lain terhadap dolar AS.
Memahami kondisi makroekonomi yang relatif masih berwarna biru ini, mestinya tidak ada kekhawatiran berlebihan dengan kondisi keuangan negara kita. Kenyataannya, fakta berbicara lain. Obligasi global RI dalam dolar AS diperdagangkan dengan harga sangat miring. Obligasi IND02 dengan kupon 7,25% p.a. yang jatuh tempo tahun 2015 sempat diperdagangkan pada harga 88,1 bulan lalu atau dengan yield lebih dari 9%.
Demikian juga IND03 yang jatuh tempo 2016 ditawarkan dengan yield bersih 9,6% p.a. minggu lalu. Bandingkan yield sebesar itu dengan bunga deposito dolar AS yang bersihnya hanya 3% p.a. Inilah contoh nilai sekuritas yang lebih tinggi daripada harganya. Menyikapi ini, banyak investor cerdas melakukan pembelian kedua obligasi itu sehingga yield pun turun. Sayangnya, Anda memerlukan dana minimum US$50.000 - US$100.000 untuk dapat membelinya. (oleh : Budi FrensidyStaf pengajar FEUI dan penulis buku).

Tidak ada komentar: