Ide tulisan ini datang dari posting-an mas Enda Nasution, seorang blogger, di note facebook (FB) bebera-pa waktu lalu. Dalam posting-nya waktu itu Mas Enda menampilkan data bahwa pengguna FB sudah mau menerobos angka 1 juta (total pengguna FB saat ini sekitar 160 juta).
Dalam posting Mas Enda per 27 Januari, member FB sudah mencapai 968.481 mengungguli jumlah member situs jejaring sosial tersebut di dari Malaysia dan Singapura.
Saya coba cek di situs allfacebook.com, memang per hari ini angkanya sudah lewat 1 juta, di mana pertumbuhan fantastis itu praktis terjadi dalam kurun waktu setahun terakhir.
Dari posting itu saya langsung tergelitik. Saya mengamati pertumbuhan keanggotaan facebook yang fantastis itu sebagian besar disebabkan oleh adanya efek viral atau word of mouth dari member satu ke prospek member berikutnya. Pasti Anda tidak pernah mendapati facebook pasang iklan di Bisnis Indonesia atau RCTI.
Ambil contoh apa yang saya alami. Saya masuk facebook belum genap setahun. Tapi dalam waktu yang pendek itu saya mendapati sekian banyak pengalaman yang powerful: saya bisa bercengkerama dengan teman-teman anytime, anywhre, 24 jam; saya menemukan teman-teman SMP-SMA yang sudah 15-20 tahun tidak pernah ketemu lagi; atau saya bisa berdiskusi intens dengan rekan di seluruh dunia mengenai topik-topik pemasaran yang lagi hot.
Pengalaman-pengalaman yang exciting itu saya ceritakan ke teman-teman kantor, klien, atau tetangga melalui e-mail, milis, atau ngomong langsung. Hasilnya, seperti saya, mereka pun kepincut dengan facebook, dan kemudian buru-buru buka account di situs jejaring sosial tersebut.
Dalam CROWD: "Marketing Becomes Horizontal" saya merumuskan fenomena itu dengan rumus sederhana E = wMC2, dimana E = energi marketing yang dahsyat; wM = word of mouth; C2 = Customer community, yaitu offline x online).
Jadi, energi dahsyat yang menghasilkan pertumbuhan member facebook di atas terjadi karena adanya komunitas solid yang terbangun, yang kemudian diikuti adanya promosi dari mulut ke mulut antarsesama member dan dari member ke prospect member. Menariknya, "salesman" utama yang ada di komunitas itu para "facebook evangelist".
Setiap kesempatan
Saya adalah salah satu "facebook evange-list", karena di mana pun dan di kesempatan apa pun saya selalu katakan: "Hai teman-temanku, bikinlah account facebook!!!".
Minggu lalu, misalnya, saya bicara di depan 600 orang peserta seminar buku New Wave Marketing/CROWD di Makassar. Di situ Facebook saya bedah habis-habisan; saya juga cerita bagaimana Barack Obama bisa menang pemilu karena facebook; atau bagaimana Ayat-Ayat Cinta bisa box office karena facebook.
Saya yakin setidaknya setengah dari peserta itu berpikir untuk membuka account facebook. Kenapa? Karena menurut survei ACNielsen, rekomendasi pelanggan kini menempati posisi pertama sebagai alat pemasaran yang paling ampuh mengalahkan TV, radio, dan surat kabar.
Kenapa? Karena menurut riset tersebut: "91% customers likely to buy on recommendation". Inilah kekuatan word of mouth dan customer evangelist.
Dalam CROWD, lebih lanjut saya menulis bahwa penyebaran word of mouth di dalam komunitas memiliki kekuatan "network effect" mengikuti teori Group-Forming Network, dikenal sebagai "Reed's Law" (ditemukan oleh Prof. David Reed dari MIT ). Mengacu ke teori ini saya memperkirakan pertumbuhan member FB ini akan melesat secara eksponensial, mengikuti deret ukur seiring dengan bertambahnya member yang masuk.
Artinya apa? Kalau jumlah member facebook mampu menerobos angka 1 juta bulan ini, maka tidak sampai tahun depan mungkin jumlah member facebook akan menembus angka 10 juta; dan mungkin tak sampai 2 tahun lagi jumlah member facebook akan mencapai 100 juta.
Saya pun kemudian bermimpi. Saya bayangkan 2 tahun lagi member facebook sudah mencapai 100 juta. Maka saya kira facebook sudah layak dijadikan republik, sebut saja: "Republik facebook". Namanya republik, tentu ada presidennya, ada menterinya, ada DPR-nya. Saya mau tuh ikutan "pemilu", maju jadi capres facebook.
Kalau jadi capres "Republik Indonesia" mah saya nggak berani, takut dikritik Bu Mega main yo-yo. Tapi kalau jadi capres facebook, siapa takut!!! Di samping itu jadi "president republik facebook" pasti enak. Nggak pusing, nggak stres. Soalnya pasti nggak ada korupsi, nggak ada mutilasi, nggak ada banjir, nggak ada macet. Adanya cuma satu: Cinta. (oleh : YuswohadyMarkPlus Institute of Marketing).
Dalam posting Mas Enda per 27 Januari, member FB sudah mencapai 968.481 mengungguli jumlah member situs jejaring sosial tersebut di dari Malaysia dan Singapura.
Saya coba cek di situs allfacebook.com, memang per hari ini angkanya sudah lewat 1 juta, di mana pertumbuhan fantastis itu praktis terjadi dalam kurun waktu setahun terakhir.
Dari posting itu saya langsung tergelitik. Saya mengamati pertumbuhan keanggotaan facebook yang fantastis itu sebagian besar disebabkan oleh adanya efek viral atau word of mouth dari member satu ke prospek member berikutnya. Pasti Anda tidak pernah mendapati facebook pasang iklan di Bisnis Indonesia atau RCTI.
Ambil contoh apa yang saya alami. Saya masuk facebook belum genap setahun. Tapi dalam waktu yang pendek itu saya mendapati sekian banyak pengalaman yang powerful: saya bisa bercengkerama dengan teman-teman anytime, anywhre, 24 jam; saya menemukan teman-teman SMP-SMA yang sudah 15-20 tahun tidak pernah ketemu lagi; atau saya bisa berdiskusi intens dengan rekan di seluruh dunia mengenai topik-topik pemasaran yang lagi hot.
Pengalaman-pengalaman yang exciting itu saya ceritakan ke teman-teman kantor, klien, atau tetangga melalui e-mail, milis, atau ngomong langsung. Hasilnya, seperti saya, mereka pun kepincut dengan facebook, dan kemudian buru-buru buka account di situs jejaring sosial tersebut.
Dalam CROWD: "Marketing Becomes Horizontal" saya merumuskan fenomena itu dengan rumus sederhana E = wMC2, dimana E = energi marketing yang dahsyat; wM = word of mouth; C2 = Customer community, yaitu offline x online).
Jadi, energi dahsyat yang menghasilkan pertumbuhan member facebook di atas terjadi karena adanya komunitas solid yang terbangun, yang kemudian diikuti adanya promosi dari mulut ke mulut antarsesama member dan dari member ke prospect member. Menariknya, "salesman" utama yang ada di komunitas itu para "facebook evangelist".
Setiap kesempatan
Saya adalah salah satu "facebook evange-list", karena di mana pun dan di kesempatan apa pun saya selalu katakan: "Hai teman-temanku, bikinlah account facebook!!!".
Minggu lalu, misalnya, saya bicara di depan 600 orang peserta seminar buku New Wave Marketing/CROWD di Makassar. Di situ Facebook saya bedah habis-habisan; saya juga cerita bagaimana Barack Obama bisa menang pemilu karena facebook; atau bagaimana Ayat-Ayat Cinta bisa box office karena facebook.
Saya yakin setidaknya setengah dari peserta itu berpikir untuk membuka account facebook. Kenapa? Karena menurut survei ACNielsen, rekomendasi pelanggan kini menempati posisi pertama sebagai alat pemasaran yang paling ampuh mengalahkan TV, radio, dan surat kabar.
Kenapa? Karena menurut riset tersebut: "91% customers likely to buy on recommendation". Inilah kekuatan word of mouth dan customer evangelist.
Dalam CROWD, lebih lanjut saya menulis bahwa penyebaran word of mouth di dalam komunitas memiliki kekuatan "network effect" mengikuti teori Group-Forming Network, dikenal sebagai "Reed's Law" (ditemukan oleh Prof. David Reed dari MIT ). Mengacu ke teori ini saya memperkirakan pertumbuhan member FB ini akan melesat secara eksponensial, mengikuti deret ukur seiring dengan bertambahnya member yang masuk.
Artinya apa? Kalau jumlah member facebook mampu menerobos angka 1 juta bulan ini, maka tidak sampai tahun depan mungkin jumlah member facebook akan menembus angka 10 juta; dan mungkin tak sampai 2 tahun lagi jumlah member facebook akan mencapai 100 juta.
Saya pun kemudian bermimpi. Saya bayangkan 2 tahun lagi member facebook sudah mencapai 100 juta. Maka saya kira facebook sudah layak dijadikan republik, sebut saja: "Republik facebook". Namanya republik, tentu ada presidennya, ada menterinya, ada DPR-nya. Saya mau tuh ikutan "pemilu", maju jadi capres facebook.
Kalau jadi capres "Republik Indonesia" mah saya nggak berani, takut dikritik Bu Mega main yo-yo. Tapi kalau jadi capres facebook, siapa takut!!! Di samping itu jadi "president republik facebook" pasti enak. Nggak pusing, nggak stres. Soalnya pasti nggak ada korupsi, nggak ada mutilasi, nggak ada banjir, nggak ada macet. Adanya cuma satu: Cinta. (oleh : YuswohadyMarkPlus Institute of Marketing).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar