Jumat, 16/04/2010 JAKARTA (Bisnis.com): Kinerja keuangan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) selama 5 tahun terakhir pada periode 2004-2008 dinilai cenderung buruk, kendati pada 2009 perseroan itu membukukan keuntungan Rp10,35 triliun.
Anggota Komisi VII DPR M. Romahurmuziy mengungkapkan perusahaan listrik pelat merah itu mengalami kerugian cukup signifikan mencapai Rp12,30 triliun pada akhir 2008.
Padahal, pada 2004 perseroan membukukan kerugian sebesar Rp1,74 triliun.
"PLN terus merugi karena beban biaya operasional yang didominasi oleh biaya bahan bakar," ujarnya, hari ini.
Pasalnya, kata dia, rata-rata biaya bahan bakar BUMN listrik itu selama 5 tahun terakhir (2004-2008) sebesar 54%.
Dia mengatakan proporsi bahan bakar PLN pada 2004 sebesar 40%, tetapi pada 2008 membengkak menjadi 62% seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Selain karena tingginya biaya bahan bakar, menurut dia, kinerja keuangan PLN menurun juga diakibatkan oleh ketidakkonsistenan BUMN listrik itu dalam menerapkan rencana-rencananya, termasuk penggunaan gas sebagai bahan bakar pembangkit.
Dia mencontohkan dari kapasitas pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) dengan total kapasitas sekitar 9.500 MW pada 2009, hanya 40% saja yang memperoleh pasokan gas.
Sementara itu, sekitar 60% masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
"Dengan kondisi tersebut menjadikan BPP [biaya pokok penyediaan] listrik lebih mahal dari seharusnya."
Bila PLN konsisten mendapatkan pasokan gas saja, kata dia, pemerintah juga bisa menghemat hingga Rp18 triliun-Rp20 triliun setiap tahunnya.
Menurut dia, angka penghematan itu dihitung berdasarkan selisih BPP listrik yang diproduksi oleh pembangkit yang menggunakan BBM dengan gas.
Dia mengatakan biaya operasional pembangkit BBM sebesar Rp960 per kWh, sedangkan biaya bahan bakar gas Rp350 per kWh. (wiw/bisnis.com)
Anggota Komisi VII DPR M. Romahurmuziy mengungkapkan perusahaan listrik pelat merah itu mengalami kerugian cukup signifikan mencapai Rp12,30 triliun pada akhir 2008.
Padahal, pada 2004 perseroan membukukan kerugian sebesar Rp1,74 triliun.
"PLN terus merugi karena beban biaya operasional yang didominasi oleh biaya bahan bakar," ujarnya, hari ini.
Pasalnya, kata dia, rata-rata biaya bahan bakar BUMN listrik itu selama 5 tahun terakhir (2004-2008) sebesar 54%.
Dia mengatakan proporsi bahan bakar PLN pada 2004 sebesar 40%, tetapi pada 2008 membengkak menjadi 62% seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.
Selain karena tingginya biaya bahan bakar, menurut dia, kinerja keuangan PLN menurun juga diakibatkan oleh ketidakkonsistenan BUMN listrik itu dalam menerapkan rencana-rencananya, termasuk penggunaan gas sebagai bahan bakar pembangkit.
Dia mencontohkan dari kapasitas pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan pembangkit listrik tenaga gas uap (PLTGU) dengan total kapasitas sekitar 9.500 MW pada 2009, hanya 40% saja yang memperoleh pasokan gas.
Sementara itu, sekitar 60% masih menggunakan bahan bakar minyak (BBM).
"Dengan kondisi tersebut menjadikan BPP [biaya pokok penyediaan] listrik lebih mahal dari seharusnya."
Bila PLN konsisten mendapatkan pasokan gas saja, kata dia, pemerintah juga bisa menghemat hingga Rp18 triliun-Rp20 triliun setiap tahunnya.
Menurut dia, angka penghematan itu dihitung berdasarkan selisih BPP listrik yang diproduksi oleh pembangkit yang menggunakan BBM dengan gas.
Dia mengatakan biaya operasional pembangkit BBM sebesar Rp960 per kWh, sedangkan biaya bahan bakar gas Rp350 per kWh. (wiw/bisnis.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar